Tuesday, February 21, 2012

DUA PERIBAHASA DENGAN “KERE”

“Kere” menurut Poerwadarminta adalah orang miskin yang mengemis. Dalam bahasa halus yang "ngenyek" (mengejek) disebut sebagai "kridha lumahing asta". Banyak orang miskin tidak mengemis demikian pula ada juga orang tidak miskin tapi mengemis, yang terakhir  ini yang disebut dengan “mental kere”.
 

KERE MUNGGAH BALE

Sopir yang biasa menjemput saya, suatu saat berceritera” “Ada juragan mobil angkutan umum menikah sama montirnya. Montir itu memang orang baik dan taat beribadah. Tapi namanya KERE MUNGGAH BALE ya pak?”

Bale bisa diartikan pendopo, balairung atau balai-balai (dipan). Kere munggah bale berarti orang rendahan yang mendapat kedudukan tinggi. “Ya, itu salah satu contoh kasus atas ungkapan  kere munggah bale. Tapi jangan selalu diartikan dengan pembantu menikah sama juragan”.

“Bapak, peribahasa itu maksudnya baik apa tidak? Sepertinya kok ngenyek (menghina) orang yang lebih rendah”

Saya jadi membayangkan seorang kere dekil, peluangnya amat kecil untuk bisa masuk ke pendopo. Baru sampai di gerbang mungkin sudah disuruh pergi oleh petugas. Kere yang bisa masuk pendopo tentunya punya kelebihan. Mulai dari kelihayan menyelinap sampai penguasaan ilmu.

Sebagai pengagum tokoh wayang Adipati Karno, rasanya Adipati Karno yang saat itu tidak dikenal sebagai anak Dewi Kunthi (ibunya Pandawa lima) tetapi anak kusir Adirata tiba-tiba diangkat jadi Narpati di Ngawangga. Apa ini bukan sejenis “kere munggah bale”. Tapi Adipati Karno memang kompeten. Ia telah menguasai banyak ilmu dengan “laku” yang sempurna. Dan ia tidak pernah terlena dengan derajat, semat dan kramat.

“Kere munggah bale samasekali tidak ngenyek. Faktanya kan hal seperti itu memang ada. Kita yang melihat harus ikut bersyukur, sekaligus bertambah yakin bahwa Allah benar-benar Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengasih. Mudah-mudahan orang itu imannya kuat. Jadi Kere munggah bale itu baik-baik saja, asal jangan sampai menjadi seperti KERE NEMONI MALEM”.


KERE NEMONI MALEM

“lalu maksudnya Kere nemoni malem apa Pak?” Si sopir kembali bertanya.

“Contoh sederhananya, kita diundang ke resepsi pernikahan, lihat makanan begitu banyak sementara hari-hari kita amat jarang lihat makanan seperti itu, maka piring kita penuhi dengan semua jenis makanan dan makan habis-habisan sampai semua jenis makanan kita santap. maka dikatakan kita makan seperti kere nemoni malem. Kata malem maksudnya maleman. Saat maleman kan makanan berlimpah-limpah."

Itulah dua peribahasa yang meminjam nama kere. “Kere munggah bale” dan “kere nemoni malem”. Kita tidak boleh iri dengan “Kere munggah bale” tetapi boleh tertawa dengan “kere munggah bale yang sekaligus kere nemoni malem” seperti dalam lakon “Petruk dadi ratu” yang saya tulis dalam Petruk: Pernah tidak kuat drajat, semat dan kramat (IwMM)
 

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST