Tuesday, July 17, 2012

AIR (BANYU) DAN UNGKAPAN JAWA (1)


Pulau Jawa yang agraris (setidak-tidaknya jaman dulu), rakyatnya pasti akrab dengan air. Tanpa air, tanaman tentu merana. Salah satu bukti keakraban dengan air, pasti banyak ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang menggunakan kata “Banyu”. Dasanama (sinonim) “banyu” cukup banyak, antara lain tirta, warih, jahnawi, ranu, sindu dan her. Yang terkait dengan “banyu” juga banyak, antara lain sungai, danau, laut dan hujan. Dalam tulisan pertama ini saya batasi ungkapan yang menggunakan kata “banyu” saja sebagai berikut:


NAMA TEMPAT

Cukup banyak nama tempat yang menggunakan kata “banyu”. Setidaknya ada dua Kabupaten berawalan “banyu” yaitu Kabupaten Banyumas di Jawa Tengah dan Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur. Belum lagi nama Kecamatan dan Desa. Kita pasti kenal nama Banyubiru, Banyudono, Banyuglugur dll.


JENIS-JENIS AIR

Maksudnya bukan air tawar atau air payau tetapi air yang digunakan untuk keperluan kesehatan atau pengobatan, misalnya:

1.    Banyu Gege: Air yang sudah dijemur di matahari pagi, kemudian dibacakan doa, digunakan untuk memandikan bayi, supaya cepat besar. Dalam kisah pewayangan maka Gatotkaca langsung jadi besar karena dimandikan dengan “banyu gege ini

2.    Banyu Windu: Air yang telah diinapkan (wayu). Tujuannya untuk dipakai mandi orang sakit supaya cepat sembuh

3.    Banyu Tangi: Air dingin dicampur air mendidih. Menjadi air hangat campuran yang dingin dengan yang panas. Juga digunakan untuk mandi orang sakit

PARIBASAN
1.    Banyu pinerang ora bakal pedhot: Diperang artinya dipotong. Mana ada air bisa dipotong. Artinya pertengkaran diantara saudara akan cepat rukun kembali. 

2.    Banyu sinaring: Air disaring. Menggambarkan orang yang amat berhati-hati dalam pergaulan. Tidak gampang percaya pada orang. Harus difilter dulu.

3.    Caruk banyu: Artinya sama dengan “nggebyah uyah” besar kecil, baik buruk, semua dianggap sama.

4.    Dadia banyu emoh nyawuk: kebencian yang sudah memuncak sehingga tidak mau lagi tegur sapa. Air amat dibutuhkan manusia. Disini ibarat air, ia tidak mau menciduk. 

5.    Dikena iwake aja buthek banyune: Tangkap ikannya jangan sampai keruh airnya. Kalau air bening menggambarkan ketenteraman masyarakat, kemudian ada penjahat masuk ke lingkungan masyarakat tersebut, maka aparat akan melakukan tindakan yang seperti peribahasa ini. Penjahat tertangkap tanpa membuat masyarakat panik. Menangkap tikus tidak perlu membakar rumah.

6.    Dom sumurup ing banyu: Dom adalah jarum. Akan sulit sekali tentunya mencari jarum yang masuk ke air. Paribasan ini adalah gambaran orang yang menyamar untuk mengetahui situasi secara diam-diam. Semacam intel atau spion.

7.    Golek banyu bening: Menggambarkan orang yang mencari guru/ilmu yang baik

8.    Kabanyurasa upaya: Orang yang kena manisnya “ruba” (pemberian dengan pamrih). Dalam bahasa sekarang: Suap, sogok.

9.    Kaya banyu karo lenga: Persaudaraan yang tidak bisa rukun

10. Lebak ilining banyu: Sudah umum, orang kecil atau lemah dijadikan sasaran/ tumpuan kesalahan

11.  Mbanyu mili: Ini sebenarnya bisa masuk kata kiasan, atau tembung entar. Kalau dikatakan: Suguhane “mbanyu mili” berarti suguhan yang keluar terus tanpa henti. Tamu akan senang kalau suguhannya seperti ini. Kalau dikatakan mantu “mbanyu mili” berati orang ini tiap tahun punya hajat mantu (tentusaja anaknya harus banyak. Ada satu lagi: gendhing yang “mbanyu mili” Dikatakan demikian bila si penggambang (gambang: salah satu jenis gamelan Jawa) pukulannya halus, runtut dan tidak berhenti. Sulit mencari penggambang demikian.

12.  Ngubak-ubak banyu bening: Air bening diobok-obok tentu jadi keruh. Arti peribahasa ini adalah orang yang membuat kerusuhan sehingga mengganggu ketenteraman masyarakat

13.  Ora ana banyu mili mandhuwur: Tidak ada air mengalir ke atas. Watak anak umumnya nunggak-semi (mengikuti) watak orang tuanya

14.  Ora njaluk banyu: Ungkapan kasar untuk mati. Dalam pentas pedhalangan kalau ada yang mau perang salah satu (biasanya yang angkara) kurang lebih akan mengatakan: “aku pluntir lehermu klakon ora njaluk banyu maneh”

15. Tunggal banyu: sering dikatakan “sedulur tunggal banyu” artinya saudara seperguruan, ilmunya sama. Misal ketemu orang kemudian bicara-bicara ternyata satu alumni. Lalu kita katakan: Jadi kita masih tunggal banyu.

16.  Wani cur-curan banyu kendhi: Orang berwudhu, harus pakai air yang suci dan mengalir. Dulu orang berwudhu menggunakan air dalam kendhi. Disamping tidak boros air juga airnya mengalir. Orang yang sudah berwudhu berarti dalam keadaan suci. Maksud peribahasa ini adalah “berani sumpah”
 
Demikianlah ungkapan-ungkapan Jawa dengan “Banyu”. Ini baru “banyu”,  hal-hal lain yang ada kaitan dengan air dapat dibaca di “Air dan ungkapan Jawa (2) (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST