Saturday, July 28, 2012

CACAT CACAT PERILAKU

Cacat yang dimaksud Ki Padmasusastra Ngabehi Wirapustaka, Surakarta, dalam Layang Madubasa, 1912 ini bukan cacat tubuh tetapi cacat kelakuan yang menyebabkan orang tidak disukai, disamping itu keburukannya bisa menjadi bahan pembicaraan orang, seperti contoh di bawah ini:
 
1.    Anak: Kalau tidak mencintai kedua orang tuanya
 
2.   Bapa (bapak): kalau tidak mengupayakan supaya anaknya pandai (catatan: menyekolahkan anak)
 
3.    Biyung (Ibu): kalau tidak mengurus anaknya (catatan: bandingkan dengan bapak)
 
4.    Budi: Kalau tidak tahu malu, selalu minta dihormati (krodha lumahing asta*)

5.    Damar (lampu): Kalau tidak terang (catatan: dulu ada lampu dengan minyak damar. tugas damar memberi penerangan. Analoginya, tugas manusia juga memberi "pepadhang" (penerangan) kepada sesama, harus bisa madhangi sing turu.
 
6.    Guru: Kalau dalam mengajar hanya mengandalkan hapalan (Catatan: maksudnya tanpa buku pegangan. Sepandai-pandai manusia, tidak boleh mengandalkan hapalan. Apalagi seorang guru yang tugasnya mentransfer ilmu)
 
7.    Kriya (pengrajin): Kalau sambungan-sambungan dalam garapannya tidak rapat atau tidak pas. Walaupun garapan dan ukiran halus, kalau sambungan tidak klop tetap tidak baik.

8.    Mangan (makan): Kalau terlalu lahap (Catatan: semua yang berlebihan tidak baik. Apalagi makan berlebihan. Dalam jangka pendek terjadi gangguan pencernakan. Dalam jangka panjang bisa terjadi kegemukan, kholesterol, darah tinggi dll)
 
9.    Melek (tidak tidur): Kalau semalam suntuk tidak tidur (Catatan: Tidur merupakan kebutuhan manusia, tetapi kelebihan tidur juga tidak baik)

10.  Mitra (teman): kalau tidak jujur dan tidak terbuka
 
11.  Mlarat (miskin): Kalau hidup tanpa perhitungan (Akibatnya akan semakin miskin)
 
12.  Pandita (pendeta; pemuka agama): kalau kurang ibadah

13.  Parentah (pemerintah): Kalau tidak adil. (Catatan: pemerintah harus ambeg adil paramarta)

14.  Punggawa (pegawai yang punya kedudukan bisa di pemerintahan bisa di kantor: kalau tidak utama (Catatan: Tidak punya kompetensi; punya kompetensi tetapi tidak punya komitmen; punya kompetensi tetapi korupsi, dll)
 
15. Raga: Hapus dengan kelakuan baik (Catatan: Orang-orang dengan cacat fisik tidak perlu rendah diri. Manusia tidak akan mencela cacat fisik orang lain kecuali kelakuannya tidak baik)
 
16.  Ratu (Raja): Tidak ada. Jeleknya raja masih lebih baik dari orang yang paling baik (mungkin ini sindiran)

17.  Satriya (Ksatria): Kalau tidak berbudi
 
19.  Sudagar (saudagar): Kalau bicaranya tidak jujur (Catatan: Saudagar memang hidup dari keuntungan. Tetapi kalau berkata hanya kembali modal padahal untungnya besar, namanya tidak jujur)

20.  Sugih (kaya): Kalau pelit (Catatan: Orang hidup harus berbagi)
 
21.  Tangi (bangun tidur): kalau kesiangan (Catatan: berarti tidur terlalu lama)
 
22.  Tani: Kalau tidak “temen” (rajin  dalam pekerjaannya olah tani)
 
23.  Turu (Tidur): Kalau samasekali tidak bergerak dan tidak rapat menutup aurat

24.  Urip (hidup): Kalau kehilangan budi baik. Walaupun kaya dan punya kedudukan terhormat, hilang nilainya sebagai manusia

KRODHA LUMAHING ASTA
 
Disebutkan pada angka 4 di atas: *) Krodha lumahing asta. Maksudnya kerja dengan menadahkan tangan. Yang sering disebut demikian, biasanya pengemis. Ki Padmasusastra di tempat lain menyebutkan bahwa orang kaya yang minta selalu dihormati (gila hormat) sama saja dengan pengemis yang kelakuannya “krodha lumahing asta” Sama-sama mintanya. Yang satu minta uang kecil, satunya lagi minta dihormati.

Cacad-cacad tersebut di atas menyangkut perilaku dan watak manusia. Perilaku masih dapat diperbaiki sepanjang ada kemauan kuat. Demikian pula watak yang buruk, seharusnya dapat diperbaiki walaupun ada peribahasa "Ciri wanci lelai ginawa mati" yang makna kasarnya, kalau sudah "gawan bayi" ya tidak bisa diubah.(IwMM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST