Wednesday, January 4, 2012

SERAT WULANGREH: “KEJUJURAN”

“Kejujuran” pada jaman “maling teriak maling” menang susah untuk dibahas apalagi dilaksanakan. Kalau saya sampaikan kepada Bapak Ibu sekalian bahwa saya ini orang jujur, Bapak dan Ibu pasti akan menertawakan saya. Kemudian ketika saya tunjukkan dengan perbuatan bahwa saya ini betul-betul jujur, misalnya dengan mengembalikan kelebihan uang kembalian Rp 20.000,-  kembali saya akan ditertawakan. “Iya wong Cuma 20 ribu. Coba 20 juta, apa ya dikembalikan?”

JUJUR = TIGA “TIDAK”: TIDAK  (NIPU, NYOLONG, BOHONG)

Jujur dalam pengertian “Honesty” menurut “Oxford English Dictionary” adalah: honesty refers to a facet of moral character and denotes positive, virtuous attributes such as integrity, truthfulness, and straightforwardness along with the absence of lying, cheating, or theft.

Intinya kembali ke “tidak bohong, tidak nipu dan tidak nyolong”, itulah “jujur” dan sulit dilaksanakan. Gebyar kehidupan dunia seolah-olah mendorong sebagian kita untuk melakukan “boninyo” (bohong-nipu-nyolong) ini. Orang-orang yang sinis memandang dunia mulai membuat kata-kata plesetan untuk kejujuran ini. Yang semula “Jujur mujur” digeser menjadi “jujur ancur” atau “jujur kojur” Mungkin William Shakespeare termasuk salah satu diantaranya. Dalam “The Winter’s Tale” ia menyebutkan “What a fool honesty is”.


SAMIAJI: ORANG PALING JUJUR

Dalam dunia pewayangan Puntadewa (Yudistira, Samiaji) raja Amartapura disebut sebagai sosok paling jujur di dunia ini. Konon darahnya berwarna putih. Di medan perang Bharatayuda, disebar rumor tentang kematian Aswatama untuk melemahkan mental Resi Dorna, ayahanda Aswatama.

Mati-matian sri Kresna membujuk Puntadewa kalau sampai ditanya Resi Dorna tentang kebenaran berita kematian Aswatama. Dengan akal sri Kresna juga lah Puntadewa menjawab pertanyaan Resi Dorna, tanpa bohong tapi ada unsur bohong juga bahwa "esti tama mati". Esti adalah "gajah". Dengan ucapan "esti" dipelankan.

“Kejujuran” seharusnyalah berada di barisan depan dari sikap, perilaku dan tindakan kita. Kapan kita mulai belajar bohong dan nyolong mestinya menarik untuk diselidiki. Dari kecil, di rumah, di sekolah dan di pelajaran agama kita selalu mendapat tuntunan tentang kejujuran. Kisah Sayidina Umar sahabat Nabi Muhammad SAW dan masih banyak sekali “wisdom stories” tentang ini.


PINOKIO: TIDAK JUJUR HIDUNG TAMBAH PANJANG

“Honesty is the first chapter of the book wisdom.” Demikian dikatakan oleh Thomas Jefferson, Presiden ke tiga Amerika Serikat. Ingat Pinokio? Memang bukan dongeng asli Indonesia. Boneka kayu yang hidup ini baru bisa berubah jadi manusia seutuhnya setelah lulus ujian hidup sebagai manusia, antara lain kejujuran dan kesetiaan. Setiap Pinokio bohong, hidung kayunya bertambah panjang.Mula-mula ia hanya "kapok lombok" pada akhirya "betul-betul kapok".


SERAT WULANGREH: TIDAK JUJUR AKAN KOJUR

Saya senang membaca Serat Wulangreh, karya Sri Pakubuwana IV salah satunya adalah karena bahasanya yang termasuk sederhana dan “cekak aos blaka suta”, as it is, tanpa banyak kata-kata bersayap apalagi plesetan. Masalah “kejujuran” terdapat pada pupuh “Gambuh” bait ke dua sebagai berikut:

Terjemahan: Jangan sampai terlanjur; Segala hal yang tidak jujur; Bila terlanjur, betul-betul kojur (sial) tidak baik; Lebih baik upayakan itu (kejujuran); Pitutur (nasihat) yang sejatinya.

Dapat kita lihat bahwa Sri Susuhunan Pakubuwana IV “Tidak” menyebut yang jujur itu kojur, justru yang tidak jujur yang kojur. Kata-kata “jujur kojur” sebenarnya memberikan sugesti negatif. Anak-anak sekarang bisa saja berpendapat bahwa jujur itu baik, tapi siapa yang mau kojur? Marilah kita tetap berpegang pada untaian kata: Becik ketitik, bener ketenger, ala ketara, salah seleh dan nora jujur sayekti kojur.

Kita kembali kepada Sri Pakubuwana IV: “Yen kebanjur sayekti kojur”. Kalimat ini masih tetap relevan untuk era sekarang dimana jujur justru tidak populer maupun ngetren. Oleh sebab itu, “Honesty is always the best policy, even when it's not the trend.”  Demikian menurut Sean Covey dalam The Seven Habit of Highly Effective Teens.


PENUTUP

Kejujuran seharusnyalah menjadi “WAHANA” (kendaraan) bukan sekedar “WACANA” (idea) menuju kehidupan dunia yang tenteram dan damai sekaligus bekal suatu saat nanti. Bagaimana mengubah “wacana” menjadi “wahana” kata teman saya yang suka “otak-atik” gampang saja: “tinggal mengganti huruf C dengan huruf H” (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST