Tuesday, July 31, 2012

KESETIAAN SEORANG WANITA: SAWITRI DAN SETIAWAN

Saat Pandawa dibuang ke hutan setelah kalah main dadu, Yudistira bertemu dengan Resi Markandeya, dan bertanya adakah wanita yang kesetiaannya dapat disejajarkan dengan Draupadi, istrinya?

Resi Markandeya pun menjawab: Adalah seorang wanita, Savitri (Jawa: Sawitri), anak raja Asvapati (Jawa: Aswapati) dari Madra. Ia menikah dengan Satyavan (Jawa: Setiawan), anak raja Dyumatsena (Jawa: Jumatsena). Sang raja telah buta, terusir dari keprabon dan tinggal di hutan sebagai brahmanaraja. Sementara Satyavan pun menurut Batara Narada telah ditentukan umurnya, tinggal satu tahun. Savitri tidak mempedulikan hal ini. Ia menanggalkan busana kerajaan dan mengikuti Satyawan tinggal di tepi hutan sebagai orang sudra.

Satu tahun kemudian tiba saatnya Dewa Yama (Jawa: Yamadipati) sang pencabut nyawa datang. Apapun upaya Savitri merayu Dewa Yama nyaris tak berhasil. Hati Yama memang luluh dengan kesantunan dan kegigihan Savitri. Ia berjanji untuk mengabulkan semua permintaan Savitri, termasuk mengembalikan kerajaan mertua yang dirampas, mengembalikan penglihatan mertua yang buta, semua dikabulkan. Tetapi ketika Savitri menyebut nama Satyavan, dewa Yama cuma geleng-geleng kepala.

Savitri menguntit perjalanan dewa Yama membawa nyawa Satyavan. Dewa Yama tetap bersikukuh: “Mintalah apapun, kecuali Satyavan”. Savitri tersadar, ia harus  mengubah taktik permintaannya: “Wahai Dewa Yamadipati, aku mohon bisa punya 100 anak”. Karena tidak menyebut nama Satyavan, Yama pun OK saja. Savitri melanjutkan: “Lalu darimana aku bisa memperoleh 100 anak kalau tidak punya suami? Tidak ada laki-laki lain di hatiku”. Yama  menyerah terhadap permintaan tidak langsung yang samasekali tidak menyebut nama Satyavan. Ia pulang ke kadewatan, dan Savitri hidup bahagia dengan suaminya sampai tua sekali dengan anak yang banyak. Kerajaan dan penglihatan mertuanya pun kembali.

Versi lain: Savitri tidak minta 100 anak tetapi minta tangguh satu tahun karena merasa belum memperlakukan suaminya dengan baik, akan menjadi aib besar baginya kalau Satyavan keburu dibawa Dewa Yama. Yama pun setuju, tapi ia lupa bahwa satu tahun untuk dewa adalah 100 tahun untuk manusia. Akhirnya Savitri dan Satyavan hidup sampai tua juga dengan keturunan yang banyak.

Kisah Savitri (Sawitri) dan Satyavan (Setiawan) versi India sama dengan yang versi Jawa. Teladan yang dapat dipetik adalah “Cinta dan kesetiaan”.

LIDING DONGENG

Kalau punya “karep” maka “ulat” harus “madhep” disertai hati yang “mantep” (Syarat punya karep: Harus ulat madhep ati mantep). Supaya “karep” dapat terlaksana, jangan menoleh kanan-kiri, jangan berubah tujuannya. Kelembutan, kesantunan, kegigihan plus akal ternyata dapat mengalahkan dewa. (IwMM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST