Wednesday, August 1, 2012

BAMBU DAN UNGKAPAN JAWA (1): PRING DAN LAGU AYO NGISING

Bambu adalah tanaman yang amat akrab dalam kehidupan orang Jawa. Tidak kalah dengan kelapa, pisang dan padi. Amat banyak perabot rumah tangga terbuat dari bambu sebelum terpinggirkan oleh saingannya yang bernama plastik. Rumah bambu (gedhek) sampai saat ini masih ada dan kasihan juga karena rumah bukan tembok berlantai tanah menjadi salah satu kriteria menetapkan kemiskinan. Walau demikian kerinduan kepada bambu rupanya muncul lagi. Banyak kita lihat hotel-hotel berbintang dan restoran-restoran ternama menghiasi interiornya dengan bambu, termasuk dinding bambu.

LAGUNYA JAHANAM (AYO NGISING)

Tentunya Bapak/Ibu pernah mendengar lagu ini “Ayo ngising ayo ngising; ning kebon ning kebon; tutupi godong pring tutupi godong pring; ndang garing ndang garing” yang dinyanyikan kelompok Jahanam. Tidak masuk akal juga, masa tinja kalau ditutup daun bambu (pring) akan cepat kering. Tapi ini kan masalah permainan “guru swara” dengan akhiran “ing” semua dalam setiap baris.

Kala itu saya mengikuti pertemuan di Thailand, kemudian ikut tour ke obyek-obyek wisata di sekitar Bangkok. Pemandu wisatanya dua, satu laki-laki dan satu perempuan. Di atas bis wisata, guide yang cewek menyapa saya: “What is your nationality, sir?” Ketika saya katakan bahwa saya orang Indonesia, dia menyambung lagi dengan ceria: “I know Indonesian song”, kemudian ia menyanyi. Saya pikir ia mau menyanyi lagu “Bengawan Solo” atau lagu-lagu Indonesia yang “go international” lainnya. Ternyata ia melantunkan “Ayo ngising, ayo ngising .....”




Si cewek Thailand mengakhiri lagunya dengan tertawa-tertawa. Ganti saya yang tanya: “You know the meaning?” “No sir, just the song”. Lalu saya jelaskan kepada si pramuwisata yang cewek itu: “Ayo, means please. Then ngising ....” saya berpikir sejenak: “Ngising means wake up”. Saya tidak terlalu bohong. Bukankah lagu ini aslinya “Are you sleeping, are you sleeping, brother John .....”

Saya pikir ceriteranya berhenti sampai di situ. Ternyata tidak. Ketika kita hampir sampai tujuan, melihat teman (Indonesia juga) yang duduk di depan saya tertidur, si guide mendekati, menepuk bahunya pelan-pelan dan berkata dengan pedhe: “Ayo ngising sir, we will arrive in one minute”. Tentusaja beberapa teman Indonesia tertawa. Sementara teman yang terjaga dari mimpinya, kelihatan bego dalam kemelut “bangun” dan “ayo ngising”.

“Rasain lu”, guman saya. Bagaimanapun hati saya senang bahwa kata “Pring” (bambu) bisa diucapkan oleh orang yang bukan Indonesia di luar Indonesia, walaupun pronounciation-nya tidak sempurna. Orang Thai banyak yang tidak fasih mengucapkan huruf “R”. (IwMM)


2 comments:

sule sule said...

ĦăªĦăĦăĦăª
Asli pak.
Menggelitik. Wake up

amri makdami said...

hahaha... ngakak saya baca tulisan sampeyan pak...
lumayan, ketawa pagi2 bikin mood kerja tambah naik

Most Recent Post

POPULAR POST