Thursday, January 26, 2012

MENYAMPAIKAN PITUTUR DENGAN WANGSALAN 1: PENGERTIAN

Orang Jawa sekarang mungkin sudah banyak yang kurang paham dengan “wangsalan” Berbeda dengan “parikan” dan “purwakanti”, maka “wangsalan” menuntut pengetahuan “vocabulary” atau perbendaharaan kata dalam bahasa Jawa yang cukup.


“Wangsalan” adalah semacam “cangkriman” atau teka-teki, bisa terdiri dari satu kalimat dengan anak kalimat atau dalam dua kalimat, bahkan juga bisa tersembunyi dalam tembang. Teka-tekinya terdapat pada anak kalimat atau pada kalimat pertama, kemudian jawabannya ketemu pada kalimat ke dua. Kita harus mampu menebak teka-teki yang disampaikan pada awal kalimat, melalui “othak-athik” yang pas. Untungnya “clue” atau petunjuk untuk jawabannya sudah disebut pada kalimat awal tersebut. “Wangsalan” yang sudah “umum” biasanya tidak dilselesaikan kalimatnya. Dianggap kita sudah mengerti maksudnya.

“Wangsalan” bisa digunakan sebagai teka-teki murni, tetapi bisa juga dipakai untuk menyindir atau memberi pitutur maupun teguran. Hal ini cocok dengan watak orang Jawa (setidak-tidaknya orang Jawa jaman dulu) yang tidak suka menyampaikan segala sesuatu secara langsung. Keterbatasan wangsalan karena hanya bisa digunakan untuk komunikasi oleh orang yang tidak sekedar bisa berbahasa Jawa tetapi harus betul-betul mengerti bahasa Jawa dan otaknya tidak “telmi” untuk mengothak-athik kata. Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bisa-bisa saja, tetapi menjadi kehilangan makna.

Sebagai contoh sederhana, misalnya saya  bertamu ke rumah seseorang yang sudah lama sekali tidak saya kunjungi atau bahkan belum pernah samasekali ke rumahnya, kemudian disambut tuan rumah dengan kata-kata: “Wah, wah, wah .... kok NJANUR GUNUNG .....”  Kalimatnya tidak dilanjutkan karena wangsalan ini sudah amat umum digunakan dalam pergaulan sehati-hari.

Saya pun senyum-senyum kecut, karena tahu lanjutan kalimat yang terhenti di kata “njanur gunung” adalah “kadiNGAREN ......” (kadingaren: tumben). Memang walaupun sudah lama jadi tetangga satu RT, saya belum pernah bertamu ke rumahnya. Apa hubungan antara NJANUR GUNUNG dan kadiNGAREN? Inilah “wangsalan”. “NJANUR GUNUNG” adalah teka-tekinya. Janur adalah daun kelapa. Janur gunung berarti pohon kelapa yang tumbuh di gunung. Jawabannya adalah pohon AREN. Sindiran “njanur gunung” maksudnya “kadingaren” alias “tumben”. Tumben kamu kesini, begitulah maksudnya.

Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: “Wah, wah, wah .... kok seperti janur gunung ....”. Sampai disini masih OK, termasuk menemukan “pohon aren”nya. Tetapi karena menggunakan bahasa Indonesia, maka jawab kita bukan “kadingaren” melainkan “tumben”. Makna wangsalannya menjadi hilang. Aren tidak “match” dengan tumben.

Mudah-mudahan dengan satu contoh ini, Bapak Ibu yang samasekali belum mengenal “wangsalan” bisa langsung paham, bahkan mampu membuat “wangsalan” sendiri. Asal sudah tahu jiwanya, rumusnya sederhana saja. Buat kalimat ke dua dulu (sebagai jawaban) baru karang kalimat pertamanya (teka-tekinya).  (IwMM)

Dilanjutkan ke Menyampaikan Pitutur Dengan Wangsalan (2): Wangsalan Sederhana

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST