Sunday, November 27, 2011

ANA CATUR MUNGKUR



Catur: pembicaraan; Mungkur: menyingkir. Dalam hal ini ada dua penafsiran tetapi saling mendukung. Penafsiran tersebut bergantung intonasi mengucapannya. Ingat kalimat “Ada jambu monyet”: Bila kita mengatakan “ADA JAMBU, monyet” maksudnya bicara pada monyet bahwa ada jambu. Lain halnya dengan “ada JAMBU MONYET”. Demikian pula halnya dengan “ana catur mungkur”.

Pengertian pertama adalah “ANA CATUR mungkur”. Berarti ada pembicaraan, dan yang dimaksud adalah pembicaraan tidak baik, tentunya mengenai seseorang yang pasti tidak ada di tempat itu. Dengan kata lain, “ngrasani”. Pastilah yang dijadikan topik “rasan-rasan” adalah hal yang kurang baik atau setidaknya dianggap kurang baik oleh yang bicara. Sementara yang bicara juga belum tentu orang baik, karena sudah diberi nasihat para sesepuh” “aja nyatur alaning liyan”, tidak usah membicarakan kejelekan orang lain, mereka tetap saja melakukan demikian. Orang yang tidak suka dengan perilaku seperti itu akan mengambil langkah: lebih baik saya “mungkur” saja. Ia menyingkir ke tempat lain, bicara seperti itu menimbulkan fitnah. Ada yang pindah tempat duduk, ada yang saking pegalnya pergi ke taman burung, mendengar kicau burung. Walaupun mungkin celoteh burung juga sedang nggosip burung yang lain, toh kita tidak tahu bahasa burung.

Pengertian kedua adalah: “ana CATUR MUNGKUR”. Disini jelas “catur mungkur” adalah pembicaraan di belakang orang yang dibicarakan. Sama saja, yang dibicarakan tidak ada di situ. Dilakukan oleh orang-orang yang “wani silit wedi rai” seperti posting saya beberapa hari yang lalu.

Pengertian kedua ini menunjukkan situasi yang terjadi, yaitu CATUR MUNGKUR. Adapun pengertian pertama menunjukkan sikap orang yang berada di situasi itu, ana catur MUNGKUR. Lebih baik pergi daripada terlibat fitnah. Ia mengambil risiko dirinya akan DICATUR juga setelah ia MUNGKUR. Tapi itu pilihan dia. Sebenarnya ia bisa memberi penerangan bahwa nggosip itu tidak baik. Plus menakut-nakuti, kalau diantara kita ada yang “tumbak cucukan” kan diadukan sama yang dirasani. Risikonya terjadi “sulaya”, pertengkaran. Sulaya yang terjadi pasti “waton sulaya”, asal adu mulut dan tanpa penyelesaian. Mungkin nasihat leluhur kita sudah pas. “Mungkur” saja, ke pojok sana, atau menyingkir jauh sekalian, ke somewhere dimana kita dapat menikmati “silence is golden”.

Dalam peribahasa Indonesia kita kenal “Mulutmu harimau kamu”, bahwa mulut kita adalah musuh yang paling besar. Demikian pula dalam bahasa Jawa kita mendengar:

Ucap sakecap kang kelahir tanpa pinikir kerep bae nuwuhake dredah lan bilahi. Mula wetune tembung satembung saka lesan iku prayoga tan udinen aja nganti nggepok prekarane wong liya, gedhene nganti gawe seriking liyan. Bisa nyandhet ucule pangucap kaya mangkono mau wis klebu ewoning pakarti kang utama. Nanging geneya ya kok ora saben wong bisa nglakoni?

TERJEMAHAN: Satu patah kata yang diucapkan tanpa dipikir lebih dahulu sering menimbulkan pertikaian dan bencana. Oleh sebab itu keluarnya kata demi kata dari mulut sebaiknya jangan sampai mengurusi perkara orang lain yang bisa menimbulkan sakit hati. Mampu mencegah lepasnya ucapan seperti itu merupakan salah satu perbuatan utama. Tetapi mengapa tidak semua orang mampu melakukannya? (IwMM)

NRIMA ING PANDUM

Nrima itu tidak “ngaya” tetapi bukannya kurang upaya. Orang “nrima” tetap berusaha agar cita-citanya tercapai. Bukannya menjadi orang yang tidak mau ikhtiar. Bila tanpa upaya samasekali, namanya bukan “nrima” lagi melainkan malas. Orang malas hanya mau enaknya tidak mau kerja kerasnya, “gelem ngemplok suthik tombok” alias mau makan tetapi tidak mau keluar biaya. Yang seperti ini adalah orang tidak tahu malu dan disingkirkan dari kehidupan masyarakat.

Bisa dibayangkan betapa menyebalkannya orang malas yang berpendirian “njagakake endhoge si Blorok”. Si Blorok adalah ayam kampung betina yang kita tunggu-tunggu telurnya. Dia akan bertelur terserah kapan dia mau. Apalagi dia cari makan sendiri di luar sana karena tidak pernah kita beri makan secara rutin.

Ada lagi mental “thenguk-thenguk nemu kethuk”. Ya memang kadang-kadang ada orang yang gampang memperoleh sesuatu tanpa kerja, tetapi kan tidak semua orang. Atau barangkali waktu kecil suka membaca “Donal Bebek” dan mengidolakan “Untung Bebek” yang selalu mendapatkan apa saja tanpa kerja, sementara Donal Bebek kerja keras tetapi selalu apes. Ketika si pemalas ini bekerja kemudian ia merasa telah kerja keras tetapi hasil yang diperoleh tidak memadai, ia cepat keluh kesah mengatakan “gupak pulute ora mangan nangkane”, dapat getahnya tidak makan nangkanya. . Lebih baik kita meneladani Donal Bebek. Bagaimanapun ia terus berupaya.

Jarang orang bisa menempatkan rasa “nrima” atas apa saja yang dicapainya. Umumnya manusia tidak pernah merasa cukup dan akan mencari tambahan. Ternyata setelah bertambah ia masih merasa kurang juga. Saat sudah berlebih-lebihan ia akan berupaya agar tidak ada orang lain yang menyamai. Manusia dengan hati seperti itu sebenarnya kasihan. Hidup selalu “ngaya”, selalu dikejar-kejar. Kemudian untuk mengejar apa yang dia inginkan ia bisa bertindak yang tidak seharusnya dan menyimpang dari perilaku benar. Sebenarnya rasa “tidak pernah puas” terhadap hasil kerja atau tugas yang sedang diemban, sepanjang tidak “ngaya” merupakan cambuk yang baik untuk kemajuan.

Perlu dicatat bahwa orang yang sudah puas dengan capaiannya belum tentu masuk katagori nrima. Ada seorang tukang becak habis nggenjot keliling-keliling kota ngantar turis bule “sightseeing” dikasih selembar uang 20 ribu langsung pulang. Padahal hari masih pagi. Masih banyak waktu dalam jam kerja normalnya yang terbuang percuma. Ini bukanlah nrima. Justru termasuk katagori pemalas.

Keuntungan orang yang mempunyai hati “nriman” selalu tenang dan tenteram hidupnya, karena semua tingkah-lakunya selalu dilandasi keyakinan yang tebal atas “kadar” pemberian Allah. “Nrima” bukan berarti puas dengan apa yang ada tetapi justru sebaliknya orang “nriman” tidak mau diam. Hanya saja tindakannya tidak pernah grusa-grusu, kemrungsung seperti orang yang “ngaya” seolah tidak mau mengakui adanya “pandum” untuk masing-masing manusia. Orang “Nrima” tidak pernah mengumpat atas hasil yang dia peroleh, karena sudah ada “pandum” dari Tuhan. Ia mengubah umpatannya dengan menghibur diri bahwa rejeki yang dia terima sudah diatur timbangannya sesuai dengan perbuatannya dan yang penting apa yang dia peroleh berasal dari perbuatan tidak tercela. (IwMM)

Thursday, November 24, 2011

WANI SILIT WEDI RAI dan TUMBAK CUCUKAN


Wani: Berani; Silit: Anus; Wedi: Takut; Rai: Wajah. “Silit” tempatnya di bagian belakang sedangkan “Rai” di bagian depan. Jelas sekali bahwa ungkapan ini berarti orang yang beraninya hanya dari belakang. Bukan berati orang yang menusuk kita dari belakang. Ungkapan ini tidak ada kaitannya dengan serangan fisik dari belakang, tetapi serangan mulut pada saat yang bersangkutan tidak ada di hadapan kita.
 

WANI SILIT WEDI RAI

Hal seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita ambil contoh ketika ibu-ibu sedang kumpul, bisa kumpul terencana seperti waktu arisan, atau kumpul tidak terencana misalnya sore-sore di depan rumah. Semula dua orang lama-lama bisa duabelas orang. Kebanyakan “ngrasani” ibu lain yang tidak ada di situ. Mulai hal kecil sampai hal besar, mulai hal umum sampai hal khusus. Ketika ibu yang dirasani tahu-tahu muncul, mungkin karena perasaan tidak enak lalu keluar rumah, atau secara kebetulan saja, pembicaraan pun tahu-tahu beralih. Bahkan mungkin memuji-muji ibu yang tadi dirasani jelek.

Apalagi di kantor, “ngrasani” bos adalah hal biasa. Bos yang baik pun bisa dirasani. Dan susahnya jarang ada orang “ngrasani” hal-hal yang baik. Mulai dari perilaku pribadi sampai perilaku kepemimpinan, atau membanding-bandingkan dengan bos terdahulu. Padahal bos yang dulu pun juga dirasani jelek. Ketika dipanggil boss atau rapat dengan boss, yang tadinya merupakan bahan “rasan-rasan” tidak muncul samasekali. Kata-kata yang banyak terdengar hanyalah: “baik, Pak”, atau “Siap Ibu”.

Di dunia pewayangan pun hal ini berlaku. Pada waktu Korawa selesai mengikuti paseban, setelah keluar kemudian menyiapkan barisan, Ki Dhalang dengan mahirnya menampilkan tokoh-tokoh yang “wani silit wedi rai” ini. Disitu ada patih Sangkuni, Dursasana, Citraksa, Citraksi, Durmagati dan lain-lain. Kalau nanti ketemu tokoh Pandawa, seperti Gatutkaca atau Antasena, sesumbarnya seperti membelah langit. Untuk mengalahkan ... “sipil” kata orang Jogja. Ketika ketemu betul, belum berperang sudah lari.


TUMBAK CUCUKAN

Ngrasani” itu nikmat, “wani silit wedi rai” itu pengecut yang aman, sepanjang tidak ada diantara kita orang yang “tumbak cucukan”. (Tumbak: Tombak; Cucuk: paruh burung). Yaitu orang yang suka “wadul-wadul” atau mengadu. Mungkin ia malah memancing-mancing untuk memperoleh bahan “wadul” nya. Orang “tumbak cucukan” biasanya sudah diketahui teman-temannya. Ia juga jadi bahan rasanan tersendiri. Dia juga punya kenikmatan tersendiri kalau bisa “wadul” dan yang “diwadulkan” bisa saja lebih besar dari ceritera yang digossipkan. Wadul tidak hanya kepada boss tetapi juga bisa kepada teman yang lain. Ia bisa dianggap sebagai mata-mata atau tukang adu domba ketika kemudian ia “wadul” sana sini.
 

KESIMPULAN

Hidup ini mestinya jangan menjadi keduanya, “wani silit wedi rai” dan “tumbak cucukan”. Persaudaraan bisa rusak, hubungan atasan bawahan juga bisa kacau. Hidup sudah penuh masalah, jangan menambah masalah lagi dengan gossip dan adu domba (IwMM).

 

WITING TRESNA JALARAN SAKA KULINA

Witing: Asal mulanya; Tresna: Cinta; Jalaran: Karena; Kulina: Terbiasa. Ya, apanya yang salah, asal mula cinta karena terbiasa. Itu kan sebuah proses yang baik, walaupun “love at the first sight” juga boleh-boleh saja. Cinta tidak hanya antara laki-laki dan perempuan, tetapi bisa mencakup banyak hal. Ketika kita disuruh “belajar menyukai apa yang kita kerjakan dan jangan mengerjakan apa yang kita sukai” maksudnya supaya “karena terbiasa menjadi suka”. Dan banyak juga orang yang dulu tidak menyukai pekerjaannya, lama-lama malah fanatik. Demikian pula seorang yang ditugaskan ke suatu daerah, katakan Maluku. Awalnya tidak suka makan sagu. Ketika kembali ke Jawa setelah sekian tahun di sana, lama-lama kangen juga sama sagu.

Sebagai sebuah proses, memang seharusnyalah demikian. Semua hal di dunia ini perlu proses, sebelum menjadi output. Masalahnya di dunia ini juga ada satu hal lagi yaitu “penyimpangan”. Contoh yang paling mudah adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Andaikan keduanya belum berkeluarga kemudian terjadi proses “witing tresna jalaran saka kulina” tentunya bagus. Dari saling kenal, terbiasa kemudian tumbuh cinta. Masalah timbul ketika mereka berdua sudah berkeluarga, dan karena pekerjaan kemudian terbiasa, akhirnya timbul cinta. Rumah tangga bisa rusak karenanya.

Satu contoh lagi, ada nasihat kalau kamu tidak merokok jangan memulainya. Rokok mengandung zat adiktif. Mulai satu hari satu batang lama-lama menjadi satu bungkus. Itu baru rokok. Bagaimana kalau minuman keras dan obat-obat terlarang. Jiwa dan raga bisa rusak karenanya.

Seorang yang terbiasa dan sudah cinta dengan hidup tenteram di desanya, akan pusing begitu masuk Jakarta. Demikian pula orang Jakarta, seminggu berada di “remote area” yang tidak ada kendaraan dan jaringan internet, bisa sinting. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi. Setelah tiga bulan di Jakarta, orang desa tersebut menjadi terbiasa dan suka. Demikian pula orang Jakarta yang tadinya tiap hari berurusan dengan facebook dan twitter, lama-lama bisa menikmati hidup tenteram tanpa barang itu.

Semua ada positif negatifnya. Marilah kita dudukkan “witing tresna jalaran saka kulina” pada tempat yang sebenarnya (IwMM)

Sunday, November 20, 2011

MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO

Mikul: memikul; Dhuwur: tinggi; Mendhem: mengubur; Jero: dalam. Kalau diterjemahkan menjadi “Memikul yang tinggi dan mengubur yang dalam”. Ungkapan ini mengandung pitutur cara bersikap seseorang kepada leluhurnya, kepada pimpinannya dan satu lagi kepada “tanah air”.

Mikul dhuwur”, pikullah yang tinggi maksudnya supaya seseorang senantiasa menjunjung tinggi nama leluhur atau pimpinan. Sebaliknya “mendhem jero”, mengandung maksud supaya kita melupakan hal-hal kurang baik leluhur kita, pimpinan kita. Kuburlah yang dalam tak usah diungkap-ungkap lagi.
 

Pitutur ini mengandung pro dan kontra. Kalau bicara leluhur, mungkin kita akan setuju. Andaikan bapak dulu penipu dan embah kala itu maling maka kita akan berupaya supaya hal-hal buruk yang terjadi pada mereka tidak kita ekspose dan tidak akan pernah membahas, syukur bisa melupakan samasekali. Sebaliknya hal-hal kecil terkait dengan kehebatan leluhur pasti akan kita sosialisasikan kemana-mana. Misalnya bahwa embah saya dulu berjuang keras siang malam supaya anak-anaknya bisa sekolah, alhasil semua anaknya menjadi orang. Kalau kita mampu, kita bisa buat buku tentang leluhur kita. Kalau kerja kerasnya menjadi maling, tentunya tidak kita ceriterakan. Andaikan terpaksa ceritera, mungkin yang kita ceriterakan bahwa embah kita dulu maling budiman. Beliau hanya menyateroni rumah Belanda dan pegawai-pegawai Belanda saja.

Ceriteranya menjadi lain ketika kita harus “mikul dhuwur mendhem jero” kepada pimpinan. Bagi yang berpendapat bahwa pimpinan adalah pengganti orang tua, atau menyadari bahwa kita sekarang bisa menjadi seperti ini tak lain adalah atas kebaikan pimpinan, maka kita akan berpendapat seperti di atas. Tetapi bagi yang berpendapat buat apa “mikul dhuwur mendhem jero” kalau yang dipikul tidak mutu dan banyak kelakuan yang tidak pantas dicontoh, tentunya yang terjadi akan bertolak belakang. Pada kesempatan kita ngrumpi bersama teman-teman, baik sambil bekerja maupun di kantin, semua akan “ngrasani” tidak baik kepada pimpinan. Mungkin di seberang sana kuping boss tiba-tiba terasa panas, yang kata orang Jawa ngalamat sedang “dirasani” orang.

Namanya “pitutur” memang tidak harus diikuti. Pitutur bukan perintah. Jadi semua orang bebas menentukan sikap masing-masing dalam “mikul dan mendhem”.

Satu hal yang jarang dibahas adalah “mikul dhuwur mendhem jero” terkait dengan “Cinta tanah air”. Siapkah kita berpendirian seperti Kumbakarna (baca “Serat Tripama”) yang dengan tegas menyatakan “Right or wrong my country”. Ia serahkan nyawanya untuk ibu pertiwi. Ada sebuah peribahasa dalam bahasa Indonesia “Dimana bumi dipijak disitu adat dijunjung”, ini adalah pernyataan “mikul dhuwur mendhem jero” yang amat mendalam terhadap bumi tempat kita berpijak yang tak lain adalah tanah air kita.

Tulisan ini saya buat di cabin pesawat GA 609 Palu – Jakarta. Kebetulan saya membaca Koran Kompas 19 Nopember yang dibagikan Pramugari. Pada berita KTT ASEAN dan ASIA TIMUR: Panser RI Amankan Pemimpin Dunia. Sebuah pemandangan membanggakan ..... kisah tentang Panser Anoa buatan RI. Apalagi saat itu hadir pula presiden Obama. Inilah “mikul dhuwur”. Mudah-mudahan andaikata ada kelemahan-kelemahan panser itu, bukan bangsa kita yang menunjuk-nunjukkannya. Barulah itu yang dinamakan “mendhem jero”. Kalau ada kelemahan ya kita perbaiki tapi tak usah kita menelanjangi diri. Perlu dicatat: ini berbeda dengan mengakui kelemahan atau kesalahan diri. Rasanya untuk “tanah air” tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata, maka harus kita bela dengan semangat “mikul dhuwur mendhem jero” (IwMM).

RESIK KERIK



Saya ditelepon teman yang bernama Ridwan: “Resik Kerik kok nggak ditulis?” Rasanya “resik kerik” ini tidak ada di buku, demikian pula di internet. Tapi caranya membuat ungkapan dengan padanan kata dan bahasanya memang gaya Jawa. Saya tanyakan maksudnya bagaimana? Dia menjelaskan secara singkat. “Oo gitu, kalau "resik kerik"  itu pituturnya bapakmu kepada kamu, OK saya tulis karena perilaku ini juga tidak pantas diteladani.

Resik” berarti bersih, dan “kerik” dulu dilakukan kalau habis potong rambut supaya “slebornya” kelihatan. Ingat jaman dulu orang yang habis potong rambut dikatakan “slebore anyar”. Untuk menggunduli kepala sampai plonthos betul, habis dicukur lalu dikerik. Benar-benar kepalanya jadi plonthos dan “kempling”.

Ada ungkapan Jawa “Tumpes tapis”, menumpas sampai ke akar-akarnya. Tapi itu arahnya untuk musuh. Yang ini kita tidak bicara tentang musuh, bukan pula orang yang tidak kita kenal karena tak ada hubungan dengan perilaku kita yang ini. “Resik kerik” justru berlaku untuk orang-orang yang dalam keseharian dekat dengan kita. Bisa saudara, teman bahkan bawahan.

Mungkin lebih tepat definisi “resik kerik” adalah “licin tandas” dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Jawa yang bukan kiasan kita kenal kata “gusis” yang artinya sama dengan “licin tandas”, habis bis tak ada sisa. Bedakan pula dengan “pitik trondhol dibubuti”. Ini juga tidak ada kaitan dengan “mbubuti bulu ayam trondhol”. Orang yang berhubungan dengan kita bisa trondhol bisa tidak trondhol tapi tidak kita “bubuti” bulunya.

Ungkapan ini digunakan untuk orang yang serakah, tidak mau menyisakan sedikitpun untuk teman. Tak ada hubungannya dengan penggede atau bukan penggede demikian pula tak selalu berhubungan dengan korupsi. Contohnya ada makanan di meja langsung saya habiskan habis-habisan. Saya tahu Ridwan belum makan tapi karena saya ingin menghabiskan ya saya habiskan. Ketika Ridwan datang ke meja makan, wah sudah “resik kerik”. Ini contoh kecil tentang makanan. Contoh lain bisa dicari sendiri.

Ketika jaman makin maju, orang melihat kerja kapal keruk, maka orang seperti ini dikatakan tipe “kapal keruk”. Bagaimanapun kapal keruk masih baik. Masih ada lumpur yang tersisa. Kemudian muncul “vacum cleaner” yang bisa menyedot debu sampai yang paling halus. Nah muncullah ungkapan baru, manusia tipe “vacum cleaner”, ini yang benar-benar “resik kerik”, licin tandas, “gusis”.

Masih adakah orang seperti ini saat ini? Orang yang tidak pernah memikirkan orang lain yang justru orang lain ini adalah kawan sendiri. (IwMM)

Wednesday, November 16, 2011

MADHANGISINGTURU: MADHANG NGISING TURU vs MADHANGI SING TURU

Judul di atas  kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sisi keindahan bahasa menjadi hilang. Lengkapnya adalah sebagai berikut: "Urip iku mbok ya aja mung madhang ngising turu nanging bisaa madhangi sing turu. (urip: hidup; aja: jangan; mung: cuma; madhang: makan; ngising: berak; turu: tidur; madhangi: memberi penerangan). Kalau di Indonesiakan menjadi: "Hidup itu jangan cuma makan, berak dan tidur; tapi bisalah memberi penerangan pada yang tidur". Maknanya ada tetapi keindahan "madhangisingturu" hilang.  Ungkapan ini akan kelihatan lebih mantap kalau ditulis dalam aksara Jawa "ha na ca ra ka".
 
MADHANG NGISING TURU
 
Orang yang hidupnya cuma "madhang, ngising, turu", tidak hanya sekedar hidup bermalas-malasan. Ada makna yang lebih luas bahwa ia sudah nyaman dengan kondisi yang ada plus ia tidak peduli pada lingkungan sekitar. Kalau hanya nyaman dengan kondisi yang ada, sudah diungkapkan Plato dalam "alegori penghuni goa". Buat apa keluar dari goa kalau semua sudah tersedia di situ mana hangat lagi di dalamnya. Plato menginginkan mereka keluar, melihat matahari dan dunia yang luas. Keluar dari goa yang gelap memang ada rasa enggan. Mata menyipit bisa juga keluar air mata diterpa sinar matahari. Angin bisa dingin, tetapi kalau sudah melihat hijaunya rumput di luar sana, ternyata kita gembira sekali seperti anak kecil melihat ibunya datang dari pasar. Jadi orang tua kita mengingatkan: "Urip iku aja mung madhang ngising turu".
 
 
MADHANGI SING TURU

Hidup tentunya harus punya visi dan misi, oleh sebab itu sesepuh kita memberi arahan: "Bisaa madhangi sing turu". Mengapa? Di luar sana banyak orang yang "turu". Yang dimaksud dengan "TURU" disini adalah orang yang masih terbelenggu dalam kebodohan, orang papa yang tidak bisa melakukan apa-apa, orang yang butuh diberi motivasi supaya timbul semangatnya dan orang yang tersesat dalam kegelapan. Maka para leluhur pun mengingatkan kita supaya cawe-cawe " MADHANGI"

"Padhang" berarti terang dan di atas telah ditulis, "madhangi" adalah memberi penerangan. Penyuluhan adalah bahasa umum dari memberi penerangan. Tetapi juga harus melakukan penggerakan supaya mereka termotivasi. Untuk kelompok tertentu harus diberikan dukungan. Contohnya bagaimana masyarakat sudah mengerti gizi dan sadar bahwa anak bergizi akan pandai sekolahnya tetapi kemampuan ekonominya amat lemah. Harus diberi pancing, supaya mampu mengail. Sudah punya pancing tapi bagaimana dapat ikan kalau tempat mengailnya tidak ada? Ya harus diciptakan lapangan kerja. Bagi yang tersesat dalam kegelapan tentunya kita tuntun ke jalan yang terang, dan tempat-tempat yang gelap Jangan dibiarkan gelap.

Nenek moyang dahulu melalui "MADHANGISINGTURU" sudah meminta kita untuk tidak diam saja, tetapi "cancut tali wanda" menyingsingkan lengan baju untuk melakukan perubahan. Saat ini pun kita sudah amat menguasai "teori perubahan",dan menyatakan diri sebagai "agent of change". Mental madhang ngising turu harus dibuang jauh dan diganti dengan madhangi sing turu.(IwMM).

DEWI SRI: Ikut Mendidik Anak



Legenda Dewi Sri ternyata bukan monopoli tanah Jawa. Ceritera serupa tapi tak sama ada di Kalimantan, Sumatra dan Semenanjung Melayu. Dalam dunia pewayangan Jawa, Dewi Sri bersama saudara laki-lakinya bernama R Sadana adalah anak raja Sri Mahapunggung dari kerajaan Medang Kamulan. Konon R Sadana mau dikawinkan tetapi tidak mau, kemudian meninggalkan istana. Dewi Sri kemudian mencari saudaranya kemana-mana. Dalam perjalanan yang penuh goda dan ancaman, setiap singgah di pedesaan, Dewi Sri selalu memberi nasihat tentang ilmu bercocok tanam padi kepada para petani di desa itu. Pada gambar di samping tampak Dewi Sri mengenakan "sepatu" menunjukkan ia bidadari atau dewa.
Sampai sekarangpun nasihat Dewi Sri masih banyak dipatuhi para petani. Mulai awal menanam sampai panen bahkan sampai padi masuk lumbung banyak ritual yang mengadopsi nasihat Dewi Sri.

Di meja makan dulu, seorang ibu akan menasihati anaknya:"Ayo nak, nasinya dihabiskan. Kalau tidak habis (bisa sambil menunjuk butir-butir nasi yang tersisa) Dewi Sri menangis. Nasihat ini tidak menakut-nakuti anak, seperti misalnya: "Ayo dihabiskan, kalau tidak habis disuntik Pak Dokter" Disini anak jadi takut Dokter. Tapi terhadap Dewi Sri, tujuannya adalah "Menghargai sang Dewi pemberi kemakmuran dan pelindung tanaman padi".

Si anak pun akan menghabiskan butir terakhir nasinya. Sampai sekarang pun masih ada orang-orang walau jabatannya tinggi kalau makan piringnya bersih. Mungkin saja dulu waktu kecil pernah ditegur ibunya, kasihan Dewi Sri. Sebaliknya banyak juga yang kita lihat terutama pada jamuan prasmanan. Ada yang ambil nasi sampai menggunung, kemudian tidak mampu menghabiskan. Orang seperti ini bukan hanya tidak hormat pada Dewi Sri, tetapi juga serakah dan tidak tahu malu. Tidak ingat pula bahwa "somewhere but not too faraway" disana, banyak orang yang untuk mendapatkan sepiring nasi harus banting tulang peras keringat, bahkan berdarah-darah dan berurai air mata.

Ada juga teguran lain untuk anak yang tak menghabiskan makanan: "Ayo nak, nanti ayamnya mati". Rasanya aneh, karena logikanya kalau makan banyak sisa mestinya ayam kita justru gemuk. Jadi yang mendidik mestinya yang dikaitkan dengan Dewi Sri. Padahal mungkin yang nangis justru ibu walaupun namanya bukan "Sri". Susah-susah bapak cari makan, hasilnya dibuang-buang.

Hal lain lagi yang bisa kita lihat, gotong royong dengan jimpitan beras bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Andaikan kita mencoba gotong royong dengan mengumpulkan nasi yang tersisa, kira-kira akan menghadilkan kesadaran, berapa rupiah uang yang kita buang percuma. Ahli gizi mungkin bisa mengatakan, berapa kalori energi yang hilang sia-sia, sementara masih banyak warga kita yang konsumsi energinya kurang.

Saat ini tidak banyak lagi orang tua memberi nama anak perempuannya dengan "Sri". Ayam pun tidak lagi dipiara di rumah. Nama "Sri" justru banyak dipakai untuk nama Rumah Makan bahkan hotel. Ketika tanaman padi banyak diserang hama khususnya wereng, kita ingat satu hal: Masihkah Dewi Sri melindungi tanaman padi kita seperti pada masanya waktu melawan celeng Kala Gumarang? Yang menjawab ternyata Didi Kempot dengan lagunya "Sri Minggat" (IwM).

Monday, November 14, 2011

SUNDAH MANDAH: Memahami "Jer Basuki Mawa Beya"


Permainan anak jaman "doeloe" umumnya bernuansa “olah raga”. Tidak jarang kita pulang bermain dengan  lutut berdarah atau kepala benjol. Bukan akibat tawuran melainkan karena jatuh atau terantuk kepalanya. Dulu kalau lima anak berkumpul, ramainya bukan main. Sekarang ini sepuluh anak bersama-sama bisa tanpa suara karena sibuk dengan permainan masing-masing yang berbasis elektronik dan komputer. "Sundah mandah" adalah salah satu contoh permainan fisik yang mendidik.



PERMAINAN FISIK, MURAH MERIAH, MENDIDIK

Ada satu contoh permainan fisik yang tidak terlalu keras. Umumnya dimainkan anak perempuan, walau bukan monopoli perempuan. Namanya “Sundah Mandah”, paling tidak yang saya kenal seperti itu. Ada yang menyebut “Sondah Mandah” ada juga yang menyebut “engklek” (meloncat dengan satu kaki). Tiap daerah pasti punya sebutan sendiri-sendiri.

Asal kata “Sundah Mandah” sudah kelihatan kalau tidak asli Indonesia apalagi Jawa. Jelas kalau dari bahasa Belanda “Zondag dan Maandag”. Konon permainan ini untuk menghapal nama-nama hari. Memang kotak-kotak permainan engklek yang paling sederhana jumlahnya tujuh kotak sesuai dengan jumlah hari. Tapi apa ya sesederhana itu?

Yang jelas permainan ini tanpa biaya. Hanya perlu menggambar kotak-kotak yang harus kita lompati dengan “engklek” atau kalau mainnya di lantai plester menggambarnya pakai kapur tulis atau arang. Jaman dulu tiap rumah pasti ada arang kayu, karena alat seterika kita pemanasnya kan arang. Kemudian butuh “gacuk” yang hanya berupa pecahan genting atau kaca (tentusaja yang tidak tajam) untuk dilempar ke petak-petak yang telah kita gambar di tanah.

Lalu “tuladha”nya dimana? Mudah-mudahan pembaca masih mengenali permainan ini, sehingga saya tidak perlu bertele-tele menjelaskan. Semua pemain akan “engklek” melompati setiap kotak. Gacuk dilempar dari satu kotak ke kotak berikutnya. Bila bisa menyelesaikan satu putaran maka mendapat bonus “sawah” (ada juga yang mengatakan “rumah”). Di sawah milik kita maka kita tidak perlu engklek, tetapi boleh meletakkan dua kaki. Sementara orang lain tidak boleh menginjak “sawah” kita. Walau demikian untuk mendapatkan “sawah” juga bukan barang gampang. Setelah “gacuk” bisa menyelesaikan satu putaran dan tentu saja kita “engklek” beberapa kali, maka kita harus melempar “gacuk” melewati kepala dengan tubuh membelakangi petak-petak “Sundah Mandah”nya. Tidak semudah itu, bisa meleset, bisa masuk sawah orang.

BELAJAR MEMAHAMI JER BASUKI MAWA BEYA

Secara tidak langsung (atau malah tidak sadar?) dulu kita dididik bahwa “Jer Basuki Mawa Beya”. Sebuah sawah bagi orang Jawa dulu nilainya amat tinggi. Sawah tidak akan datang dengan sendirinya. “Thenguk-thenguk nemu kethuk” adalah “hil yang mustahal”. Dalam “Sundah Mandah” maka “gacuk” adalah ilmu kita. Kita harus bisa melempar gacuk dengan baik sehingga tepat sasaran. Artinya manusia harus punya ilmu (sesuai kompetensi masing-masing) dan ilmu harus digunakan dengan benar supaya tidak menjadi “pinter keblinger”.

Punya ilmu saja tetapi tidak bergerak alias “thenguk-thenguk” juga tidak ada hasilnya. Ilmu harus kita gunakan untuk mencapai cita-cita, yang diibaratkan sawah atau rumah tadi. Untuk mendapatkannya kita tidak bisa jalan berleha-leha, kita harus berjuang dengan “engklek” (meloncat dengan satu kaki).

Akhirnya kita pun berhak untuk memperoleh sawah. Kita bisa bertumpu pada dua kaki dan orang lain dilarang masuk. Sayangnya, walau persyaratan untuk memiliki sawah sudah dipenuhi, belum tentu sawah bisa dimiliki. “Gacuk” harus dilempar dengan badan membelakangi lokasi sawah. Bisa saja meleset. Artinya manusia harus belajar menerima dengan lapang dada bahwa kegagalan bisa saja terjadi di ujung sukses dan perjuangan harus dimulai lagi dari awal.

Menjelang maghrib anak-anak yang bermain pada pulang. Bergandengan, ketawa-ketawa dan janjian main lagi besok pagi. Tetap guyub rukun. Walau ada yang tidak kebagian sawah, dan ada yang dapat sawah banyak. Tidak ada pikiran bahwa “kesenangan orang lain adalah malapetaka saya” (IwMM)

Sunday, November 13, 2011

MANJING AJUR AJER

Franklin Delano Roosevelt (1882-1945) adalah Presiden Amerika Serikat ke 32 yang memimpin Amerika Serikat selama 12 tahun (1933-1945). Saat itu Amerika Serikat menghadapi dua masalah besar yaitu krisis ekonomi dan Perang Dunia ke dua. Tidak bisa dibayangkan sosok yang beken dengan initial FDR ini kuat dan dipercaya memimpin selama itu, padahal beluiau juga lumpuh karena menderita polio.

ROOSEVELT

If you treat people right, they will treat you right – Ninety percent of the time”. Kata-kata bijaknya yang pertama saya temukan. Mungkin ini resep kepemimpinannya, “Perlakukan rakyat dengan baik”. Pada kesempatan lain saya baca bukunya Pockell dan Avila, “The 100 greatest leadership principles of all time” saya temukan satu lagi pitutur Roosevelt, “A good leader can’t get too far ahead of his followers”. Jadi pemimpin tidak boleh terlalu jauh dari bawahannya. Ada dua hal dari ucapan pendek Roosevelt yaitu bagaimana memperlakukan rakyat dan bawahan.

KI HAJAR DEWANTARA

Saya penasaran, masa dalam pitutur Jawa tidak ada? Ingatan saya pertama lari ke Ki Hajar Dewantara (1889-1969) masih satu generasi dengan FDR. Pendiri Taman Siswa ini pada tahun 1922 memperkenalkan pituturnya yang kesohor dan dipopulerkan lagi pada era Orde Baru “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang artinya di depan menjadi tauladan, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dukungan”. Mungkin ini yang dimaksud FDR dengan pemimpin jangan terlalu jauh meninggalkan bawahan. Pemimpin ada di depan, di tengah-tengah dan di belakang bawahan.

MAXWELL

John Maxwell”, generasi yang lebih muda (lahir 1947) seolah-olah membuat analogi motto Ki Hajar Dewantara: “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them”, pemimpin harus cukup dekat tetapi juga agak jauh dari bawahannya, supaya bawahan punya motivasi. Pengertian sederhananya tetap pemimpin tidak boleh meninggalkan bawahannya.

SCHWEITZER

Ada satu lagi quotes yang saya catat dari “Albert Schweitzer (1875-1965). Yang ini lebih tua 7 tahun dari FDR sementara FDR lebih tua 7 tahun dari Ki Hajar Dewantara. Sebuah kebetulan yang pas untuk angka 7. Ia mengatakan “Example is leadership”.

KESIMPULAN

Dengan “Othak athik gathuk” maka diperoleh Roosevelt + Maxwell + Schweitzer = RMS. Bukan RMS yang itu tapi RM Soewardi (nama kecil Ki Hajar Dewantara). Ini guyon saja lho. Yang saya maksud sebenarnya orang Amerika (Roosevelt dan Maxwell), orang Jerman (Schweitzer) dan orang Indonesia bisa menyampaikan hal yang kurang lebih sama walaupun tidak saling berkomunikasi.

Secara keseluruhan dapat saya rangkum dalam sebuah ungkapan Jawa yaitu “Manjing ajur ajer” (Manjing: Masuk; Ajur-ajer: Menyatu). Manusia harus mampu memasuki hati dan menyatu dengan sesama manusia. Dengan “manjing ajur ajer” maka kita akan diterima dimana saja, oleh siapa saja dalam kondisi apapun. Seorang pemimpin yang bisa manjing ajur-ajer akan mengetahui situasi yang sebenarnya sehingga mampu mengambil keputusan yang benar apa yang menjadi kebutuhan bawahan dan rakyatnya. Ia akan banyak teman, dicintai sekaligus dihormati dan selamat. (IwMM)

Saturday, November 12, 2011

TULADHA DARI (HOM)PIMPAH DAN PINGSUT

Keduanya merupakan cara mengundi guna memilih satu orang untuk kepentingan apa saja pada masa kanak-kanak. Ini bukan milik orang Jawa saja. Anak-anak di seluruh tanah air rasanya mengenal ini, hanya “lelagon”nya yang berbeda. Misalnya ada 7 anak sedang kumpul lalu mau main katakan “sepak sekong” maka harus dipilih satu anak yang menjadi penjaga bola sementara yang lain bersembunyi. Mulailah ber”hompimpah”. Telapak tangan tengkurap atau telentang yang sedikit, dieliminasi. Bila ada tiga yang sedikit, bisa diselesaikan dengan hompimpah. Bila sisa dua, maka “pingsut”lah penyelesaiannya.

Pingsut” memanfaatkan tiga jari tangan. Jempol mewakili gajah, telunjuk untuk manusia dan kelingking sebagai semut. Manusia kalah sama gajah dan semut kalah sama manusia rasanya dapat diterima logika dengan cepat. Ketika gajah dipecundangi semut, mulailah kita berpikir asal-muasalnya bagaimana?

Ada fabel yang menceriterakan semut dan gajah sebagai pemeran utama. Salah satu dongeng sebelum tidur dari eyang putri. Gajah takluk ketika semut masuk ke lobang telinganya. Blingsatan nabrak kemana-mana. Tangan gajah tidak bisa menjangkau telinganya. Demikian pula gajah tidak punya jari untuk mengorek lobang telinganya.

Tuladha yang kita petik kembali kepada ungkapan “jalma tan kena ingina” dan “aja dumeh”. Karena dongeng anak-anak, menjadi jelas sekali dengan personifikasi gajah dan semut. Eyang dulu mengatakan, kalau kamu besok jadi “orang” jangan meremehkan orang kecil.

Ada teman yang berceritera kalau di Jepang juga ada semacam “pingsut”. Serupa tapi tak sama dengan yang di Indonesia, mereka menyebutnya “Jankenpon”. Mainnya menurut saya lebih rumit, mungkin karena budayanya beda. “Jankenpon” menggunakan kepalan tangan mewakili “batu”, jari membentuk huruf V sebagai representasi “gunting” dan lima jari terentang melambangkan “kertas”. Kertas kalah sama gunting, tetapi menang sama batu (karena batu dapat dibungkus kertas), selanjutnya gunting kalah sama batu (barangkali karena gunting tidak mampu memotong batu yang keras itu, atau gunting kalau digepuk dengan batu akan rusak.

Kalau saya ibaratkan “gunting” adalah cendekiawan dan “batu” adalah orang kebanyakan maka ketemunya sama dengan yang dipakai anak-anak negeri kita. Jangan merasa sok pintar. Belum tentu yang tidak pintar itu tidak mempunyai kelebihan. Boleh juga untuk referensi. Cuma untuk mempraktekannya, karena tidak biasa, jadinya amat lama.

Tiba-tiba terlintas dalam otak: Di era “voting” ini kalau “voting” bisa digantikan “hompimpah” dan “pingsut” apa relevan ya. Yang jelas pasti seru, murah dan meriah. Mbah Hardjo yang ada di samping saya langsung menimpali: “Lha pemenangnya kan yang sedikit” dan disambung Toni: “Dan biasanya menang malah kena plekotho”. Memangnya kalau menang harus enak? (IwMM)

Friday, November 11, 2011

PUPUR SADURUNGE BENJUT



Kadang-kadang kalau menemukan “quotes” dari orang-orang yang berasal dari negeri “Ngatasangin” saya coba cari padanan walaupun sedikit dipadan-padankan, apa ada ungkapan bahasa Jawanya. Ternyata ya ada saja. Arnold Glason (1905-1998) dia orang Amerika. Tentunya tidak bilang “pupur sadurunge benjut” tetapi kalau didalami, ya seperti itu kira-kira yang dia sampaikan.
 

Glason  seorang “humorist” Amerika yang terkenal pada jamannya. Salah satu aktifitasnya adalah sebagai kontributor tetap pada “humor section” dalam majalah Reader’s Digest. Kata-katanya yang saya catat adalah: “One of the test of leadership is to recognize a problem before it becomes an emergency”. Tejemahan bebasnya kurang lebih: “Salah satu ujian kepemimpinan adalah mampu mengenali suatu masalah sebelum keadaan menjadi darurat”. Sebuah pesan yang jelas, sesuai dengan kepribadian orang barat yang “assertive”.
Berarti orang harus selalu melakukan analisa situasi. Dulu banyak sekali penataran mengenai hal-hal ini. Kita belajar analisis SWOT untuk mengetahui Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Kita harus mengenal ATHG, ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Dalam ilmu kedokteran kita kenal “Promotive & Preventive Medicine” guna meningkatkan kesehatan supaya tidak sakit. Bahkan melakukan “Surveillance epidemiology”, yaitu pengamatan penyakit berbasis orang, waktu dan tempat. Dengan demikian kita dapat melakukan tindakan yang tepat, pada waktu, tempat dan orang yang tepat sebelum menjadi masalah kesehatan baik keluarga maupun masyarakat.

Orang Jawa  sebenarnya juga mempunyai pitutur yang disampaikan secara tidak langsung: “Pupur sadurunge benjut” (Pupur: bedak, param; Sadurunge: Sebelum; Benjut: bengkak khusus di kepala akibat terantuk atau terpukul). Bukan berarti kalau ada risiko “benjut” lalu kita pergi kemana-mana dengan param obat teroles di jidat kita. Maksud nenek moyang kita adalah supaya kita melakukan langkah-langkah prevensi sebelum hal-hal itu menjadi masalah besar. Bagaimana kita melakukan prevensi tentunya dengan mengenal masalah sebelum terjadi masalah.

Di jalan kampung (banyak saya temukan di Surabaya) ada tulisan “Ngebut benjut”. Berarti walaupun jalan kampung itu sepi, jangan kenceng-kenceng kalau naik motor. Siapa tahu tulisan itu serius. Ada juga tulisan nyeleneh di kaca belakang mobil yang jalan nguler kambang: “nyalip benjut”. Apa akan timbul masalah kalau disalip? Kira-kira ini kok guyon, ya disalip saja.

Sekarang bulan Nopember, sudah mulai hujan. Masalah musim hujan di bidang kesehatan antara lain “demam berdarah”. Petugas Kesehatan gencar melakukan penyuluhan untuk melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Banyak juga yang tidak mengindahkan, wong nyatanya tidak apa-apa. Kalau sakit, ada dokter, ada rumah sakit.  Ketika anaknya terserang demam berdarah, ternyata blingsatan juga. Anaknya opname, harus nungguin, masih ada biaya dan waktu yang seharusnya tidak terbuang. Itu namanya “pupur sawise benjut” dan memang “pupur sawise benjut” lebih realis daripada “pupur sadurunge benjut”.  Kepala benjol karena terantuk, kita gosok pakai param kocok. Akibatnya dimanapun dan kapanpun kita selalu lengah. (IwM)

Thursday, November 10, 2011

NGULER KAMBANG DAN KEBAT KELIWAT

Uler: Ulat; Nguler: seperti ulat; Kambang: Terapung. Lalu terjemahannya apa menjadi “seperti ulat terapung?”. Ini memang bahasa Jawa yang agak sulit. Orang Jawa yang sudah tidak mengerti “wangsalan” akan sulit mereka-reka dengan logika biasa. “Wangsalan” semacam teka-teki. Kalau bisa menjawab artinya maka akan mengerti yang dimaksud. Contoh yang sederhana adalah “Njanur gunung”. Janur adalah daun kelapa. Kelapa apa yang ada di gunung? Jawabnya pohon “aren”. Dengan kata kunci “aren” kalau kita dikatakan: “Kok njanur gunung” tanpa diteruskan kata-katanya kita sudah tahu maksudnya, yaitu “Kadingaren”, (kadingaren: Tumben). Jadi kalau kita muncul setelah lama tidak kelihatan, jangan kaget kalau disapa dengan: “Njanur gunung”

Kembali ke “uler kambang” yang dimaksud adalah “lintah”. Dulu orang Jawa yang bertani di sawah amat akrab dengan lintah. Binatang seperti ulat dan berada di air atau tempat-tempat basah ini disebut sebagai “uler kambang”, ulat yang ada di air. Sekarang kita sudah tahu kata kuncinya yaitu “lintah”. Lalu apa sambungan katanya yang bunyinya mirip-mirip lintah? Mohon maaf kalau sambungannya juga bahasa Jawa: “Sak titahe, sak kersane, alon-alon. "Titah" bisa berarti bicara, bisa juga berarti jalan. Jadi kalau kita ditegur dengan “mbok jangan nguler kambang to mas” berarti kita ini dianggap lamban ya omongnya ya jalannya.

Pada jaman dulu, jaman kita tidak saling kejar dengan orang dan waktu, mungkin sifat “nguler kambang” ini masih OK. Hari saat itu masih panjang walaupun hitungan 24 jam dulu dan sekarang sama saja. “Mbok bakul” yang mau berangkat jualan di pasar, menyiapkan dengan pelan, berjalan pelan menuju pasar sambil bersendagurau dengan sesama “mbok bakul” dalam perjalanan. Pasar tidak akan pergi, yang beli akan datang dan tempatnya tidak direbut orang lain. Mau pulang juga berkemas pelan-pelan, tidak ada yang diburu yang memburu pun tidak ada. “Alon-alon waton klakon” memang ungkapan Jawa tetapi bukan milik orang Jawa saja. Dalam bahasa Indonesia ada pepatah "biar lambat asal selamat" demikian pula dalam bahasa Inggris kita kenal “Beter late than never”.
Jaman sekarang adalah “Jet Age” kita harus berpacu sekaligus bersaing. Orang yang tidak punya daya saing akan terbanting. “Mbok bakul” yang berjualan di  di kota, tidak kelihatan “nguler kambang” lagi. Bahkan sering timbul pertengkaran antar mereka. Sudah tidak banyak lagi penjual keliling  jalan kaki. Sekarang sudah naik sepeda, bahkan sepeda motor.
Sekarang kita harus serba cepat. Kalau belum, ya harus dimulai. Lebih dari 30 tahun yang lalu ketika TV masih hitam putih ada film serial “doctor Kildare” saya malah merasa heran melihat gerakan dokter dan paramedis yang setengah berlari. Saat itu saya memang jarang melihat orang lari kecuali mengejar bis atau mengejar copet. Nyetir mobil juga begitu. Dulu dengan kecepatan 60 km/jam saja sudah ditanya, apa kamu kebelet berak? Sekarang dengan kecepatan itu malah dianggap nyetirnya “nguler kambang” dan mengganggu pengendara yang lain. Klakson dari belakang bisa berdentang-dentang dan ketika mereka berhasil menyalip, kadang-kadang noleh juga, ingin tahu sopirnya kayak apa.
Kebalikan dari “nguler kambang” adalah “kebat keliwat”. Kebat: cepat, tergesa-gesa; Keliwat: terlewat. Yang ini memang bukan wangsalan, jadi tidak perlu dipikir dua kali artinya. Tidak ada teka-teki atau kata terselubung. Disini kita diingatkan, kalau kita mengerjakan sesuatu dengan buru-buru maka hati-hatilah karena pasti ada yang terlewat. Jadi: Dengan “nguler kambang” kita bisa tidak sampai-sampai ke tujuan dan dengan “kebat keliwat” kita bisa tidak kesampaian maksudnya. Pilih mana? (IwM)

Wednesday, November 9, 2011

KAKEHAN GLUDHUG KURANG UDAN

Kakehan: Terlalu banyak; Gludhug: Guntur; Udan: Hujan. Kiasan ini mengibaratkan orang yang terlalu banyak bicara, omong gede, janji kosong, tapi outputnya tidak ada. Bila omongannya disanggah sering ia tidak bisa memberi reasoning dan mungkin “escape” dengan pindah topik. Ada yang mengatakan, bila diberi argumentasi tololnya akan kelihatan. Dalam peribahasa Jawa yang lain orang seperti ini juga dikatakan "Kakehan kresek" (Kresek: suara kresek-kresek daun atau kertas yang bergeseran).

Saya pribadi kurang pas bila orang yang “kakehan gludhug” ini dianggap tolol. Suara gludhug berasal dari petir, dan petir mengandung energi listrik yang amat besar. Pohon besar kalau tersambar petir pasti hangus, apalagi manusia, kecuali Ki Ageng Sela, yang dengan kesaktiannya justru bisa menangkap petir. Jadi saya berpendapat sebaliknya. Orang yang “kakehan gludhug” ini orang pandai. Sak apes-apesnya dia pandai bicara dan merangkai kata. Rasanya tidak mungkin, ada orang pandai bicara tanpa dilandasi “knowledge”. Jadi ungkapan ini tidak sama dengan “tong kosong nyaring bunyinya”, jelas ada kata “kosong yang mengibaratkan otak yang kosong atau bodoh.

Sebenarnya hujan berasal dari mendung. Mengapa nenek moyang dulu tidak mengambil kiasan “kakehan mendung kurang udan” mungkin karena mendung tidak berteriak-teriak. Ia datang dan pergi tanpa bicara. Orang pendiam biasanya tidak menarik perhatian. Kebetulan teman dekat mendung adalah “gludhug” dan dia yang berteriak-teriak. Kalau kemudian mendung berlalu diam-diam tanpa hujan maka “gludhug” lah yang diteriaki “kakehan gludhug kurang udan”.

Ya sudah nasibnya “gludhug” kalau dia menjadi “gludhug” untuk diri sendiri maka “tangan mencencang bahu memikul”, tanggungjawab sendiri. Tapi kalau ia “gludhug” yang menjadi corong misi orang lain, maka ia bisa  “gupak pulute ora mangan nangkane” (pulut: getah).

Gludhug” yang “kurang udan ini bisa berada dimana-mana lokal maupun berjenjang mulai tingkat RT. Saya membatasi diri dengan “gludhug” lokal alias pribadi saja. Orang seperti ini bila baru kenal mungkin disenangi, karena luwes dalam pergaulan. Lama-lama orang jadi bosan dengan bualannya yang bisa memberi kesan sombong. Saat orang-orang cangkrukan di poskamling sambil  Omong Klobot yang hanya rasan-rasan ringan tentang kehidupan, tahu-tahu dia datang dan nimbrung kalau dia kenal dengan Bapak ini atau Ibu itu yang menguasai ini atau itu, kalau butuh ini itu dan seterusnya ... maka satu-persatu orang menyingkir kecuali beberapa orang yang sungkan atau terlalu baik hati.

Orang yang “kakehan gludhug kurang udan” bisa saja baik dan tidak merugikan kita, tetapi dia amat menyebalkan. Semakin menyebalkan kalau dia adalah orang yang memiliki power karena ia bisa memberi janji.  Sudah terlalu banyak hal-hal menyebalkan dalam hidup ini.. Makanya ketika dia muncul, seorang berbisik: “Den mase Toni Boster (waton muni ndobose banter) datang”. Satu-persatu pergi, ada saja alasannya. Poskamling tempat jagongan pun jadi sepi (IwM).

Tuesday, November 8, 2011

KELENGKAPAN KSATRIA JAWA PARIPURNA: WISMA, WANODYA, TURANGGA, KUKILA, CURIGA (6) - CURIGA


“Curiga” adalah keris. Perlu dicatat keris dalam pengertian ini bukanlah senjata pembunuh. Pengertian keris sebagai “sipat kandel” bukan pula berarti mistis. Keris melambangkan rasa percaya diri. Dengan keris di pinggang maka “self confidence meningkat”. Keris hanya dipakai oleh orang dewasa. Anak-anak belum bisa mengenakan keris, kecuali pada saat karnaval saja.
Hanya orang yang berjiwa ksatria nan perwira yang bisa mengenakan keris. Kecuali yang mengaku-aku perwira. Keris juga bermakna kewaspadaan. Cara orang Jawa mengenakan keris, apakah di belakang, di samping atau di depan sebenarnya menunjukkan tingkat kewaspadaan. Menempatkan di belakang sebenarnya hanya dalam suasana formal. Saat beribadah keris harus dilepas. Kalau kita melihat pasukan yang dalam kondisi siaga, maka cara memegang senjata pun berbeda sesuai tingkat kesiagaannya.
 
Kekayaan dan ilmu sebenarnya bisa dimasukkan dalam “curiga” (keris) sebagai “sipat kandel”. Ilmu dan harta akan meningkatkan rasa percaya diri. Kalau kita bicara tentang ksatria jaman sekarang tentunya tidak lagi menenteng keris kemana-mana. Yang ia bawa adalah profesionalisme sesuai bidang tugas masing-masing.
Seorang dokter Puskesmas akan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dengan menempuh pendidikan S2 atau spesialisasi. Seorang dosen muda akan bercita-cita menjadi Doktor kemudian professor. Demi ilmu dan demi meningkatkan kepercayaan diri sekaligus kepercayaan orang lain kepada mereka.
Keris bagaimanapun adalah senjata. Hakekat senjata bukan untuk membunuh orang melainkan untuk melindungi diri, rumah, keluarga, kaum lemah dan bela negara. Baik senjata yang berupa senjata beneran maupun senjata yang berupa harta atau ilmu. Dengan “curiga” maka lengkaplah “jejer satria utama yang paripurna”.
 
LIDING DONGENG
Laki-laki tua dari desa itu setelah menyruput tegukan terakhir kopinya menjelaskan  secara sederhana hakekat keris bukan sebagai “tosan aji” tetapi sebagai “tosan landhep”. Ia selalu mengatakan dalam bahasa krama yang bukan krama inggil: “Keris niku rak landhep. Mila dados tiyang ampun ngantos uteke landhep dengkul, bodho kados kebo, teng pundi-pundi boten pajeng. Keris sampeyan nggih utek sampeyan. Mulane sekolaha sing pinter”. (IwMM)

KELENGKAPAN KSATRIA JAWA PARIPURNA: WISMA, WANODYA, TURANGGA, KUKILA, CURIGA (5) - KUKILA



Episode ke 5 dari 6 tulisan: Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga

1
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (1) - Pendahuluan
2
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (2) - Wisma
3
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (3) - Wanodya
4
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (4) - Turangga
5
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (5) - Kukila
6
Kelengkapan Ksatria Jawa Paripurna: Wisma, Wanodya, Turangga, Kukila, Curiga (6) - Curiga

“Kukila” adalah burung, sebagai “klangenan” atau hobby, untuk relaksasi. Orang tua kita jaman dulu cukup arif dalam memahami pentingnya suasana santai. Seorang tidak bisa didera terus dengan tugas. Ada saatnya istirahat memulihkan “balung sungsum”.
Burung khusus yang menjadi piaraan ksatria Jawa adalah “perkutut”. Perkutut dipiara di rumah. Pengertiannya, rumah disamping fungsi yang telah disebut pada episode ke dua, adalah tempat seorang ksatria bersantai. Saat melaksanakan tugas, tidak ada kata bersantai-santai. “Fesbuk’an saat tugas tentunya tidak betul. Istirahat dilaksanakan waktu ishoma, snack sore dan tidur malam, tapi itu bukan berleha-leha.
Jaman sekarang burung sudah diganti peralatan audio(visual). Bersantai banyak alternatifnya. Pijat refleksi, karaoke, golf, renang, membaca bacaan ringan, dan masih banyak lagi. Semua baik, sepanjang dilaksanakan “for the sake of relaxation” bukan untuk kepentingan lain dan sesuai kemanpuan kita. Kalau memang merasa nyaman dengan golf, mampu dan tidak untuk pamer atau yang lainnya, apa salahnya. Kalau hanya mampu cangkrukan dengan teman-teman sekampung sambil “omong klobot” (baca posting omomg klobot) dan merasa terhibur serta tidak iri hati dengan yang mampu melakukan lebih, itu juga baik.
Kukila juga melambangkan seni dan keindahan. Hobby juga bernuansa seni. Mendengarkan musik, menyanyi, melukis, dan lain-lain. Ilmu (lihat “turangga” pada episode ke tiga) pada hakekatnya juga seni. Ilmu tanpa seni akan menjadi kering. Dengan memahami seni dan keindahan, otak kanan dan otak kiri akan seimbang. Sang ksatria akan semakin luwes dalam pelaksanaan tugasnya.
 
LIDING DONGENG:
Memang hanya kepada ibu saya ia menggunakan krama inggil. Saya yang kala itu masih mahasiswa, mungkin dianggapnya masih bocah wingi sore. Mengenai “kukila ia menjelaskan demikian”: “Wong urip kudu nyambutgawe, nanging ya kudu duwe klangenan) supaya uripe imbang. Biyen durung ana listrik ya ngingu manuk sing swarane apik, bisa nentremake pikiran. Manungsa yen pikirane tentrem, uripe luwih ayem, swasanane adhem, bisa mikir luwih premati”. (IwMM)

Most Recent Post

POPULAR POST