Tuesday, November 8, 2011

KELENGKAPAN KSATRIA JAWA PARIPURNA: WISMA, WANODYA, TURANGGA, KUKILA, CURIGA (6) - CURIGA


“Curiga” adalah keris. Perlu dicatat keris dalam pengertian ini bukanlah senjata pembunuh. Pengertian keris sebagai “sipat kandel” bukan pula berarti mistis. Keris melambangkan rasa percaya diri. Dengan keris di pinggang maka “self confidence meningkat”. Keris hanya dipakai oleh orang dewasa. Anak-anak belum bisa mengenakan keris, kecuali pada saat karnaval saja.
Hanya orang yang berjiwa ksatria nan perwira yang bisa mengenakan keris. Kecuali yang mengaku-aku perwira. Keris juga bermakna kewaspadaan. Cara orang Jawa mengenakan keris, apakah di belakang, di samping atau di depan sebenarnya menunjukkan tingkat kewaspadaan. Menempatkan di belakang sebenarnya hanya dalam suasana formal. Saat beribadah keris harus dilepas. Kalau kita melihat pasukan yang dalam kondisi siaga, maka cara memegang senjata pun berbeda sesuai tingkat kesiagaannya.
 
Kekayaan dan ilmu sebenarnya bisa dimasukkan dalam “curiga” (keris) sebagai “sipat kandel”. Ilmu dan harta akan meningkatkan rasa percaya diri. Kalau kita bicara tentang ksatria jaman sekarang tentunya tidak lagi menenteng keris kemana-mana. Yang ia bawa adalah profesionalisme sesuai bidang tugas masing-masing.
Seorang dokter Puskesmas akan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme dengan menempuh pendidikan S2 atau spesialisasi. Seorang dosen muda akan bercita-cita menjadi Doktor kemudian professor. Demi ilmu dan demi meningkatkan kepercayaan diri sekaligus kepercayaan orang lain kepada mereka.
Keris bagaimanapun adalah senjata. Hakekat senjata bukan untuk membunuh orang melainkan untuk melindungi diri, rumah, keluarga, kaum lemah dan bela negara. Baik senjata yang berupa senjata beneran maupun senjata yang berupa harta atau ilmu. Dengan “curiga” maka lengkaplah “jejer satria utama yang paripurna”.
 
LIDING DONGENG
Laki-laki tua dari desa itu setelah menyruput tegukan terakhir kopinya menjelaskan  secara sederhana hakekat keris bukan sebagai “tosan aji” tetapi sebagai “tosan landhep”. Ia selalu mengatakan dalam bahasa krama yang bukan krama inggil: “Keris niku rak landhep. Mila dados tiyang ampun ngantos uteke landhep dengkul, bodho kados kebo, teng pundi-pundi boten pajeng. Keris sampeyan nggih utek sampeyan. Mulane sekolaha sing pinter”. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST