Saturday, September 29, 2012

SERAT WULANGREH: KUMENTHUS DAN KUMAKI


Kata “kumenthus” dan “kumaki” sering diucapkan “kementhus” dan “kemaki” masih sering kita dengar dalam percakapan bahasa Jawa. Arti umumnya adalah “sombong”. Masih banyak orang yang berbahasa ibu “Jawa” mengerti hal ini. Yang bukan Jawa pun tahu mengatakan "kemaki".

Sri Pakubuwana IV memasukkan "kumenthus lawan kumaki" sebagai perilaku anak muda yang kurang bergaul dengan orang baik (Serat Wulangreh: Kelakuan “nom-noman” yang “adoh wong becik”) bersama perilaku-perilaku kuranjg baik lainnya dalam pupuh Kinanthi bait ke 8 seperti pada gambar di bawah:


Apakah  kumênthus sama dengan kumaki? Menurut saya jawabannya adalah “serupa tetapi tak sama”. Serupa karena pengertian umumnya adalah gambaran orang “sombong”, serupa pula karena menggunakan tatabahasa yang sama, yaitu sisipan “um” atau “em” yang artinya kurang lebih “berperilaku seperti .......”. Contoh sederhana misalnya: “Keminter” yang artinya bergaya seperti orang pintar, padahal jauh dari pintar.
 

KUMENTHUS


Kumenthus
Berasal dari kata “Kenthus”, yaitu sejenis katak yang bisa menggembungkan perutnya. Kataknya kecil-kecil saja, tetapi kalau pas menggelembung dia akan menjadi besar. Tidak hanya besar badannya tetapi suaranya pun menjadi besar. Kita tidak akan menyangka kalau bunyi yang keras itu dikeluarkan oleh makhluk sekecil itu.

Orang “kumenthus” adalah orang yang berlagak sok berani sepertinya dia yang paling jagoan.




KUMAKI

Kumaki

Berasal dari kata “Kaki”. Kaki dalam bahasa Jawa artinya adalah sebutan untuk orang yang sudah tua. Kalau dalam dunia pewayangan seorang pendeta sepuh menyebut “kaki prabu” kepada raja yang lebih muda usia, berarti pendeta tersebut menghormati sang raja. Walaupun muda, tetapi dituakan). Orang disebut “Kaki” tidak sekedar sebagai sebutan untuk orang yang jauh lebih tua atau dituakan, tetapi juga dianggap jauh lebih pandai.
 
Orang “kumaki” adalah orang yang berlagak sok pandai, sama dengan kuminter. Gayanya seperti orang tua bijak yang memberi pitutur luhur (padahal perilakunya tidak mendukung).


KUMENTHUS DAN KUMAKI VS ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA

Ada teman yang bertanya tentang hal ini: Apa bedanya? Penjelasannya sederhana saja. Orang "kumenthus" dan "kumaki" tidak punya kelebihan tetapi berlagak hebat. Sedangkan "adigang adigung adiguna" orangnya memang hebat sayangnya suka menonjol-nonjolkan kebolehannya. Yang pertama adalah penyakit orang muda sedangkan yang kedua bisa muda bisa tua.
 
 
EPILOG
 
"Jadi kalau gitu orang seperti mas Iwan ini sudah jauh dari kemaki ..." Komentar Toni yang dari tadi mendengar wedharan saya dengan saksama.
 
"Jangan nggunggung Ton, nalarnya gimana?" Jawab saya dengan reflek dada membusung karena dapat pujian
 
"Kumaki kan sifat anak muda yang berlagak pintar seperti kaki-kaki. Lha mas Iwan kan sudah kaki-kaki". Penjelasan Toni dengan senyum lebar.
 
"Sialan kamu, Ton. Kamu itu bar njunjung (mengangkat) terus ngantebake (menjatuhkan)". (IwMM)
 
 
CATATAN
 
Pengertian “Kumenthus” dan “Kumaki” menurut Poerwadarminta, 1939, dapat dipirsani sebagai berikut:

1.    kumênthus: kn. ak. umuk, gumêdhe, kumêndêl lsp); kc. kênthus.
2.    kênthus: kn 1 ar. kewan bngs. kintêl;
3.    kintêl: I kn. bngs. kodhok kang bisa mlêmbung.
4.    kaki: I kn. eyang ki 1 êmbah lanang; 2 br. anak anggèr (panyêbut marang wong nom kang kinasih ut. kinurmatan); wis [x]-[x] pc. wis tuwa bangêt.
5.    kumaki: kn. anbêk pintêr, kaya wong tuwa; kc. kaki.

Friday, September 28, 2012

SERAT WULANGREH: ANAK MUDA BERBAKTILAH KEPADA ORANG TUA



Pada bait ke 16 (bait terakhir) pupuh Kinanthi dalam Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV mewanti-wanti supaya anak muda berbakti lahir bathin kepada orang tua, sebagai berikut:

Adapun terjemahannya: Wanti-wanti pesan saya; kepada yang membaca serat ini; lahir batin patuhilah; isi serat ini; dan berbaktilah kepada orang tua; dari lahir sampai batin
 
 
APA HANYA PESAN UNTUK ANAK MUDA SAJA?
 
Pemahaman “poma-poma wekas ingsun; mring kang maca layang iki” bisa berlaku umum untuk semua golongan umur. Walau demikian penekanannya kepada anak muda. Mengapa demikian?

1.    Pitutur di atas disekarkan dalam Kinanthi. Jiwa tembang Kinanthi sendiri adalah untuk anak muda yang masih perlu di “kanthi” (dibimbing) kedua orang tuanya. (Tembang Macapat “All in One”)

2.    Tembang Kinanthi dalam Serat Wulangreh terdiri dari 16 bait. Bait pertama dan ke dua mengandung pesan supaya kita “nggegulang kalbu” supaya “lantip” dan ”laku mesu sarira” melalui mengurangi makan dan tidur, tidak foya-foya dan berpakaian sederhana. Ini adalah modal anak muda sebelum dia menjadi orang. (Serat Wulangreh: “Laku” supaya “ing sasmita amrih lantip”)

3.    Adapun bait ke 5 dan 6 berisi pesan untuk anak muda agar tidak bergaul dengan orang jahat (Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat)

4.    Selanjutnya bait ke 8 dan 9 memberikan ciri-ciri watak anak muda yang adoh wong becik (Serat Wulangreh: Kelakuan “nom-noman” yang “adoh wong becik”)

5.    Sedangkan bait ke 11 sd 13 mengingatkan kaum muda supaya banyak bergaul dengan orang tua (Serat Wulangreh: Diharapkan “Wong anom taberi jejagongan lan wong tuwa”)

6.    Selanjutnya dua bait terakhir (bait ke 16) dari pupuh Kinanthi di atas mewanti-wanti kita supaya berbakti lahir batin kepada orang tua. (lan dèn bêkti mring wong tuwa; ing lair prapta ing batin)

Kalau dilihat, sekuensnya memang pas. Tembang Kinanthi  melambangkan orang tua “nganthi” anaknya menapaki kehidupan dunia yang hiruk pikuk. Dimulai dengan mengisi moral dan intelektual anak dengan “laku” yang benar. Selanjutnya memberi pitutur antara lain siapa yang harus dijauhi dan siapa yang harus didekati. Terakhir diingatkan bahwa kita semua tidak boleh melupakan bakti kepada orang tua.
 
 
JANGAN MENJADI ANAK DURHAKA
 
Anak yang tidak mau mendengarkan pitutur orang tua adalah anak durhaka dan tidak akan selamat dunia akhirat. Oleh sebab itu Sri Pakubuwana IV mengingatkan anak cucu supaya taat kepada kedua orang tua. Disebutkan dalam pupuh Maskumambang bait ke 5 dan 6 sebagai berikut:
 
5. wong tan manut pitutur wong tuwa ugi | pan nêmu duraka | ing dunya tumêkèng akir | tan wurung kasurang-surang ||
 
6. maratani ing anak putu ing wuri | dèn padha prayitna | aja na kang kumawani | ing bapa tanapi biyang ||
 
Adapun terjemahannya:
 
5. Orang yang tidak mituhu pitutur orang tua; menjadi durhaka; di dunia sampai akhir; tak urung terlunta-lunta
 
6. Kepada anak cucu di kemudian hari; supaya semua waspada; jangan ada yang berani; kepada bapak dan ibu.
 
 
BILA ORANG TUA MEMBERI PELAJARAN TIDAK BAIK, JANGAN DIANUT
 
Pada pupuh Maskumambang bait ke 1 sd 4 disebutkan:
 
1. nadyan silih bapa biyung kaki nini | sadulur myang sanak | kalamun muruk tan bêcik | nora pantês yèn dèn nuta ||
 
2. apan kaya mangkono watêkan iki | sanadyan wong tuwa | yèn duwe watêk tan bêcik | miwah tindak tan prayoga ||
 
3. aja sira niru tindak kang tan bêcik | nadyan ta wong liya | lamun pamuruke bêcik | miwah tindake prayoga ||
 
4. iku pantês sira tirua ta kaki | miwah bapa biyang | amuruk watêkan bêcik | iku kaki èstokêna ||
 
Pengertian secara keseluruhan sebagai berikut: Piwulang yang tidak baik, yang disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya tidak baik, tidak perlu dituruti, walaupun mereka adalah ayah ibu kita atau sanak saudara sendiri. Sebaliknya piwulang yang baik dan disampaikan oleh orang yang watak dan perilakunya baik, walaupun disampaikan orang lain, hendaknya diikuti.
 
 
KESIMPULAN
 
Orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik, sebenarnya hanyalah kasuistik. Umumnya orang tua akan mengorbankan apa saja untuk anaknya. Itulah sebabnya dalam Serat Wulangreh: Lelima Sinembah, Sembah Lelima  maka salah satunya sembah  ditujukan kepada kedua orang tua kita (IwMM)
 

Wednesday, September 26, 2012

SERAT WULANGREH: DIHARAPKAN “WONG ANOM TABERI JEJAGONGAN LAN WONG TUWA”


Pada tulisan Serat Wulangreh: Kelakuan “Nom-noman” yang “Adoh Wong Becik disebutkan bahwa anak muda jaman sekarang jauh dari orang baik dan enggan mendengarkan pitutur:  “Lan wong anom iku; kang kanggo ing mangsa iki ....... “ kemudian “ .... nom-noman adoh wong becik; emoh angrungu carita; carita ala lan becik” 

Oleh sebab itu diharapkan anak muda rajin “duduk bersama” orang tua. Mendengarkan pitutur sekaligus berdialog. Pada pupuh Kinanthi bait ke 11 dan 12 di bawah disebutkan:
 

Terjemahan bait ke 11:

Oleh sebab itu orang muda; sebaiknya yang rajin; duduk bersama orang tua; yang mempunyai banyak ceritera; ceritera itu macam-macam; ada yang baik ada pula yang buruk.
 
Karena ada ceritera yang baik maupun buruk maka pada bait ke 12 dikatakan: Selanjutnya pada bait ke 12 dingatkan supaya ceritera yang baik dapatnya diteladani dan yang buruk disingkiri, sebagai berikut:

Yang baik ceriteranya; pastikan untuk diteladani; yang tidak baik jauhilah; jangan kalian ikuti; dan waspadalah terhadap orang yang berceritera; pada masa sekarang ini.
 

Mengapa harus waspada? Karena banyak orang yang punya ceritera banyak tetapi tidak ada manfaatnya. Hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, seperti ditulis pada bait ke 13 dengan terjemahan sebagai berikut:

Ada orang yang punya banyak ceritera; tetapi manfaatnya tidak ada; hanya dirinya sendiri; yang mendapat manfaat, demikian pula; sifat suka memanas-manasinya yang diumbar; tanpa kira-kira.
 
KESIMPULAN:
 
Anak muda dianjurkan banyak bergaul dengan orang tua karena orang tua punya pengalaman hidup yang lebih panjang dan pasti punya ceritera baik maupun buruk yang layak dijadikan contoh. Walaupun demikian dalam pergaulan dengan orang tua tetap harus hati-hati memilih orang, karena banyak juga yang punya banyak ceritera tetapi manfaatnya samasekali tidak ada (IwMM)
 

Tuesday, September 25, 2012

SERAT WULANGREH: KELAKUAN “NOM-NOMAN” YANG “ADOH WONG BECIK”


Melalui Serat Wulangreh, Sri Pakubuwana IV banyak memberikan pitutur kepada anak muda. Pada posting Serat Wulangreh: Anak muda jangan bergaul dengan orang jahat dijelaskan pentingnya memilih teman, melalui pupuh Kinanthi bait ke 5 sebagai berikut:
 
(5) yèn wong anom pan wis tamtu | manut marang kang ngadhêpi | yèn kang ngadhêp akèh bangsat | datan wurung bisa juti | yèn kang ngadhêp kèh durjana | nora wurung bisa maling ||
 
Artinya kurang lebih: Anak muda sudah pasti mengikuti siapa yang didekatnya. Kalau dekat bangsat mereka akan ikut jadi jahat. Selanjutnya sifat-sifat buruk kaum muda yang salah dalam memilih teman dijelaskan pada pupuh Kinanthi bait ke 8 dan 9, sebagai berikut:

8. lan wong anom-anom iku | kang kanggo ing môngsa iki | andhap asor dipun simpar | umbag gumunggunging dhiri | obrol umuk kang dèn gulang | kumênthus lawan kumaki ||

9. sapa sira sapa ingsun | angalunyat sarta êdir | iku lêlabête uga | nom-noman adoh wong bêcik | êmoh angrungu carita | carita ala lan bêcik ||

Dari bait ke 8 dan 9 tersebut dapat kita rinci sifat-sifat buruk tersebut adalah sebagai berikut:


Pada dua baris pertama bait ke 8 di atas, disebutkan: “Lan wong anom-anom iku; kang kanggo ing môngsa iki”. Maksudnya adalah anak muda pada jaman sekarang. Kita boleh berkelit bahwa mereka kan anak muda pada era Sri Pakubuwana IV pada abad ke 18-19. Kita kan hidup pada abad ke 21. Bagi kita yang sudah tua, marilah introspeksi apakah saat muda kita punya sifat seperti itu? Demikian pula bagi yang sekarang ini masih muda, dapatnya melakukan self assessment terhadap sifat masing-masing. Kalau ada yang seperti itu, hilangkanlah.

KESIMPULAN
 
Anak muda yang imunitasnya belum tinggi sebaiknya jangan dekat-dekat dengan orang jahat. Ada 7 butir perilaku dalam pupuh Kinanthi bait ke 8 dan 9 di atas yang intinya adalah: Kehilangan tatakrama, suka omong besar dan merasa dirinya paling hebat. Hal ini karena “nom-noman adoh wong becik; emoh angrungu carita; carita ala lan becik” (jauh dari orang baik-baik, tidak mau dengar ceritera, yang buruk maupun yang baik). Oleh sebab itu anak muda dianjurkan berteman dengan orang baik-baik dan mau mendengarkan pitutur orang tua. Dengan kata lain: Diharapkan wong anom taberi jejagongan lan wongtuwa (IwMM)

Tulisan terkait: Kumenthus dan kumaki

Sunday, September 23, 2012

MEMAHAMI “OLD SOLDIERS NEVER DIE; THEY JUST FADE AWAY” MELALUI FILOSOFI JAWA

Dalam “farewell address to a Joint Session of Congress”  pada  tanggal 19 April 1951 Jenderal Douglas MacArthur, menyampaikan kata-kata perpisahan yang sampai sekarang masih populer: “OLD SOLDIER NEVER DIE”. Bukunya ada, film di layar perak juga ada. Lebih lengkapnya sebagai berikut:


The world has turned over many times since I took the oath on the plain at West Point, and the hopes and dreams have long since vanished, but I still remember the refrain of one of the most popular barracks ballads of that day which proclaimed most proudly that old soldiers never die; they just fade away.

Terbayang seperti di film, sang Jenderal “fade away” melangkah keluar dari gedung konggres dengan tegak. Terngiang di telinga nada-nada tembang Durma dan Pangkur yang salah satu maknanya adalah  “darma” dan “mungkur”: Darma tetaplah darma walaupun sudah mungkur dari pengabdian formal kepada bangsa dan negara (Baca: Tembang Macapat “All in one”). Seperti itulah seharusnya semangat setelah orang menjadi tua dan pensiun.


ORANG TUA HARUS TETAP “WIKAN”


“Wikan” artinya “tahu”. Untuk tahu orang harus belajar. Bila kita pernah mempelajari teori “learning organization” maka belajar adalah seumur hidup. Bukan berhenti setelah kita selesai pendidikan formal. Memperoleh gelar S3 bukan berarti saatnya kita Stop karena sudah Selesai dan bisa Santai. Singkatnya orang harus tetap belajar walaupun tidak melalui sekolah resmi. Masyarakat adalah sekolah informal yang bisa membuat kita bijak. Setelah tua orang tidak boleh mengurung diri tetapi harus tetap melihat dunia luar, sehingga ia tetap “mikani rasa”  tidak “gonyak-ganyuk nglelingsemi” dalam pergaulan (Serat Wedhatama: “Biar tua harus tetap belajar”) Seperti disebutkan pada Pupuh Pangkur bait ke dua di atas


“FADE AWAY” YANG BETUL-BETUL “FADE dan AWAY”

“Fade away” kurang lebihnya berarti pupus pelahan-lahan. “Lengser keprabon madheg pandita” adalah salah satu contoh “fade away” asal benar-benar melaksanakan “dharmaning pandita” secara konsekwen. Yaitu pandita yang menjadi tempat berkonsultasi, mau memberi masukan, tetapi tidak ikut campur lagi dalam urusan keputusan. Salah-salah nanti dikatakan “Lengser keprabon ngrusuhi ratu”. Demikian pula “Fade away” bukanlah orang yang “Lengser kaprabon ganti kaprajan”. Ini kan setali tiga uang tidak ada “fade”nya dan samasekali tidak “away”.

“Fade away” juga bukan karena “mutung”. Lantaran dikecewakan kemudian kita menyingkir. Dalam hal ini ada yang  langsung lenyap. Sehingga tidak bisa dikatakan “fade” karena langsung “away”.  Ada juga yang kemudian bergabung kelompok lain dan dari situ ia “ngisruh”. Yang ini juga tidak “fade” sekaligus tidak “away”, malah "ngiwi-iwi" walaupun dia sudah “out”.


TULADHA DARI SERAT WEDHATAMA DAN SERAT WULANGREH


Dalam Serat Wedhatama, pupuh Gambuh bait ke 10 Sri Mangkunegara menekankan bahwa tugas orang tua intinya adalah memberi pitutur; siapa tahu bisa dipergunakan. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar sebelah.

Terjemahannya kurang lebih: Namun terpaksa berbicara; Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah; Siapa tahu dapat menjadi pedoman  laku utama; Siapa yang bersungguh-sungguh akan memperoleh; Anugerah kemuliaan dan kehormatan


Bila kita lihat dalam Serat Wulangreh, pupuh Girisa bait ke 21. Sri Sunan Pakubuwana IV menyebutkan bahwa usianya sudah senja dan hidup manusia belum tentu sampai seratus tahun. Lengkapnya dapat dilihat pada gambar 11

Terjemahannya kurang lebih: Saya semisal matahari; Hampir terbenam di barat waktunya; sudah dekat senja; jauh dari terbitnya; Berapa lama di dunia; Dalam kehidupan manusia; Apa sampai seratus tahun; Itulah umur manusia.



Selanjutnya pada bait ke 21 Sri Sunan Pakubuwana IV meneruskan, Oleh sebab itu saya tulis sebuah buku, saya berikan petuah kepada anak-anakku supaya dipelajari dan dipahami. Lengkapnya bait 22 dapat dilihat pada gambar di sebelah.

Terjemahannya kurang lebih: Oleh sebab itu saya ajarkan kepada; Semua anak-anakku; Saya tulis dalam tembang; Supaya semua senang; Waktu membaca; Serta merasakan ceritera; Tidak bosan menghapalkan; Ingat siang dan malam


KESIMPULAN

Prajurit tua tidak pernah mati. Tetap harus melaksanakan “dharma” yaitu kalau tidak bisa "uwur" ya "sembur", memberikan “pitutur” (nasihat) yang “luhur” bukan ngajak “udur” (bertengkar) yang muda mengingat ia sudah harus “mungkur” (mundur) karena “umur”.

Saturday, September 22, 2012

MEMAHAMI “SEMU” DALAM PITUTUR SUBASITA JAWA

Tatakrama atau subasita Jawa pada umumnya kita terima dari orang tua atau yang dituakan secara verbal. Bisa disampaikan oleh bapak ibu kita, Kakek dan nenek, Pak Dhe dan Budhe, Pak Lik dan Bu Lik, dan juga guru setelah kita masuk sekolah. Yang sering kita terima adalah: Apa yang harus dilakukan supaya kita tidak dianggap “murang tata”, tetapi tidak dijelaskan “mengapa harus demikian”
 
Bagi anak yang “mbangun turut” sama orang tua karena wajibnya orang muda adalah mematuhi apa dhawuhnya orang tua, tidak ada kata lain kecuali “ngestokaken dhawuh”. Bagi anak yang berpikiran kritis, mereka akan merasa bahwa tindak tanduknya serba tidak benar tanpa alasan yang jelas. Untuk pola pikir jaman sekarang memang sulit  dimengerti. Mengapa pitutur saja disamarkan seperti “cangkriman” (teka-teki) yang ujung-ujungnya malah bikin bingung.


PITUTUR PARA SEPUH BERDASAR PENGALAMAN TURUN-TEMURUN

Orang tua memberi pitutur karena ia pernah mengalami, seperti ditulis Ki Padmasusastra dalam Serat Madubasa (1912). Disebutkan pula, kalau orang tua dalam memberi pitutur hanya sekedar menggerakkan bibir saja sementara kelakuannya pada masa muda justru kebalikannya, lebih baik tidak usah memberi pitutur. Anak muda yang mau mengikuti petunjuk orang tua dijamin tidak akan kecewa. Lengkapnya sebagai berikut:

Pituturing wong tuwa marang wong ênom, sayogya dilakoni, amarga si tuwa wis tau ngalami yèn lakune si ênom mangkana iku nyimpang saka garising bênêr, bakal tumiba marang luput, balik si tuwa ênggone awèh pitutur aja mung saka gampange ngobahake lambe bae, yèn kalakuane dhèk ênom, mangan, nginum, madon, madat sarta main durung dimarèni, sayoga ora pitutur bae, dene wong ênom kang anduwèni watêk kaya watêke wong tuwa, iku musthikaning budi, amêsthi bakal ora kêduwung uripe.


CONTOH SEDERHANA: TULADHA DARI “BERJALAN DAN BERBICARA"
 
Ada pitutur sebagai berikut: “Yen mlaku aja rikat-rikat” (kalau berjalan jangan cepat-cepat). Disisi lain juga ada pitutur: “Yen lumaku aja rindhik-rindhik” (kalau berjalan jangan pelan-pelan). Jadi jangan terlalu cepat, sekaligus jangan terlalu pelan. Kesimpulannya langkah sedang. Lalu ukuran sedang itu seperti apa? Ya dirasakan sendiri.
 
Apa sih salahnya berjalan terlalu cepat? Kalau dipikir ada benarnya juga pitutur tersebut. Bisa-bisa orang yang melihat kita jalan terlalu cepat akan mengira bahwa kita buru-buru karena ada masalah. Dalam hal ini kita telah membuat orang lain kaget. Saya sendiri terbiasa jalan cepat. Saat saya mengikuti Diklatpim, ada teman yang memberi pitutur (bukan orang Jawa): “Mas, anda akan kelihatan lebih anggun kalau kecepatan jalannya dikurangi”. Saya pelankan langkah: “Lha kenapa Bang?” Alasan teman saya enteng saja: “Supaya nggak dikira kebelet berak”. Sejak saat itu kalau saya merasa jalan terlalu cepat, saya ingat teman saya yang satu ini.
 
Lalu apa jeleknya berjalan terlalu lambat? Ada teman wanita yang gregeten melihat laki-laki yang jalannya lambat-lambat: “Rasanya ingin nendang pantatnya”. Alasannya masuk akal juga. Kalau jalan terlalu lambat seperti tidak kelihatan greget, atau semangatnya. Bagaimana dia bisa memotivasi bawahannya kalau klelar-kleler klelat-klelet gitu. Benar juga pikir saya.
 
Demikian pula dengan berbicara. “Yen omong aja seru-seru” dan “yen omong aja lirih-lirih”. Banyak orang Jawa yang kalau ngomong lirih, barangkali maunya seperti Raden Harjuna. Saya dulu juga biasa bicara lirih. Volume bicara saya keraskan sejak saya mengawali tugas sebagai dokter puskesmas di Maluku Utara. Umur saya belum 27 tahun waktu itu. Pada hari pertama bekerja Pak mantri puskesmas yang usianya dua kali umur saya memberi nasihat:  “Pak dokter di sini jangan bicara seperti orang Jawa. Nanti dikira penakut”. Saya jawab: “Nanti kalau terlalu keras jangan-jangan dikira tidak sopan”. Pak mantri melanjutkan: “Maksud saya, pak dokter bicaranya yang keras, bukan berteriak”. Setelah saya pertimbangkan, betul juga ucapan pak mantri tua tadi. Terlalu lirih menunjukkan kelemahan.  Berteriak menunjukkan kemarahan. Jadi yang sedang-sedang saja. Kembali ke ukuran sedang itu seperti apa? Jawabnya supaya dirasakan sendiri.


NGGUTUK LOR KENA KIDUL dan KROSAK ING KENE GEDEBUG ING KANA

Ada orang yang sebenarnya mau menasihati atau nyindir (nyemoni) si A tetapi ngomongnya ditujukan kepada si B. Mungkin ia sungkan ngomong langsung ke si A. Dengan bicara ke si B ia berharap si A bisa menangkap apa yang ia maksud. Dalam paribasan Jawa hal seperti ini disebut NGGUTUK LOR KENA KIDUL (memukul ke utara kena yang di selatan) atau KROSAK ING KENE GEDEBUG ING KANA (suara di sini jatuhnya di sana).

Cara seperti ini agak susah untuk sampai ke alamat sebenarnya. Sudah ngomongnya semu, masih tidak langsung ke orangnya. Bisa saja si alamat tahu tetapi pura-pura tidak tahu, bisa juga ia termasuk orang yang tidak tanggap ing sasmita.


LIDING DONGENG
 
Mengapa orang tua Jawa memberi pitutur sering tidak langsung tanpa penjelasan, kemungkinan karena sudah terbawa watak Jawa yang memang demikian. “Jawa panggonane semu”. Apa ya orang Jawa harus kehilangan “semu”. Jaman memang sudah berubah. “Semu” tidak harus berubah. Penerapannya saja yang perlu “empan papan” (IwMM)

Thursday, September 20, 2012

SESIKU TELUNG PRAKARA MENURUT SERAT WULANGREH: AJA ANGGUNGGUNG, AJA NACAD KEPATI-PATI LAWAN AJA MEMAONI BARANG KARYA


Berjalan peliharalah kaki, berbicara peliharalah lidah. Demikian dikatakan peribahasa Indonesia. Maksudnya orang supaya berhati-hati baik dalam berjalan maupun berbicara. Sesiku telung prakara: Nggunggung, Nacad dan Memaoni  termasuk solah dari bawa (ucapan) kita, merupakan perilaku yang akrab dengan laku-linggih kita sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Satu hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Mulut kita satu dan telinga kita dua tetapi mengapa kita lebih suka bicara daripada mendengar. 

Kumpulan  pitutur yang terkait dengan ketiga hal tersebut, dan termasuk banyak,  dapat dibaca pada: Pitutur Kumpulan 2: Mencela dan ngrasani, kemudian Pitutur Kumpulan 3: Pujian, umpakan dan tembung lamis

Mengenai nacad, nggunggung dan memaoni ini, Sri Pakubuwana IV menyebut sebagai "sesiku telung prakara" (tiga macam aib) dalam pupuh Durma bait ke 4 dan 5 sebagai berikut:


 
NGGUNGGUNG
 

Mengapa kita diingatkan untuk ... aja anggunggung sirèki ... (sireki: Anda) dapat dibaca pada pupuh Durma bait ke 9 seperti pada gambar di sebelah.

Terjemahan bebasnya kurang lebih:
 
(9) Jangan terlalu cepat memuji kalau belum jelas baik buruknya manusia. Kalau ternyata tidak benar, justru akan menjadi cela bagi diri kita (cirinireki).
 
Mengenai orang yang suka nggunggung (suka memuji berlebihan) dan orang yang suka digunggung (suka dipuji-puji) dapat dibaca pada posting:

1.    Serat Wulangreh: Jangan menjadi orang gunggungan Intinya, orang yang termakan “gunggung” akan hilang akalnya seperti disebutkan dalam pupuh Gambuh bait ke 12: yèn wong anom puniku | kakehan panggunggung dadi kumprung | pêngung bingung wêkasane pan angoling | yèn dèn gunggung muncu-muncu | kaya wudun mèh macothot || Tapi digunggung itu nikmat, jadi kita akan terlena dibuatnya.

2.    Serat Wulangreh: Orang nggunggung tentu ada maunya. Dalam hal ini kepada orang yang suka nggunggung Sri Susuhunan memarahi Dalam Pupuh Gambuh bait ke 14: Yen wong mangkono iku, nora pantes cedhak mring wong agung, nora wurung anuntun panggawe juti, nanging ana pantesipun, wong mangkono didhedheplok

NACAD KEPATI-PATI DAN MEMAONI BARANG KARYA

Pada pupuh Durma bait ke 4 di atas kita diminta untuk .... aja  nacad kapati-pati dan pada bait ke 5-7 di sebelah disebutkan  lawan aja mêmaoni barang karya. Nacad dan memaoni mempunyai kesamaan arti yaitu mencela. Terus terang saya kesulitan juga membedakan antara keduanya. Tetapi kalau melihat kalimatnya, bisa kita bedakan bahwa yang pertama adalah "nacad kepati-pati", mencela berlebihan (berlaku umum) dan yang kedua mencela hasil pekerjaan orang (barang karya).

Terjemahan bebasnya secara keseluruhan kurang lebih:
(5) Jangan sedikit-sedikit mencela pekerjaan orang; sedikit saja gerakan manusia selalu dicela; pada jaman ini jadi  lumrah kalau banyak orang pandai mencela
(6) Hanya kelakuan sendiri yang tidak dicela; karena merasa paling benar; senaliknya walaupun benar, kalau yang melakukan orang lain,  selalu dianggap salah; begitulah yang lumrah terjadi sekarang ini; yang dipakai adalah kebenaran pribadi yang sepihak
(7) Tidak ada perbuatan yang lebih mudah; seperti  orang yang suka mencela; ingatlah kalian semua; jangan suka mencela; Kepada siapa saja yang lupa, sebaiknya semua mengupayakan kebaikan.


PENCELA SAMA DENGAN SETAN NUNJANG-NUNJANG DAN DAHWEN (ATI) OPEN
Orang yang suka mencela (memadha) dalam pupuh Kinanthi bait ke 14 dikatakan sebagai orang yang menuruti benarnya sendiri, merasa dirinya paling pandai, ibaratnya seperti setan nunjang-nunjang, tidak pantas didekati. Demikian pula pada bait ke 15, si tukang mencela diibaratkan seekor anjing yang dahwen (ati) open, mencela tetapi menginginkan (mungkin maksudnya anjing menggonggong = orang mencela). Sebaiknya kita jangan berdekatan dengan orang seperti ini supaya tidak ketularan. Lengkapnya pupuh Kinanthi bait ke 14 dan 15 sebagai berikut:
 
 KESIMPULAN
Salah satu tantangan hubungan antar manusia pada abad ke 21 ini sepertinya adalah “tidak adanya hal yang benar walaupun mungkin hal tersebut belum tentu salah”. Memuji. padahal belum tentu yang dipuji baik. Mencela, padahal yang dicela belum tentu jelek. Pada pupuh Durma bait ke 11 dan 12 disebutkan:

Terjemahan bebasnya kurang-lebih:
(11) Kalau bisa jangan memuji maupun mencela; pada jaman sekarang semua yang tidak disenangi dicela habis-habisan; tidak ada pikiran yang prasaja.
(12) Rukun dan baik hanya di depan; dibelakang “ngrasani” yang tidak-tidak; yang baik maupun yang buruk semua “dirasani” tidak pakai empan-papan; tumbuhlah kesedihan

(catatan: “wirangrong”: Artinya adalah Kesedihan; sekaligus disini merupakan “kode” bahwa pupuh berikutnya adalah pupuh “wirangrong”)
Tidak “nggunggung”, tidak “nacad kepati-pati” dan tidak “memaoni barang karya”   berarti “sikap diam memang betul-betul emas”. Oleh sebab itu jadilah orang yang anteng, meneng, jatmika. (IwMM)

Wednesday, September 19, 2012

SERAT WULANGREH: WATAK MANUSIA “DITENGERI” DARI “LAKU, LINGGIH” DAN “SOLAH MUNA-MUNI” NYA


Manusia harus menjaga perilaku dan mulutnya. Manusia, siapapun dia: Yang pandai maupun yang bodoh, yang luhur dan yang rendah, yang miskin dan yang kaya, ulama maupun orang yang berlaku maksiat, penjahat dan penjudi, laki-laki maupun perempuan, tidak terkecuali.

Semua dilihat dari perilaku mulai duduk sampai berdiri  dan mulutnya. Dalam bahasa moderen mungkin hal tersebut merupakan "body language" yang menunjukkan kepribadian seseorang.

Sikap Jawa amat memperhatikan "solah muna-muni dan laku-linggih ini". Diharapkan solah dan laku ini mencerminkan sikap yang "anteng, meneng, jatmika".

Hal ini disebutkan dalam Serat Wulangreh, karya Sri Pakubuwana IV, pupuh Pangkur, bait ke 5 dan 6, lengkapnya sebagai berikut:
 
 
Oleh sebab itu sepanjang hari setiap saat manusia harus tahu apa yang harus diabdikan dalam hidup ini. Tahu yang baik dan yang buruk (ala lan becik), memperhatikan adat istiadat (adat waton) dan tatakrama. Siang maupun malam (siyang ratri) harus selalu diingat. Hal ini disebut pada bait pertama pupuh Pangkur sebagai berikut:


 
ORANG SEKARANG KURANG MEMAHAMI “BASA BASUKI”
 
Disebutkan pada bait ke 9  masih dalam pupuh Pangkur bahwa sekarang ini jarang dijumpai orang yang masih memiliki "basa basuki" (mohon ijin saya terjemahkan sebagai "etika" terkait dengan tiga hal yang disebutkan pada bait pertama, yaitu:  (a) Ala lan becik (b) adat waton dan (c) tatakrama. Umumnya orang sekarang kelakuannya: Drengki, droi, dora, iren-meren, panasten, kumingsun, openan, nora prasaja, jail, muthakil dan besiwit. Lengkapnya bait ke 9 sebagai berikut:

 
 
Lalu seperti apakan sifat-sifat yang jumlahnya sebelas tersebut? Pengertiannya sebagai berikut:

a)    Drengki: Tidak senang melihat orang lain senang dan ingin mencelakakan
b)    Droi: (Drohi) Tidak setia
c)    Dora: Suka berkata dusta
d)    Iren-meren: Iri pada kelebihan orang lain sehingga timbul perasaan kalah, lalu timbul keinginan harus melebihi. Misal kalah kalah pangkat, kalah cantik
e)    Panasten: Hati yang panas karena perasaan iri
f)     Kumingsun: Sifat “sok”
g)    Openan: Suka ikut campur urusan orang lain
h)    Nora prasaja: Tidak prasaja, tidak bersifat “apa adanya”
i)      Jail: Suka mengerjai orang. Sering dijadikan kata majemuk: Jail-methakil
j)      Methakil: Banyak akal busuk
k)    Besiwit: Urik, nakal. Curang dalam permainan.
Masih kurang dengan kelakuan yang "sebelas" pada bait ke 9 di atas, maka dalam pupuh Pangkur bait ke 10 ditambahkan sebagai berikut:


Adapun pengertiannya sebagai berikut:
a)    Alaning liyan den andhar (kejelekan orang disebar-luaskan)
b)    Beciking liyan dipun simpen (kebaikan orang disembunyikan
c)    Becike dhewe ginunggung kinarya pasamuwan (kebaikan sendiri dipamer-pamerkan)
d)    Nora ngrasa alane dhewe (tidak merasakan kejelekan sendiri)
e)    Ngedhukur (sombong, tinggi hati)
pada baris terakhir disebutkan bahwa orang seperti itu tidak pantas untuk didekati (nora pantes den pedhaki)


MEREKA ORANG-ORANG DUR BALA MURKA

Pada bait ke 11 di bawah disebutkan “Iku wong dur bala murka”. (Dur: jelek/jahat; Bala: kekuatan; Murka: nafsu ingin memiliki sebanyak-banyaknya) dengan sifat-sifat (merupakan rangkuman A dan B:

1.    Walau apa yang diinginkan sudah diperoleh, hati tetap tidak puas dan ingin memperoleh lebih banyak lagi. Hanya menuruti kehendak nafsu luamah dan amarah (Bait ke 11)

2.    Tidak mau kalah, tidak mau ada yang melebihi, merasa tidak ada yang menyamai dan merasa dirinya paling luhur (bait ke 12)
Lengkapnya bait ke 11 dan 12 sebagai berikut:

 
 KESIMPULAN
Dari laku, linggih dan solah muna-muni kita, dapat ketenger apakah kita ini tahu hal-hal baik dan buruk, adat istiadat dan tatakrama. Kenyataannya orang sekarang banyak yang tidak lagi tahu “basa basuki” dan cenderung menjadi orang yang “dur bala murka”. (IwMM)


Most Recent Post


POPULAR POST