Wednesday, March 20, 2013

HUBUNGAN KEKELUARGAAN DAN PERSAHABATAN DALAM PARIBASAN JAWA (2)


Namanya manusia, bisa saja terjadi silang pendapat, bahkan antara saudara kandung seayah seibu pun hal ini bisa terjadi. Bisa rukun dengan sendirinya bisa pula memerlukan seorang mediator untuk melerai. Sepanjang semangat kekeluargaan kita junjung tinggi maka semua akan baik-baik saja.
 
 
 
KERETAKAN HUBUNGAN KEKELUARGAAN
 
CACA UPA arti harfiahnya adalah butir nasi (upa) yang retak atau renggang (caca). Butir nasi (upa) yang dari sononya sudah menyatu bisa juga menjadi “caca” (retak). Pengertiannya adalah: Meretakkan hubungan persaudaraan (termasuk persahabatan). Banyak hal yang membuat hubungan antar manusia retak, mulai dari yang sepele sampai yang complicated.
 
Persaudaraan yang tidak bisa rukun digambarkan dalam bebasan yang juga ada dalam bahasa Indonesia: KAYA ASU KARO KUCING (seperti anjing dengan kucing) dan KAYA BANYU KARO LENGA (seperti air dengan minyak)
 
Adalah satu kondisi dimana begitu alerginya seseorang pada orang yang lain, dibaratkan dalam bebasan: DADIYA GODHONG EMOH NYUWEK, DADIYA BANYU EMOH NYAWUK, DADIYA DALAN EMOH NGAMBAH, DADIYA SUKET EMOH NYENGGUT. Andaikan daun tidak mau menyobek, air tidak mau menciduk, jalan tidak mau melewati dan rumput tidak mau mencabut, betul-betul sudah tidak mau “sapa-aruh” lagi. Apakah betul-betul tidak akan “wawuh” lagi? Selama ini tidak ada kata-kata DADIYA SEGA EMOH MANGAN dan DADIYA BANYU EMOH NGOMBE. Berarti kurang dan lebihnya, keretakan hubungan bukanlah sesuatu yang sifatnya menetap.
 
 
PERTENGKARAN DALAM KELUARGA
 
Pertengkaran dalam keluarga umumnya tidak akan lama, pasti segera rukun kembali. Ceritera dalam peribahasa jaman dulu mengatakan: KAYA BANYU PINERANG atau dengan kalimat yang lebih jelas lagi: BANYU PINERANG ORA BAKAL PEDHOT. Arti harfiahnya adalah: Air dipotong (pinerang: memotong pakai pisau atau parang) tidak akan putus. Memotong air adalah perbuatan mustahil. Mungkin air akan tersibak sebentar kalau kita gunakan kekuatan besar. Tetapi tidak lama kemudian akan menyatu kembali.
 
Saudara yang bertengkar dengan semangat “banyu pinerang ora bakal pedhot” tentunya harus difasilitasi agar rukun kembali. Oleh sebab itu kita kenal bebasan NYAMBUNG WATANG PUTUNG (watang: kayu panjang semacam galah, atau tombak tanpa ujung tajam). Dalam ungkapan Jawa tidak dikenal peribahasa semacam PATAH ARANG (hubungan yang sudah tidak bisa dipulihkan kembali)
 
Perselisihan boleh saja memuncak, tetapi pada akhirnya akan kembali pada ungkapan dalam peribahasa: TEGA LARANE ORA TEGA PATINE. Bagaimanapun juga masih saudara. Kita bisa tega sampai batas-batas tertentu (dalam peribahasa ini: tega sakitnya). Tetapi pada akhirnya kita akan membela juga.
 
 
JANGAN TERLENA DENGAN KEDEKATAN
 
Hubungan keluarga dan persahabatan janganlah menjadikan kita terlena. Setidaknya ada tiga peribahasa/bebasan yang perlu kita perhatikan guna dijadikan “pepeling”.
 
 “Cangklakan” (ketiak) merupakan bagian tubuh kita yang amat dekat ke jantung. SATRU MUNGGWING CANGKLAKAN arti harfiahnya adalah: Musuh berada di ketiak (satru: musuh; munggwing: mungguh ing, berada di; cangklakan: ketiak). Pengertiannya: Orang dekat, termasuk keluarga bisa juga menjadi musuh. Kita sering lupa mengenai hal ini, bahwa orang yang paling kita percaya bisa saja menjadi musuh yang paling berbahaya. Dapat dibaca di posting Satru munggwing cangklakan.
 
Kunang-kunang yang dalam bahasa Jawa disebut “Konang” adalah serangga malam yang punya lampu kelap-kelip, mengibaratkan orang punya gebyar. KADANG KONANG adalah bebasan Jawa yang punya arti: Yang diakui sebagai saudara (kadang) hanyalah orang-orang yang punya kedudukan, kaya, punya kelebihan, priyayi dll yang hebat-hebat. Selain yang itu tidak direken. Demikian pula nasib “konang” kalau sudah kehilangan cahayanya. Tidak diakui lagi sebagai kadang. Sifat tidak baik ini dapat dibaca pada posting: Kadang Konang.
 
Yang terakhir ini populer untuk jaman sekarang sebagai salah satu unsur KKN yaitu bebasan: NGIKET-IKETI DHENGKUL, NGOPYAHI DHENGKUL atau NASABI DHENGKUL. Tulisan lebih panjang mengenai dengkul dapat dibaca di posting: Ungkapan bahasa Jawa dengan “dhengkul”. Arti harfiahnya adalah: Memberi tutup kepala pada dengkul. Dengkul adalah bagian tubuh kita, ikat kepala/tutup kepala melambangkan kedudukan. Pengertiannya adalah memberi jabatan pada anggota keluarga kita sendiri.
 
Hati-hati dengan perilaku "ngiket-keti dhengkul" karena ada satu lagi bebasan dengan “dhengkul” di luar konteks judul tulisan ini, yaitu: DHENGKUL IKET-IKETAN. Pengertian iket sama dengan yang di atas, tetapi untuk “dhengkul” berbeda. Disini dhengkul adalah barang tumpul (masa ada orang yang dengkulnya tajam). Karena pakai ikat kepala, berarti dengkul dianggap kepala yang otaknya tumpul. Tentunya akan mencoreng nama keluarga kalau kita “ngiket-iketi dengkul” dengan pertimbangan “bacin-bacin iwak, ala-ala sanak” ternyata hasilnya “dhengkul iket-iketan”.
 
 
LIDING DONGENG
 
Terhadap saudara atau teman yang memang tidak baik, diibaratkan dalam bebasan CUPLAK ANDHENG-ANDHENG ORA PRENAH PANGGONANE. Cuplak adalah sejenis penyakit kulit yang menimbulkan binti-bintil, andheng-andheng adalah tahi lalat (yang dalam keadaan tertentu bisa berubah jadi kanker) Kalau tempatnya tidak tepat (ora prenah panggonane) biarpun saudara atau teman lebih baik disingkirkan saja.
 
Hubungan kekeluargaan dan persaudaraan seharusnya tidak seperti peribahasa EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN, atau disebut juga AMBAU KAPINE yang artinya adalah pilih kasih, memperlakukan orang secara berbeda. Kita semua bersaudara. Semangat kita seharusnya sesuai dengan peribahasa DUDU SANAK DUDU KADANG, YEN MATI MELU KELANGAN, yang artinya: Walaupun orang lain, kalau menderita harus kita bela. (IwanMM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST