Monday, March 18, 2013

HUBUNGAN KEKELUARGAAN DAN PERSAHABATAN DALAM PARIBASAN JAWA (1)


Manusia sebagai makhluk sosial tidak hidup menyendiri. Dalam pergerakan hidupnya sepanjang ia tidak tidur, maka ia akan selalu berhubungan dengan orang lain. Baik yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau pertalian darah, maupun yang tidak ada kaitan kekeluargaan samasekali.
 
Pada umumnya hubungan kekerabatan orang timur amat erat. Ada sisi baiknya ada sisi buruknya. Secara umum pada akhirnya orang cenderung membela keluarga atau orang yang mempunyai hubungan dekat.
 
Kita kenal bebasan MAMBU-MAMBU YEN SEGA. Arti harfiahnya adalah: walaupun bau, tapi nasi. Walaupun jelek (kelakuannya) tetapi masih saudara. Demikian pula ada bebasan yang menggunakan purwakanthi (AK): BACIN-BACIN IWAK, ALA-ALA SANAK yang pengertiannya adalah: walaupun jelek, masih sanak (keluarga). Kalau ada apa-apanya, pasti tidak tega.
 
Ada beberapa peribahasa maupun bebasan Jawa terkait dengan hubungan kekeluargaan dan persahabatan, antara lain sebagai berikut:
 
 
TIDAK ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN SAMASEKALI
 
Dalam paribasan maupun bebasan Jawa, orang lain yang tidak ada kaitan hubungan keluarga, baik melalui pertalian darah maupun pernikahan, kita katakan dengan ungkapan ORA MAMBU ENTHONG IRUS dan satu lagi ORA MAMBU SEGA JANGAN.
 
Enthong (sendok nasi), Irus (sendok untuk memasak sayur), Sega (nasi) dan Jangan (sayur) adalah sesuatu yang akrab dengan keseharian hidup manusia di rumah, sesuatu yang ada di dalam dapur kita. Mambu adalah bau. Jadi kalau orang diibaratkan dengan “ora mambu enthong, irus, sega dan jangan” berarti orang itu jauh, atau bukan keluarga.
 
 
TIDAK ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN TETAPI DEKAT
 
Orang yang tidak ada hubungan keluarga, tetapi kalau sudah menjadi amat dekat sehingga tidak ada bedanya dengan saudara, dalam paribasan Jawa bisa sebut dengan SADULUR JAMBE SURUH (Jambe: Pinang; Suruh: Sirih). Sirih dan pinang samasekali bukan saudara satu spesies, tetapi menyatu dalam kelengkapan orang makan sirih. Dapat dibaca di Bekerja dalam tim: Tuladha dari "kinang"
 
Kita kenal istilah “saudara seperguruan” yang dalam paribasan Jawa disebut SADULUR TUNGGAL BANYU. Untuk teman sekerja yang sudah erat hubungannya kita sebut dengan SADULUR TUNGGAL AJANG. Dalam “basa rinengga” kita kenal kata SADULUR SINARAWEDI. (Sara: kokoh; wèdi: sungguh-sungguh; kata sarawèdi sendiri berarti intan yang digosok). Sedulur sinarawèdi diartikan sebagai hubungan teman yang amat dekat seperti dengan saudara sungguhan).
 
 
ADA HUBUNGAN KEKELUARGAAN TETAPI TIDAK DEKAT
 
Paribasan SATINDAK SAPECAK adalah gambaran jauh dekatnya ikatan persaudaraan. Saudara jauh diibaratkan dengan kata “satindak” (selangkah) sedangkan saudara dekat dengan kata “sapecak” (jarak dari ujung tumit sampai ujung jari kaki).
 
Saudara yang agak jauh tetapi masih ada pertalian darah, sering kita katakan sebagai ISIH MAMBU KULIT atau ISIH MAMBU KULIT DAGING. Kita perhatikan bahwa “kulit” dan “daging” adalah organ tubuh kita yang ada darahnya. Kalau dikatakan masih berbau kulit maupun daging, berarti masih ada hubungan darah.
 
Apabila ada saudara jauh yang kemudian didekatkan lagi dengan ikatan pernikahan disebut dengan NGUMPULAKE atau NUNTUMAKE BALUNG PISAH sehingga tidak terjadi apa yang disebut dengan KEPATEN OBOR yang artinya: kehilangan lacak alur hubungan keluarga.
 
Lain lagi dengan saudara yang terkait dengan hubungan pernikahan. Secara umum kita kenal dengan sebutan KADANG KATUT. Orang-orang ini jadi saudara karena katut (terikut) dengan pernikahan. Dalam bebasan Jawa kita bisa mengatakan sebagai MUNTHU KATUTAN SAMBEL (munthu: uleg-uleg,  alat untuk menghaluskan sambal. Biasanya terbuat dari batu).
 
 
ORANG TUA DAN ANAK
 
Dalam hubungan orang tua dengan anak, orang tua yang baik pasti mendahulukan kepentingan anak daripada kepentingannya sendiri. Kita kenal peribahasa yang juga menggunakan purwakanthi (AK): ABOT ANAK KARO TELAK. Telak adalah bagian rongga mulut kita yang paling belakang. Lebih berat anak daripada telak pengertiannya adalah: lebih mementingkan kebutuhan anak daripada pribadi.
 
Jaman dulu, 1970an, ketika jadi dokter Puskesmas, saya sering memarahi bapak yang merokok atau ibu yang bersolek berat padahal anaknya kurang gizi. Ini namanya ABOT TELAK KARO ANAK. Kebutuhan pribadi dikedepankan sementara kepentingan anak terabaikan.
 
Ekses dari “Abot anak karo telak” adalah orang tua memanjakan anak secara berlebih-lebihan. Akibatnya justru orang tua akan mengalami kerepotan (kepradah) karena kelakuan tidak baik (molah) anaknya: ANAK MOLAH BAPA KEPRADAH. Dapat dibaca pada posting Lesmana Mandrakumara: Anak Polah Bapa Kepradah. Sebaliknya anak juga tidak boleh tinggal diam kalau orang tua mengalami masalah. Ada peribahasa BAPA KESULAH ANAK KEPOLAH (Sulah: Tombak; kesulah: Kena Tombak; Polah: gerak).
 
Perlu dicatat bahwa orang tua harus introspeksi kalau kemudian ia  harus “kepradah” akibat dari “polah” perilaku anak yang tidak baik. Ada peribahasa KACANG MANGSA TINGGALA LANJARAN dan satu lagi ORA ANA BANYU MILI MANDHUWUR. Pengertian keduanya adalah: Watak anak umumnya sama dengan orang tuanya atau watak orang tua menurun ke anak. Dapat dibaca pada posting: Kacang ora ninggal lanjaran dan ora ana banyu mili mendhuwur. Dengan demikian sebesar-besar kemarahan kita kepada anak, jangan cepat-cepat menyumpahi anak dan mengatakan ILANG-ILANGAN ENDHOG SIJI yang artinya:  Biarlah kehilangan anak satu tidak apa-apa.
 
MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO (pikul yang tinggi kubur yang dalam) adalah bakti anak kepada orang tua. Angkatlah kebaikan orang tua setinggi-tingginya dan kuburlah sedalam-dalamnya kalau ada kekurangannya.
 
 
LIDING DONGENG: KISAH SAPU LIDI DAN KERUKUNAN KELUARGA
 
SAPU ILANG SUHE (Sapu kehilangan pengikatnya) adalah bebasan yang menggambarkan hubungan keluarga yang tidak erat karena tidak ada pengikatnya lagi. Ketika kakek dan nenek sudah meninggal dunia, maka hubungan dengan sepupu bisa menjadi jauh. Apalagi kalau kemudian masing-masing terpisah jauh karena pekerjaan dan tempat tinggal.
 
Adalah sebuah wisdom story yang dapat dibaca pada posting Guyub Rukun, tentang seorang bapak yang prihatin karena anak-anaknya tidak rukun. Sang bapak lalu mengambil sapu lidi, dilepas pengikatnya, kemudian dengan mudah lidi yang sudah lepas dipotong satu-persatu. Ketika lidi disatukan kembali dalam pengikatnya, tidak ada yang mampu mematahkannya. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” bukankah ini yang kita inginkan? Jangan seperti “Sapu ilang suhe”. (Iwan MM)
 
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST