Wednesday, February 6, 2013

JANGKA DAN JANGKAH: VISI DAN MISI A LA JAWA


Masih ingat Mas Parmo, teman saya yang tempo hari menanyakan tentang Lir atau Nir dan juga tentang Yoga angangga yogi? Beberapa hari yang lalu habis maghrib beliau menelepon. “Dik Iwan, saya ke rumah sekarang bisa ya, penting!” Berurusan dengan beliau, selalu urusan “bahasa” dan saya selalu khawatir kalau saya tidak tahu. “Mangga mas, tak tunggu, tapi aja angel-angel”. Beliau tertawa di seberang sana: “Yang ini panjenengan pasti tahu dik. Hanya saya yang tua ini saja terlalu bodoh”, jawabnya merendah.
Rumah Mas Parmo memang tidak terlalu jauh, dalam 15 menit beliau sudah duduk di ruang tamu. “Besok siang ragil (anak bungsu) saya si Tantri kan diwisuda jadi dokter. Lalu dia dan kelompoknya mau syukuran di rumah pada malam harinya”.
Mengko dhisik, Mas. Kalau tanya doa jangan ke saya. Tahu saya cuma doa sapujagad”.
“Saya ini ngomong belum rampung sudah dipotong. Gini lho dik, saya disuruh anak saya memberi pitutur. Saya mau sampaikan bahwa manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan harus punya visi dan misi, tapi mau saya sampaikan a la Jawa walaupun dalam bahasa Indonesia. Ada apa tidak ya Dik, pengertian visi dan misi dalam bahasa Jawa?”
Alhamdulillah, slamet, batin saya. Kalau yang ini saya pas tahu. Lalu saya jelaskan pada Mas Parmo yang mendengarkan dengan saksama.

JANGKA: VISI A LA JAWA

“VISI” boleh dikatakan sama dengan mimpi-mimpi kita, walau kurang tepat. Lebih rasional kalau kita katakan sebagai cita-cita atau tujuan jangka panjang yang ingin kita capai, dinyatakan dalam pernyataan kehendak.
Dalam bahasa Jawa, ada kata “JANGKA” yang salah satu artinya adalah “pangangkah” atau “sedya”. Boleh disamakan artinya dengan VISI.
Orang hidup harus punya PANJANGKA. Mau dibawa kemana hidup ini. Tanpa panjangka, maka kita akan kleyang kabur kanginan tak tahu arah mana yang akan dituju.
 
JANGKAH: MISI A LA JAWA

Visi saja tanpa langkah-langkah untuk mencapai tujuan, berarti kita hanya “thenguk-thenguk”. Jaman sekarang ini mana ada orang yang thenguk-thenguk nemu kethuk
Bila seperti itu, visi bukan lagi cita-cita tetapi sekedar mimpi yang hanya rasional untuk orang tidur. Harus ada langkah-langkah untuk mencapai visi. Langkah-langkah itulah yang disebut “MISI”.
Kebetulan dalam bahasa Jawa ada kata JANGKAH yang artinya melangkah. JANGKAH dalam bausastra Jawa memang diartikan juga untuk mencapai apa yang DIJANGKA. JANGKAH adalah operasionalisasi JANGKA, yang merupakan banting tulang kita untuk mencapai cita-cita.

JANGKA DAN JANGKAH
Orang hidup harus punya tujuan dan harus bergerak untuk mencapai tujuannya itu. Tangan harus kumrembyah (aktif bergerak) dan kaki jumangkah (melangkah). Leluhur kita mengatakan, wong urip iku kudu duwe jangka lan jangkah, yang artinya: orang hidup harus mempunyai visi dan misi.
 
AMEMANGUN KARYENAK TYASING SESAMA
Demikian kurang-lebihnya yang saya sampaikan kepada Mas Parmo, yang kemudian mengejar dengan pertanyaan berikutnya: “Untuk dokter-dokter muda itu, bagaimana kalau saya beri contoh visi yang merupakan keteladanan Panembahan Senopati, Amemangun karyenak tyasing sesama?”
“Wah, hebat panjenengan mas. Saya yang dokter malah tidak kepikiran kesitu. Dokter memang seharusnya bisa membuat senang hati semua orang melalui kesembuhan dan kesehatan”.
“Matur nuwun Dik, saya jadi semangat. Untuk MISI saya akan minta mereka terjemahkan sendiri sesuai penugasan mereka nanti dimana. Tapi barangkali saya beri kata kunci NGAYOMI, NGAYEMI dan NGAYAHI. Bagaimana langkah-langkah mereka supaya masyarakat terlindungi kesehatannya (ayom), sehingga hatinya merasa tenang (ayem) dan profesionalismenya (ngayahi) sebagai seorang dokter.
 
LIDING DONGENG
Apa yang disampaikan Mas Parmo sebenarnya mewakili harapan masyarakat atas keberadaan seorang dokter. Ada dokter tetapi tidak bisa ngayomi, ngayemi dan ngayahi, sama saja dengan tidak ada dokter. Kepuasan Mas Parmo atas ular-ular saya, juga mewakili kebahagiaan masyarakat yang merasa ayom dan ayem: “Sampaikan keng rayi (maksudnya: istri saya) ya Dik, besok tidak usah masak”.
“Alhamdulillah, sipp Mas”.
Sebenarnya saya juga mendapat pembelajaran atas kehadiran Mas Parmo malam itu, melalui pupuh Sinom bait pertama dalam Serat Wedhatama anggitan KGPAA Mangkunegara IV, bahwa seorang dokter juga harus meneladani Panembahan Senopati dalam “amemangun karyenak tyasing sesama”
 
nulada laku utama | tumrape ing tanah Jawi | wong agung ing Ngèksigônda | Panêmbahan Senapati | kapati amarsudi | sudaning hawa lan nêpsu | pinêsu tapa brata | tanapi ing sari ratri | amêmangun karyenak tyasing sasama || Wedhatama, Sinom: 1
 

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST