Friday, February 8, 2013

ORA PATHEKEN


Hari Minggu pagi saya sedang membersihkan rumput liar di taman kecil depan rumah, muncul Toni dengan sepedanya. “Berkebun, Pak?” Sapanya sambil membuka helm. “Saya lihat Bapak jadi saya mampir. Tidak mengganggu, Pak?” Ia bertanya sambil melihat-lihat hasil kerja saya. “Kau lihat sudah selesai kan, Ton. Ayo duduk”. Saya bawa dia ke teras. Ia memang lebih suka duduk disitu, kalau datang.
“Saya penasaran, Pak. Apa artinya ora patheken. Kemarin saya bujuk teman saya yang gemuk untuk beli sepeda dan ikut klub sepeda saya,  jawabnya ora duwe sepeda ora patheken.”
“Kamu tahu patek, Ton?”
“Sejenis penyakit kulit kan, Pak?”
“Pernah lihat seperti apa?”
“Belum, Pak”.
 
PATEK, FRAMBUSIA, YAWS
Wajar kalau Toni belum pernah lihat penyakit yang namanya patek. Saya sendiri sampai lulus dokter (1977) belum pernah tahu wujud aslinya. Hanya dari gambar saja. Ketika kemudian ditugaskan sebagai dokter Inpres di Maluku Utara, barulah saya melihat dengan mata kepala sendiri. Itupun kalau tidak diberitahu pak mantri (perawat) puskesmas, akan luput dari perhatian saya. Mantri tua yang usianya dua kali umur saya itu menjelaskan: “Ini frambusia, Pak Dok. Disini disebut Bobento. Pak Dokter lihat satu kali, tahu baunya, seumur hidup tidak akan lupa”.
Di Indonesia jumlah Penderita Patek atau Frambusia sudah tidak banyak lagi. Kalau ada, tempatnya di daerah sulit air dan miskin dimana tidak banyak kesempatan orang untuk mandi pakai sabun. Frambusia ditularkan melalui kontak langsung. Jadi kalau kita kontak dengan penderita frambusia dan tidak sempat bersih-bersih badan, peluang tertular menjadi amat besar.
Saya masuk ke kamar, ambil buku kecil frambusia, pedoman untuk petugas. “Nih, Ton. Kamu lihat sendiri”.

 
Toni melihat-lihat buku kecil itu dengan ekspresi wajah tidak baik. “Mengerikan, Pak. Mengapa teman saya mengatakan ora duwe sepeda ora patheken?”

ORA ...... ORA PATHEKEN
Entah asal-usul kata ini dari mana. Saya yang lahir di Yogya sampai menyelesaikan pendidikan juga di Yogya rasanya tidak pernah mendengar kata-kata ora .... ora patheken ini. Saya mendengarnya di Surabaya setelah pindah ke Jawa Timur. Barangkali asal-usulnya dari Jawa Timur, karena konon Pak Harto yang pernah mengucapkan kata-kata yang intinya: Tidak jadi presiden tidak patheken, mendapatkan kata-kata ini dari Cak Nun.
“Ton, seandainya kalau kamu kena penyakit Patek, masalah apa tidak?” Tanya saya kepada Toni.
“Kalau gambarannya seperti yang dalam buku itu, ya masalah besar Pak”.
“Jadi kalau tidak punya sepeda tidak patheken kira-kira maksudnya apa?
Toni tertawa terbahak-bahak. “Berarti tidak punya sepeda tidak masalah. Kalau mau gaul sedikit barangkali bisa mengatakan emangnya gue pikirin. Betul kan Pak?
 
TIDAK SESEDERHANA ITU
Toni memang anak muda yang daya tangkapnya cepat demikian pula  analisisnya terhadap ungkapan dan filosofi Jawa amat  kritis. padahal dia bukan orang Jawa. “Tetapi kan tidak sesederhana itu ya Pak”.
“Maksudmu, Ton?”
“Sama dengan di buku Bapak tadi, Patek kan terbagi dalam beberapa stadium. Demikian pula kata-kata ora patheken, mestinya juga analog. Tapi saya belum bisa menjabarkannya. Sepertinya ada nuansa ikhlas, menerima, walau ada juga kesalnya”. Ia melihat ke saya sejenak, seolah minta persetujuan.
Lalu lanjutnya: “Teman saya tadi sepertinya kesal sama saya. Mungkin merasa kalau disindir tidak pernah olahraga. Jadi dia bilang ora duwe sepeda ora patheken. Orang yang ditinggal pacar kalau mengatakan ora duwe pacar ora patheken, mungkin kesal tapi ikhlas. Kalau tidak ikhlas pasti yang membawa lari pacarnya sudah dia labrak. Kalau saya habis dimaki-maki lalu saya katakan pisuhana ora patheken, berarti saya menerima walau hati kesal. Tapi kalau mengatakan ora diajak mangan ora patheken, itu Toni, Pak. Waton muni. Makan kok dibandingkan sama Pathek yang begitu mengerikan.
Sepertinya Toni yang muda ini benar. Kata-kata “ora patheken” seharusnya tidak digunakan untuk hal-hal sepele. Ia mengatakan itu berdasar “logika” dari sebuah buku kecil dan “rasa Jawa" yang telah ia pahami. (IwanMM)

2 comments:

VoidioV said...

hahaha, kalau menurut saya ra patheken berasal dari kata pathek /patek yang bisa diartikan "banget" atau "begitu". misal, ra patek sugih (nggak kaya banget / nggak begitu kaya) dsb. jadi secara harafiahnya mungkin arti ra patheken : nggak kepengen banget. atau bisa juga seperti yang bapak tulis, nggak punya juga nggak papa. dan ga ada artinya sama penyakit :D

Taufiqur Rohman said...

@voidiov, like this...!

Most Recent Post

POPULAR POST