Sunday, December 16, 2012

YOGA ANGANGGA YOGI

Saya ketemu lagi dengan Mas Parmo di rapat RW. “Ngethuprus” dia ceritera “success story” waktu pasrah penganten minggu lalu (baca: Lir atau Nir). Dia bilang banyak yang memuji bahasa Jawanya yang sudah tidak banyak didengar orang lagi, termasuk logat Jawanya yang masih Jawa. Orang-orang yang mengenal almarhum ayah Mas Parmo mengatakan dia ini “Yoga anyangga yogi”.
 
Pak Broto yang duduk disamping saya langsung memotong: “Mengko dhisik, Mas. Maksudnya yoga anyangga yogi itu apa?
 
“Ya anak mengikuti sifat orang tuanya. Almarhum bapak dulu kan Jawa banget”.
 
“Itu yang saya tanyakan, Mas”. Jawab Pak Broto. “Anyangga, kan asal katanya sangga yang artinya menopang. Pengertiannya kok jadi gitu?”
 
 
KESALAHAN UMUM
 
Pak Broto benar. “Sangga” artinya menopang, sama dengan menyangga dalam bahasa Indonesia. Kalau peribahasanya adalah “Yoga anyangga yogi” maka seharusnya diartikan “anak yang berbakti kepada orang tuanya”.
 
Kita kembali ke laptop dulu, Poerwadarminta, 1939 (Bausastra Jawa) dan Padmasusastra, 1967 (Sarine Basa Jawa) memang menuliskan sebagai “Yoga angangga yogi”. Dari aspek bahasa, maka: (1) Yoga: Anak, (2) Sangga: Topang, (3) Angga: badan, dan Yogi: Pendeta.
 
Kalau kita mengatakan “Yoga anyangga yogi” dengan pengertian “anak mengikuti orang tuanya (atau gurunya) maka antara peribahasa dan pengertiannya menjadi tidak klop. Mestinya adalah “Yoga angangga yogi” tetapi pengertiannya menjadi lain sama sekali. Kita bayangkan ada anak dengan segala sifat kebocahannya tetapi mempunyai “angga” (badan) “yogi (pendeta/guru) yang pasti sudah tua. Dalam ucapan Jawa sehari-hari dikatakan “bocah sing temuwa” atau anak yang sudah punya sifat seperti orang tua. Jadi bukan perilaku anak mengikuti orang tuanya.
 
 
JLENTREHNYA BAGAIMANA

“Lire kepriye, Dhik?” mas Parmo mempraktekkan penggunaan kata “Lir” dalam kepenasarannya.
“Jlentrehnya gini, Mas. Misalnya ada anak kecil, katakan umur 12 tahun. Ia momong adiknya. Lalu si adik main air. Dia melarang, jangan dik, nanti sakit kalau kebanyakan main air. Ketika adiknya jatuh, kemudian menangis, ia menghibur, bukan memarahi. Itulah yang dinamakan yoga angangga yogi. Anak kecil yang temuwa”.
“Wah, kalau gitu sudah salah peribahasanya, masih terlalu jauh kenyataannya”, kata Mas Parmo. “Waktu kecil saya ini mbeling sekali. Adik saya yang minggu lalu mantu itu sering nangis karena saya suka rebut mainannya”.
Mas Parmo manggut-manggut. Ia selalu percaya dengan penjelasan saya, walaupun dalam urusan bahasa Jawa saya ini juga amatiran. “Lalu seharusnya mereka mengatakan apa kalau saya ini sama dengan almarhum bapak?”
Kacang ora ninggal lanjaran, Mas. Masa gitu saja ora ngerti”. Pak Broto yang menjawab. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST