Tuesday, December 18, 2012

SERAT RAMA DAN ASTA BRATA (1): SRI RAMA MENYERAHKAN TAHTA ALENGKADIRAJA KEPADA GUNAWAN WIBISANA

Pertamakali saya mendengar “Asta Brata” kira-kira tahun 1990an awal, saat mengikuti pengarahan Irjen Depkes yang saat itu dijabat oleh dr. Rusmono pada acara Rakerkesda Provinsi Jawa Timur. Saya eselon IV di Provinsi saat itu, jatah duduk di belakang, tetapi uraian pak Irjen begitu enak didengar dan mudah dicerna.
 
Asta Brata adalah delapan (Asta) ajaran utama untuk seorang pemimpin yang diwejangkan oleh Sri Rama kepada Gunawan Wibisana, setelah selesai peperangan dengan Rahwana. Rahwana tewas dan kerajaan diserahkan Sri Rama kepada Wibisana, adik bungsu Rahwana yang membantu Rama. Dalam pedalangan Jawa, digelar dalam lampahan Wahyu Makuta Rama pada era pandawa lima. Asta Brata mengambil sifat-sifat mulia alam semesta yang layak dipedomani setiap pemimpin: Air (Tirta), Matahari (Surya), Bulan (Candra), Bintang (Kartika), Bumi (Kisma), Angin (Bayu), Api (Agni) dan Lautan (Samodera).
 
Asta Brata mengajarkan kita untuk memperhatikan sifat-sifat alam semesta yang dalam Serat Rama tidak disebutkan sebagai "Asta Brata" melainkan pesan untuk "lawan sira elinga bathara wolu" yaitu delapan dewa yang  menguasai delapan komponen alam tersebut: Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna, dan Brahma.
 

Penjabaran yang lebih ilmiah dari Asta Brata melalui analisis sifat-sifat alam semesta bisa dibaca di tempat lain, tetapi saya mencoba recall ingatan 20an tahun lalu melalui satu rujukan yaitu “Serat Rama”, pupuh ke 77, dalam tembang Pangkur, anggitan pujangga terkenal pada jamannya, Yasadipura I.
 
Sebelum sampai ke Asta Brata, kita lihat dulu situasi kerajaan Alengka setelah tewasnya Rahwana Raja.
 
 
GUNAWAN WIBISANA DIANGKAT JADI RAJA ALENGKA
 
Kalau Rahwana tidak tewas, Gunawan Wibisana tidak akan menjadi raja Alengkadiraja. Kalau bukan Sri Rama yang mengalahkan Rahwana, maka Gunawan Wibisana tidak akan mendapatkan ajaran Asta Brata. Gunawan Wibisana sendiri tidak pernah mimpi jadi raja. Ia menghamba kepada Sri Rama karena merasa tidak cocok dengan sifat angkara murka Rahwana, kakaknya. Barangkali ia juga berpikir bahwa Sri Rama yang terusir dari kedudukannya sebagai "crown prince" kerajaan Ayodya (dapat dibaca di tulisan Sabda Pandita Ratu: Kisah Dasarata dan Santanu) akan mengangkat dirinya sendiri jadi Raja Alengkadiraja.
 
Betapa kagetnya Gunawan Wibisana ketika Sri Rama bertitah (Bait ke 8) sebagai berikut:

 
Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:
 
Hai Gunawan Wibisana, engkau sekarang yang menjadi raja Ngalengka, menggantikan raja yang dihormati (siniwi) raksasa. Pertimbangan Sri Rama adalah Gunawan Wibisana memiliki keluhuran (prabawa) yang sudah dikenal diseantero jagad dan sudah menguasai (kertarta) dalam hal kemampuan (guna), kehati-hatian (wiweka) dan cinta kasih.
 
 
LIDING DONGENG
 
Sri Rama mengangkat Gunawan Wibisana tentunya bukan tanpa pertimbangan. Jelas Wibisana akan loyal, tetapi tidak hanya itu, keluhuran budi dan kompetensinya sudah teruji dan dikenal secara luas. Walau demikian, Sri Rama tetap merasa perlu untuk memberikan point-point pengarahan. Kita lanjutkan ke Serat Rama dan Astabrata (2): Pulihna Praja Ngalengka (IwMM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST