Monday, May 6, 2013

ORANG-ORANG YANG SENGSARA/CELAKA KARENA PERBUATANNYA SENDIRI DALAM PARIBASAN JAWA (2)

Sapa nandur ngundhuh. Peribahasa ini mengandung makna yang dalam. Barang siapa menanam ia akan menuai. Bergantung apa yang ditanam: kebaikan atau kejahatan. Bahkan bisa lebih berat panenannya, sesuai peribahasa Barang siapa menabur angin akan menuai badai. Oleh sebab itu, hidup sebaiknya diisi dengan menanam kebaikan.
 
Celaka karena perbuatan sendiri tidak selalu perkara kejahatan kepada orang lain. Melanjutkan tulisan ORANG-ORANG YANG SENGSARA KARENA PERBUATANNYA SENDIRI DALAM PARIBASAN JAWA (1), di bawah adalah beberapa contoh orang yang apes karena kemurkaan, niat buruk sendiri dan kurang kewaspadaan, serta satu lagi justru karena kebaikannya. Kiranya dapat dijadikan rujukan:
 
 
C. CELAKA KARENA KEMURKAAN SENDIRI
 
1. BRAKITHI ANGKARA MADU
 
Brakithi: Semut. Madu disukai semut. Menggambarkan orang yang celaka karena barang yang amat disukai.
 
2. BRAKATHA ANGKARA GENI
 
Brakatha: laron. Laron suka mendatangi cahaya termasuk api. Pengertiannya sama dengan diatas, orang yang celaka karena barang yang dia sukai.
 
Menggarisbawahi butir 1 dan 2: Contoh sederhana adalah orang yang suka makan. Pas musim durian kita diundang ke desa yang sedang panen durian. Makan sepuasnya karena gratis. Malamnya sakit perut karena kebanyakan durian.
 
Contoh yang lebih canggih adalah mencuri uang, mulai dari mencopet sampai korupsi, kemudian ketahuan dan ditangkap.
 
3. SONA BELANG MATI AREBUT MANGSA
 
Sona: anjing. Berbeda dengan butir 1 dan 2 yang bersifat perorangan, disini adalah antara dua orang atau lebih (digambarkan sebagai anjing) yang saling berebut (karena contohnya anjing maka yang diperebutkan “mangsa). Mengapa harus berebut kalau tidak karena kemurkaannya. Risikonya yang berebut sama-sama babak belur. Dapat dibaca pada posting Manusia harus rukun: kisah dua orang pemburu.
 
4. JANMA MATI MURKA
 
Janma: manusia. Menegaskan bahwa orang murka akan celaka.

5. MBURU UCENG KELANGAN DHELEG

Mengejar yang kecil (diibaratkan ikan uceng) kehilangan yang besar (diibaratkan ika dheleg: Ikan kutuk/ ikan gabus). Dapat dibaca di Mburu uceng kelangan dheleg).

6. MBUWANG RASE NEMU LUWAK

Bisa disebut juga dengan MBUWANG RASE NEMU KUWUK. Pengertiannya membuang yang jelek (diibaratkan rase) dapat yang lebih jelek (diibaratkan musang atau kucing jantan liar, tua). Dapat dibaca di Mbuwang rase nemu kuwuk.


D. AKIBAT PUNYA NIAT BURUK
 
1. MENTHUNG KOJA KENA SEMBAGINE
 
Saudagar India pada jaman dulu disebut “koja”. Sedangkan “sembagi” adalah kain mahal dari luar negeri. Pengertian “menthung’ (memukul) dalam paribasan ini adalah menipu. Pikirannya sudah berhasil menipu. Bukan sembarangan, karena pada jaman dulu saudagar India (koja) terkenal mahir dalam transaksi jual beli. Padahal yang kena cuma pakaiannya (sembagi). Jelasnya: merasa berhasil menipu padahal ketipu.
 
2. BUDHUK KAWUK

Budhuk: Penyakit kulit menahun. Kawuk: tubuh yang sudah tua; mencela padahal diri sendiri lebih jelek dari yang dicela. Pengertiannya: Berbuat tidak baik akhirnya terkena diri sendiri.
 
E. TERLALU BAIK
 
Agak aneh juga bahwa orang terlalu baik juga bisa sengsara. Adalah ungkapan bahasa Inggris yang pernah saya dengar, tetapi tidak dapat ditemukan kembali rujukannya: To be a little bad is better than to be good. Menjadi agak buruk masih lebih baikan daripada menjadi baik.
 
1. BLABA WUDA
 
Blaba: pemurah; Wuda: telanjang. Karena terlalu pemurah malah diri sendiri kekurangan. Contoh ringan (pernah saya tulis dalam salah satu posting), waktu di Somalia untuk mengambil hati orang-orang disana saya suka menawari rokok (waktu itu saya masih merokok). Alih-alih mengambil satu batang dia ambil bisa sampai 5 batang. Akibatnya saya tidak punya rokok. Padahal di kancah perang seperti itu cari rokok susah.
 
2. WELAS TEMAHAN LALIS
 
Welas: menaruh belas kasihan; Lalis: Hilang, mati. Pengertiannya: menaruh belas kasihan kepada seseorang, yang akhirnya menyengsarakan diri sendiri. Hal ini umumnya terjadi karena yang diwelasi bukannya membalas budi tetapi membalas dengan kejahatan.
 
Kembali kita diingatkan dengan kisah sapi yang menolong buaya, kemudian buaya justru akan memakan si sapi. Kalau tidak ada kancil disitu, barangkali si sapi yang welas kepada buaya akan lalis.
 
Catatan: Peribahasa ini sering disalahucapkan dengan: Welas tanpa alis.
 
 
LIDING DONGENG
 
Orang yang celaka apakah karena ucapan, kesombongan, kemurkaan, punya niat buruk atau karena hatinya terlalu baik, pada intinya karena kurang waspada. Adalah satu peribahasa Jawa: NGIDAK GENI BLUBUKAN.
 
Geni blubukan adalah api kayu atau arang yang tertutup abu, sehingga apinya tidak kelihatan. Bisa dibayangkan apabila orang yang tidak mengenakan alas kaki dan berjalan tidak hati-hati kemudian menginjak geni blubukan ini. Pasti melepuhlah telapak kaki.
 
Dilanjutkan ke ORANG-ORANG YANG MEMANG HARUS APES DALAM PARIBASAN JAWA

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST