Wednesday, May 8, 2013

ORANG-ORANG YANG MEMANG HARUS APES DALAM PARIBASAN JAWA

Adalah Mas Parmo yang bertanya: “Dik ada enggak ya, orang yang apes bukan karena ngundhuh wohing panggawe?” Sebelum saya menanyakan reasoningnya (karena Mas Parmo tidak pernah menanyakan sesuatu tanpa latar belakang) Mas Parmo sudah duluan melanjutkan:
 
“Saya ini merasa tidak berbuat kesalahan pada orang kok apes. Tadi pagi naik becak ke pasar burung. Uang saya limapuluhribuan, pak becak bilang tidak punya kembalian wong dari tadi belum dapat penumpang. Saya tukarkan ke warung pada bilang tidak punya. Terpaksa saya beli teh kotak, baru dapat uang kecil”.
 
Saya terpaksa ngakak: “Lha tidak selalu kita berbuat salah lalu apes, to Mas. Atau Mas Parmo bikin salah tapi tidak merasa. Bisa juga shodaqohnya kurang. Ada pengemis diusir, atau di dompet ada uang seratus ribu yang dimasukkan kotak sumbangan waktu sholat Jum’at kemarin cuma selembar ribuan kumal”
 
Nasib manusia memang bermacam-macam. Ada yang selalu beruntung seperti Untung Bebek, ada juga yang selalu sial seperti Donal Bebek. Di bawah adalah beberapa contoh orang sial yang tidak ada alasannya mengapa harus sial, kiranya dapat digunakan sebagai rujukan:
 
 
 
 
1. ADOL LENGA KARI BUSIK
 
Busik: Kulit kering, tidak halus, banyak yang terkelupas. Dulu salah satu cara untuk menghilangkan busik adalah menggosok dengan minyak. Orang yang menjual minyak mestinya tidak busiken kulitnya karena punya cukup banyak stok minyak.
 
Pengertian peribahasa ini adalah: Ada kegiatan pembagian barang, tetapi yang membagi tidak kebagian. Ibarat membagi minyak, karena yang membagi tidak kebagian, maka ia tidak punya minyak, lalu kulitnya mau digosok dengan apa? Akibatnya busiken.
 
Pernah saya tulis dalam Andum amilih, bahwa orang yang membagi, biasanya milih duluan, sehingga dapat yang paling besar atau paling bagus. Tapi yang satu ini malah tidak kebagian. Mungkin dia apes atau terlalu lugu.
 
 
Ikut sengsaranya (diibaratkan dengan gupak pulute: ikut kena getahnya) tetapi tidak merasakan hasilnya (diibaratkan dengan ora melu mangan nangkane).
 
 
Sudah kehilangan (diwakili kata: kebo ilang) masih keluar biaya (diwakili kata: tombok kandhang). Banyak orang kehilangan kemudian dengan berbagai jalan berupaya (tentunya keluar biaya) mencari barangnya yang hilang, tetapi barangnya tidak kunjung kembali.
 
4. DHALANG OPAH-OPAH
 
Seorang dhalang tentunya mendapatkan honorarium, tetapi dalam paribasan ini ki Dhalang malah opah-opah (memberi upah).
 
Pengertiannya: Orang sudah capek-capek, tidak diberi imbalan, malah keluar uang (tidak sedikit)
 
Contoh: Seorang diundang untuk memberikan ceramah. Ia siapkan materi baik-baik untuk menjaga reputasinya. Apalagi yang mengundang juga organisasi yang punya reputasi. Ternyata biaya transport tidak diganti, honorpun tidak diberi.
 
Ketika besok paginya ada teman minta traktir karena tahu kemarin habis ceramah di luar, ia menjawab: “Lha wong kemarin saya itu paribasan dhalang opah-opah. Tapi kalau cuma nraktir pecel ya mari”.
 
 
LIDING DONGENG
 
Ada senior saya dulu yang menasihati: “Menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan seperti itu, anggap saja  untuk buang sial. Yang jelas manusia tidak pernah sempurna, sering tidak paham peringatan yang diberikan Tuhan. Oleh sebab itu banyak-banyaklah beristigfar, mohon ampunan kepada Allah SWT”.
 
Ia juga menambahkan: “Orang Jawa sebenarnya dididik untuk bisa menertawakan kesialan dirinya. Misal ada teman habis kerjabakti lalu kita tanya, tadi dapat makanan apa? Lalu dia jawab, Wah mas, ora kinang ora udut (tidak dikasih apa-apa). Bukankah kata-kata itu ada unsur lucunya?  Bahkan dalam kesialan orang akan mengatakan untung cuma ...... (misalnya isih beja mung kesrempet, lha nek ketabrak rak ya mati tenan)”.
 
Saya jadi ingat ungkapan kekesalan dengan purwakanti “UN” yang tidak berbau nelangsa: Kapiran Kapirun; Gaga (padi) ora matun (panen); Sapi ora nuntun (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST