Sunday, April 15, 2012

MBURU UCENG KELANGAN DHELEG

Uceng adalah ikan kecil yang hidup di sungai, sedangkan Dheleg adalah nama lain dari ikan Kutuk atau ikan Gabus, dengan ukuran yang cukup besar untuk ikan air tawar. Peribahasa lain yang senada, masih dalam bahasa Jawa juga adalah “Mburu Udhet kelangan Welut”. Welut adalah Belut, adapun Udhet adalah belut kecil. Pengertian kedua peribahasa tersebut sederhana saja: Mengejar yang kecil kehilangan yang besar. Tidak jelas apakah karena kurang punya sifat nrima atau memang sedang apes.

Pak Marto dikenal sebagai pedagang ayam keliling. Ia memuat ayam-ayam hidup jualannya dalam semacam kurungan agak besar, diletakkan di bagian belakang sepedanya. Dengan sepeda mobilitasnya lebih tinggi. Ia bisa mangkal di pasar tradisional, bisa pula keliling kampung menawarkan secara door to door.

Alkisah pada suatu hari terjadilah tawar menawar dengan seorang calon pembeli. Ia menawar sembari mengangkat-angkat ayam yang ditaksirnya, seolah-olah menimbang-nimbang berat badan ayam tersebut. Tak dinyana tak diduga (paling tidak oleh Pak Marto) ayam itu lepas dari pegangan dan melarikan diri di antara kaki-kaki pengunjung pasar.

Si laki-laki calon pembeli bergegas mengejar, tetapi masih sempat mengajak Pak Marto: “Mari pak bantu saya kejar ayamnya. Kalau tidak ketangkep saya ganti dengan harga yang ditawarkan bapak tadi”.

Pak Marto masih lihat kiri-kanan sebelum menyusul si calon pembeli. Seorang laki-laki yang sedang minum jamu gendongan jualan mbak Menik yang dasaran tak jauh dari tempat pak Marto mangkal seolah tanggap: “Silakan Bapak bantu tangkap ayam, kasihan juga dia. Ayam-ayam ini biar saya yang jaga. Saya masih nunggu istri saya kok”.

Singkat ceritera, ayam pun tertangkap walau larinya agak jauh. Si calon membeli langsung membayar di lokasi ayam tertangkap, dengan harga sesuai permintaan pak Marto, sambil menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf. Pak Marto dengan hati senang kembali ke tempat ia mangkal. Lumayan, ayam terjual dengan harga tinggi walau harus main petak umpet dengan ayam. Tetapi betapa kagetnya pak Marto, ketika ia melihat sepeda dan ayam-ayam jualannya raib.

Orang-orang di sekitar situ tidak banyak bisa memberi keterangan. Mbak Menik juga sudah tidak ada karena ia juga penjual jamu keliling. Beberapa orang berkomentar bahwa pak Marto ini paribasan “Mburu Uceng kelangan Dheleg. Ngejar ayam satu kehilangan sepeda plus ayam yang lain”. Ada juga yang bilang bahwa si pembeli dan orang yang menawarkan diri untuk menjaga sepeda sudah kong kalikong seperti si Gedheg dan si Anthuk (IwMM)

No comments:

Recent Posts

POPULAR POST