Tuesday, April 30, 2013

ORANG PELIT DALAM PARIBASAN JAWA

Dalam budaya Jawa kita diharapkan bisa gemi dan nastiti: Pandai simpan uang, sekaligus pandai mengelola uang, tapi bukan pelit: Suka simpan uang, tidak mau keluarkan uang. Hidup ini pada hakekatnya adalah “kebersamaan”. Dalam mangan ora mangan kumpul tercermin sifat kebersamaan itu. Demikian pula ungkapan ana pangan ayo padha dipangan, ana gaweyan ayo padha ditandangi, dan masih banyak lagi.
 
Dibawah adalah beberapa paribasan Jawa yang terkait dengan sifat pelit (Jawa: cethil), dan suka menghitung-hitung dengan harapan banyak untung ternyata malah buntung.
 
 
 
Tidak mau memberi sumbangan (diwakili kata uwur yang artinya menabur, sesuatu yang digerakkan oleh tangan), tidak mau pula memberi saran atau nasihat (diwakili kata sembur, sesuatu yang dikeluarkan oleh mulut). Misalnya dalam kegiatan tujuhbelasan di kampung, kemudian panitia membutuhkan dana yang dicari secara gotong royong, maka orang yang tidak mau kontribusi apa-apa bisa dikatakan ora uwur ora sembur. Tentusaja ada saja alasannya. Tidak sumbang uang katanya belum gajian, tidak sumbang barang bilang tidak ada apa-apa di rumah, tidak sumbang tenaga mengatakan sedang sakit dll.
 
 
NJALUKAN ORA WEWEHAN
 
Suka meminta (njaluk) tetapi tidak suka memberi (weweh). Orang minta bisa karena ia butuh. Tetapi kalau suka minta padahal bukan pengemis, berarti orang serakah. Ditambah lagi dengan sifat tidak suka memberi, berarti ia cuma mau simpan tetapi tidak mau mengeluarkan.
 
 
JURANG GRAWAH ORA MILI
 
Jurang grawah adalah jurang yang ada airnya, tetapi air yang ada tertahan di dasar jurang, alias tidak mengalir. Menggambarkan orang yang enggan keluar uang padahal ia punya dan tidak sedikit. Dengan kata lain ia orang pelit.
 
 
TAINE ANA KACANGE DICUTHIKI
 
Mohon maaf kalau kata-katanya menjijikkan. Kacang kalau dimakan sering tidak tercerna semuanya sehingga masih ada pecahan kacang kecil-kecil yang keluar bersama kotoran (tinja). Menggambarkan orang yang amat pelit (diibaratkan sampai kacang kecil-kecil yang ada di tinja dia ambil).
 
 
EMAN-EMAN ORA KEDUMAN
 
Eman: sayang; Keduman: kebagian. Disayang-sayang malah tidak kebagian. Ada contoh sederhana sebagai berikut: Kebetulan di rumah ada satu bakul langsat yang baru saya beli tadi pagi. Tahu-tahu Mas Parmo datang bertamu. Suka tidak suka, karena namanya tamu ya harus ada lungguh, gupuh dan suguhnya, padahal ibunya anak-anak pas tidak ada. Langsat terpaksa saya keluarkan.
 
Karena saya amat suka langsat, daripada dihabiskan Mas Parmo maka saya keluarkan separonya saja. Yang separo saya simpan di kulkas, dengan maksud akan saya makan setelah Mas Parmo pulang. Ternyata selama Mas Parmo bertamu, anak saya datang bersama teman-temannya. Langsatpun licin tandas. Andaikan tadi saya keluarkan semua, pasti masih ada sisa untuk saya. Inilah yang disebut eman-eman ora keduman.
 
 
 
Cincing: Menaikkan celana atau kain ke atas, misalnya waktu menyeberangi genangan air supaya tidak basah, tetapi malah basah kuyup (klebus). Menggambarkan orang pelit. Misal mau hajatan karena sayang keluar uang banyak maka uang yang harus dikeluarkan untuk keperluan hajatan tersebut dikurang-kurangi. Alhasil malah akhirnya keluar uang lebih banyak.
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Dalam hidup ini menjadi pemurah jauh lebih baik daripada menjadi pelit. Orang pemurah dalam membantu sesama selalu banyak teman. Pemurah tidak harus suka memberi uang. Bila kita tidak punya uang, kita bisa pemurah dalam menyumbangkan tenaga. Dalam bahasa Jawa dikatakan enthengan. Bisa juga memberikan sumbang saran yang positif. Orang yang pelit dalam segala hal lama-kelamaan akan dijauhi sesama manusia. (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST