Sunday, December 4, 2011

ORA UWUR ORA SEMBUR: TIDAK MAU KONTRIBUSI

Ora: tidak; Uwur: Gerakan tangan (dalam hal ini menabur); Sembur: Yang dilakukan mulut (menyemburkan sesuatu, termasuk ucapan).

Kembali kelompok “Diskusi Tanpa keputusan” kami bertemu. Sekedar diketahui, kelompok ini sampai sekarang tidak punya nama. Tempo hari Darman mengusulkan nama “DTK” tapi mbah Harjo tidak suka, bisa diplesetkan menjadi “Dana Taktis Kelompok” padahal dana taktis kelompok pada umumnya berasal dari dapur mbah Harjo putri. Nanti dikira mbah Harjo minta dana taktis, padahal keberadaan dana taktis bisa membahayakan institusi. Toni mengusulkan nama “Distan” sama juga dengan akronim “Diskusi Tanpa Keputusan” sekaligus ada makna “distant” yang lebih baik tidak usah dijelaskan karena sudah diprotes Darman, nama itu tidak “njawani”.

Kali ini Darman yang membuka pembicaraan bahwa waktu tujuhbelasan tempohari ia menjadi sekretaris panitia di Kelurahannya. Ternyata menjadi sekretaris itu berat. Ada saja orang yang tidak mau partisipasi samasekali. Diminta sumbangan ada saja alasannya, disuruh ikut kerja juga tidak kurang dalihnya. Tapi waktu resepsi datang dan makan banyak. Tahun baruan nanti dia tidak mau jadi sekretaris.

Mbah Harjo yang paling sepuh melihat Darman dengan tatapan kasihan. “Man, kamu masih muda jangan cepat patah semangat”. Selanjutnya beliau menyampaikan pidato, kali ini benar-benar sebagai orang tua.

“Tuhan menganugerahi manusia mata, telinga, kaki dan tangan bukan tidak ada manfaatnya. Adanya dua mata supaya kamu banyak melihat. Dengan banyak melihat kamu bisa menilai keadaan manusia dan alam. Kamu punya dua telinga supaya banyak yang didengar. Dengan melihat dan mendengar maka otakmu dapat mengolah dan memilah hidup ini tujuannya untuk apa. Selanjutnya Tuhan menganugerahkan dua tangan dan dua kaki, supaya banyak yang dapat kau lakukan untuk kebaikan hidup bermasyarakat”

Semua orang diam mendengarkan. Mudah-mudahan Toni (yang bukan orang Jawa) tahu karena mbah Harjo menyampaikan dalam bahasa Jawa seperti ini:

Allah maringi manungsa peranganing awak iku wis kasalarasake kanggo urip bebrayan. Diparingi mripat loro perlune supaya akeh kang dideleng. Yen akeh sing mbok deleng kowe bisa weruh ala becike kahanan lan jaman. Nanging kudu mbok olah nganggo nalar. Mulane kowe diparingi kuping loro supaya akeh sing mbok rungu. Dadi bisa mbok pilah maneh apa sing becik. Isih tambah maneh diparingi tangan loro lan sikil loro supaya akeh sing mbok tandangi, nanging kudu mbok pilih sing murakabi kanggo bebrayan agung”.

“Bagaimana, Man?” tanya mbah Harjo kepada Darman, tetapi sebelum Darman menjawab dipotong Toni: “Mbah, kalimat terakhir tadi, yang pakai murah ... maksudnya apa?”

Murakabi kanggo bebrayan agung, Ton. Maksudnya bermanfaat untuk masyarakat”, Darman yang menjawab, lalu dilanjutkan: “Mbah, saya ngerti. Tapi coba mbah Harjo jadi saya. Sudah kerja sungguh-sungguh, ada orang yang tidak mau bantu samasekali. Saya betul-betul kecewa. Orang seperti itu mestinya disuruh pindah saja dari kampung saya”.

“Orang seperti itu memang selalu ada dalam kehidupan manusia. Dan memang harus ada sebagai contoh tidak baik untuk semangat gotong royong bangsa kita. Dari dulu ya sudah ada Man,orang seperti itu, dan para sesepuh dulu menyebut sebagai orang yang ora uwur ora sembur”, lanjut mbah Harjo.

“Wah, ilmu baru mbah. Ora uwur ora sembur. Penjelasannya, mbah?” Tanya Toni.

“Gantian Bagyo yang menjelaskan, masa dari tadi saya terus yang ngomong”, jawab mbah Harjo sambil menoleh ke mas Bagyo.

“Ngetes ya mbah?” Mas Bagyo tersenyum. “Jangan kawatir, saya tidak akan mengecewakan”, Sambil memindah letak kakinya mas Bagyo melanjutkan: “Uwur itu gerakan tangan menabur. Pengertiannya kita berpartisipasi dengan menabur. Mulai bantu-bantu angkat kursi sampai memberi sumbangan uang. Sedangkan sembur, siapa lagi yang bisa nyembur kecuali mulut. Tapi dalam hal ini adalah sembur yang baik, misalnya memberikan saran-saran atau partisipasi lain yang menggunakan mulut, tapi bukan mulut waton njeplak mencela kiri kanan tati tanpa saran solusi. Betul ya mbah?”

Mbah Harjo menganggukkan kepalanya. “Teruskan Bag, kesimpulannya bagaimana?”.


“Kesimpulannya ....”, mas Bagyo berpikir sejenak. “Orang yang ora uwur ora sembur adalah orang yang tidak mau melakukan apa-apa, tidak mau kontribusi samasekali. Padahal dia punya mata, telinga, kaki dan tangan masing-masing dua”.

Mas Bagyo menoleh ke mbah Harjo seolah-olah minta persetujuan. “Hebat Bag, aku bisa bicara tapi belum tentu bisa menyimpulkan sebagus kamu”, kata Mbah Harjo.

“Orang seperti itu harus belajar jadi manusia, mbah”, Timpal Toni.

Mbah Harjo tertawa keras. “Karena kamu bukan Jawa, Ton. Maka kesimpulanmu bisa lugas. Itu kelebihanmu”.

Tiba-tiba Darman lari keluar, memanggil penjual Mie yang kebetulan lewat. “Makan mie ya, saya yang uwur”.

Semua tertawa (IwMM)

1 comment:

Ren DeZvi said...

keren BαΩƍε̲̣̣̣̥τ ini blog ήƔª . bner2 nguri2 kabudayan jawa. ∂ķΰ juga suka ceritanya, mirip BαΩƍε̲̣̣̣̥τ dg yƍ sedang ∂ķΰ alami dikampungku sekrng. Lanjutkan y mbah... sukses slalu!

Most Recent Post

POPULAR POST