Wednesday, April 3, 2013

HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI PARA PETINGGI DALAM PARIBASAN JAWA (2): DARI DIRI SENDIRI

Banyak hal-hal yang harus dilakukan para pemimpin, dapat dirujuk ke link mengenai memimpin.
 
Bila pada posting pertama: Hal-hal yang perlu diwaspadai para petinggi dalam paribasan Jawa (1) mengulas tentang hal-hal dari luar, maka dalam tulisan ini mengulas hal-hal yang berasal dari diri sendiri berdasar paribasan Jawa.
 
Diri sendiri merupakan musuh yang paling sulit ditaklukkan. Walaupun kita sudah memahami makna Yitna yuwana, lena kena, tetapi untuk prayitna kepada diri sendiri kita sering lena.
 
Di bawah adalah contoh paribasan Jawa mengenai musuh-musuh yang bersemayam dalam diri sendiri yang berasal dari diri sendiri pula.
 
 
1. SOMBONG
 
Sifat ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA (Adigang: menyombongkan kekuatan; adigung: menyombongkan kekuasaan; adiguna: menyombongkan kepandaian).
 
Pada akhirnya orang yang adigang adigung adiguna akan celaka karena perbuatannya sendiri. Hal ini dibahas secara luas dalam karya Sri Pakubuwana IV dalam posting SeratWulangreh: Adigang adigung adiguna, dimana ketiga sifat tersebut diwakili oleh tiga binatang, yaitu kijang, gajah dan ular.
 
Sifat sombong juga digambarkan dalam paribasan ANGGAJAH ELAR. Elar adalah sayap. Gajah menggambarkan sesuatu yang besar. Dengan demikian “nggajah elar” dapat diterjemahkan sebagai seorang yang membesarkan sayapnya, seorang yang sombong, semua serba berlebih-lebihan.
 
 
2. KUASA
 
ASU GEDHE MENANG KERAHE (Kerah: berkelahi, biasanya untuk binatang) adalah paribasan Jawa yang menggambarkan bahwa mempunyai kedudukan berarti “kuasa”. Pengedhe akan selalu menang dalam segala hal (walaupun ia dalam posisi yang sebenarnya salah).  Dapat dibaca dalam posting Tiga peribahasa dengan “asu”
 
Bahwa petinggi selalu menangan juga dikatakan dalam paribasan PANDENGAN KARO SRENGENGE. Srengenge asalah matahari dan pandengan adalah bertatapan mata. Tidak ada manusia yang tahan bertatapan muka dengan matahari. Demikian pula manusia tidak akan menang melawan orang yang punya kedudukan. Kalau ia berani, maka akan dikatakan kok wani-wanine, pandengan karo srengenge.
 
Melawan orang yang lebih kuat sering dikatakan pula sebagai TIMUN MUSUH DUREN. Kalau orang yang lebih kuat itu masih menggunakan orang kuat lainnya maka nasib orang ini bisa dikatakan seperti TIGAN KAAPIT ING SELA (Tigan: telur; Sela: batu). Dikeroyok orang kuat. Pasti bonyoknya.
 
Saking kuasanya maka sering terjadi peraturan yang dia buat dilanggar sendiri. Hal ini digambarkan dalam paribasan GAJAH NGIDAK RAPAH. (Rapah: dedaunan dan ranting yang bertebaran di tanah. Gajah di alam bebas kalau mencari makan dengan mengambil daun-daun dari pepohonan pasti banyak meninggalkan bekas berupa “rapak” ini).
 
Demikian pula karena dia kuasa plus tidak tahu malu maka ia bisa saja dalam penyelesaian suatu perkara ia menyandarkan dirinya pada orang kecil. Dalam paribasan Jawa disebut dengan GAJAH ALINGAN SUKET TEKI (Alingan suket teki: Berlindung dibalik rumput teki. Ya kalau semut, tapi disini yang berlindung “gajah”).
 
Yang lebih parah kalau ada pertikaian antara dua orang berkuasa, yang jadi korban justru wong cilik. Mirip dengan peribahasa Indonesia, dalam bahasa Jawa dikatakan GAJAH TUMBUK KANCIL MATI ING TENGAH
 
 
3.TIDAK ADIL
 
Yang kita harapkan tentunya pemimpin yang ambeg ADIL paramarta, ternyata ada juga yang tidak adil. Hal ini digambarkan dalam paribasan EMBAN CINDHE EMBAN SILADAN. Yang satu digendong pakai kain cindai (cinde) satunya pakai kreneng (siladan: anyaman bambu yang jarang).
 
Sifat membeda-bedakan ini juga digambarkan dalam paribasan BAU KAPINE. (Bau: bahu; pine: beda; kapine: dibuat beda), juga dalam paribasan SAJIMPIT SAKOJONG. Ibarat beras, maka yang satu diberi satu jimpit (satu jumputan dengan lima jari) sedangkan satunya lagi dikasih satu kojong (satu kojong: sepenuh dua tangan yang ditangkupkan).
 
 
4. NEPOTISME
 
Urusan memberi kedudukan kepada saudara juga diulas dalam paribasan Jawa. Pada posting Ungkapan bahasa Jawa dengan “dhengkul” ditulis tentang NASABI DHENGKUL atau NGIKET-IKET DHENGKUL.

Dengkul adalah bagian tubuh kita, diibaratkan sebagai keluarga sendiri. Nasabi sama dengan ngiket-iket, artinya memberi ikat kepala. Sementara ikat kepala melambangkan kekuasaan. Pengertiannya sudah jelas: memberi kedudukan kepada keluarga sendiri.
 
Dengkul yang bentuknya membulat, tidak tajam, juga menggambarkan orang yang bodoh. Peribahasa DHENGKUL IKET-IKETAN dengan demikian berarti orang bodoh yang diberi kekuasaan. Biasanya karena ada hubungan sesuatu dengan yang memberi kekuasaan. Salah satunya adalah hubungan keluarga.
 
 
LIDING DONGENG
 
Sifat sombong, kuasa, sifat tidak adil dan nepotisme di atas dimiliki oleh seorang “pangarsa” yang tidak memiliki  keteladanan. Kita merujuk kembali kepada kata-kata Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
 
Bila di depan (ing ngarsa) kita tidak mampu menunjukkan diri kita sebagai panutan, maka kalau kita harus berada ditengah-tengah rakyat (ing madya) apakah bisa menjadi motivator yang menumbuhkan greget atau semangat (mangun karsa)? Dengan demikian untuk sampai kepada tut wuri handayani (bila berada di belakang memberi kekuatan), rasanya tidak akan kesampaian. Iwan MM

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST