Sunday, March 24, 2013

TINDAK HATI-HATI DALAM PARIBASAN JAWA (1): MAU RINDHIK ATAU RIKAT?


Teman saya, Toni, pernah bertanya: “Pak, orang Jawa itu efektif atau efisien?” Pertanyaannya mengingatkan saya ke peristiwa lebih 30 tahun yang lalu, ke teluk Kao di Maluku Utara. Ada permukiman transmigrasi dari Jawa, di sana. Seorang pegawai Puskesmas menyampaikan kepada saya: “Orang Jawa itu kalau membersihkan rumput dia cabuti satu persatu. Kan kerja jadi lama.”
 
Ini komentar bagus sekali, pikir saya.  “Betul, tapi rumput tercabut sampai ke akar-akarnya. Lama baru tumbuh kembali. Lain dengan kamu, satu jam kerja selesai karena langsung dibabat dengan parang. Tapi tiga hari sudah rumput panjang lagi”.
 
Kesimpulannya memang sifat dasar orang Jawa itu efektif tetapi dari segi waktu menjadi kurang efisien. Saya sampaikan pada Toni bahwa sekarang karena pergaulan sudah luas, sifat-sifat dasar tersebut sudah tidak kelihatan. Tetapi intinya ketidak-efisienan dari segi waktu tersebut sebenarnya karena sifat hati-hati.
 
Di bawah adalah beberapa contoh sifat kehati-hatian tersebut dalam paribasan Jawa yang nyaris semuanya menggunakan “purwakanthi” sebagai pemanis sekaligus memudahkan untuk diingat:
 
 
MENGAPA LEBIH BAIK “RINDHIK” (PELAN)
 
ALON-ALON WATON KLAKON dalam bahasa Indonesia juga kita kenal kalimat serupa: BIAR LAMBAT ASAL SELAMAT demikian pula dalam bahasa Inggris kita kenal: BETTER LATE THAN NEVER. Kelihatannya paribasan ini bersifat “universal”  Alon, lambat dan late disini maksudnya bukan terlambat, tetapi mengerjakannya tidak perlu grusa-grusu kesusu. Demikian pula kata “waton klakon” bukan berarti “asal sampai”. Tetapi “sampai” sesuai waktu yang direncanakan. Dalam peribahasa yang lain dikatakan bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan TATA, TITI, TATAS dan TITIS. Jadi: Maksudnya “alon-alon” adalah mengerjakan dengan “tata dan titi” sedangkan “klakon-nya” secara “tatas dan titis” yang artinya selesai tepat waktu.
 
GLIYAK-GLIYAK TUMINDAK. Maknanya sama. Gliyak-gliyak adalah jalan santai, dan tumindak adalah bertindak. Mengapa berani gliyak-gliyak? Karena sudah diperhitungkan “time frame” nya dengan perencanaan yang “tata dan titi”.
 
GREMET-GREMET SLAMET. Maknanya sama dengan alon-alon dan gliyak-gliyak, hanya lebih disangatkan dengan menggunakan kata “gremet”. Nggremet adalah merambat. Lha kapan sampainya? Perlu dijelaskan disini bahwa pilihan kata “nggremET” adalah untuk padanan purwakanthi bagi kata “slamET”. Tidak ada hubungannya dengan slamet tapi telat misalnya bila lalulintas padat merambat.
 
 
 
MENGAPA TIDAK PILIH “RIKAT” (CEPAT)
 
KEBAT KLIWAT (Kebat: cepat; Kliwat: lelewatan). Cepat bukannya jelek. Yang dimaksud dengan “kebat” disini adalah ketergesa-gesaan. Sebagai contoh kalau pada awal kita leha-leha kemudian setelah waktunya mepet kita baru bergerak, yang pasti jadi tergesa-gesa dan pasti ada yang kelewatan. Untuk orang yang mau bepergian, ada barang yang ketinggalan. Untuk yang mengerjakan proyek, kalau dikebat karena tutup tahun sudah dekat, pasti hasilnya banyak kekurangan.
 
GANCANG PINCANG (Gancang: tergesa-gesa; Pincang: timpang). Orang berjalan kalau tergesa-gesa, banyak peluang untuk menjadi pincang. Mulai dari kaki lecet, terantuk batu sampai ketabrak becak. Mengerjakan sesuatu dengan “gegancangan” hasilnya bisa “mislek” kata orang Jawa yang mencoba berbahasa Belanda.
 
KESUSU KESARU (Kesusu: tergesa-gesa; kesaru: tiba-tiba kedatangan yang lain, bisa orang, bisa pekerjaan, bisa masalah). Bisa dibayangkan bahwa orang tergesa-gesa mengerjakan sesuatu yang nyaris terlambat kemudian kedatangan pekerjaan lain atau masalah baru. Pasti yang dikerjakan dengan kesusu tidak selesai atau mutunya tidak baik, dan yang “nyaru” tiba-tiba datang tidak tertangani.
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Bukan sekedar permainan kata. Mau pilih mana? Kebat tetapi ada yang kelewatan, Gegancangan tetapi pincang dan kesusu tetapi kesaru? Atau alternatif satunya: Gliyak-gliyak, alon-alon, bahkan nggremet tetapi tumindak, klakon dan slamet yang berarti terlaksana, tepat waktu dan tepat sasaran?
 
Kata kuncinya adalah kita harus “sabar”. Tidak tergesa-gesa, tidak grusa-grusu, tidak nabrak-nabrak. Perhitungkan semua dengan “tata dan titi” termasuk kemungkinan kelambatan sehingga hasil akhirnya “tatas dan titis”. SAREH PIKOLEH berarti mengerjakan apa saja harus sabar, jangan tergesa-gesa, karena SABAR SUBUR.
 
Rindhik yang tidak ditolerir dalam budaya Jawa adalah NGULER KAMBANG. Yang satu ini betul-betul alon yang tidak klakon, dan di luar ranah sifat sabar atau sareh. “Nguler kambang adalah sifat pemalas yang dapat dibaca pada posting Nguler kambang dan kebat kliwat.
 
Bagaimana bertindak hati-hati menurut paribasan Jawa dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: TINDAK HATI-HATI DALAM PARIBASAN JAWA (2): OPERASIONALISASINYA

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST