Monday, January 21, 2013

SERAT WULANGREH: “LAKU LINGGIH” DAN “SOLAH MUNA-MUNI” YANG TIDAK SESUAI “BASA BASUKI”(4)

Pada tulisan Serat Wulangreh dan ungkapan-ungkapan yang mendukung bahwa “basa basuki" itu perlu, dijelaskan bahwa Sri Pakubuwana IV menyebutkan watak manusia ditandai dari laku linggih dan solah muna-muninipun (pupuh Pangkur bait ke 5).
 
Ada dua kata kunci disini, yaitu: Laku linggih (perilaku) dan solah muna-muni (ucapan).
 
Apa saja kah perilaku dan ucapan yang tidak basuki ini? Ternyata banyak sekali “warning” dari Sri Pakubuwana IV yang perlu kita perhatikan. Sehingga supaya tidak menjadi terlalu panjang maka tulisan ini dibagi menjadi empat bagian.

1
2
3
4
Serat Wulangreh: “Laku Linggih” dan “solah muna-muni” yang tidak sesuai “basa basuki”(4)

Tulisan ini adalah bagian keempat atau terakhir  dari perilaku dan ucapan yang bukan basa basuki dalam Serat Wulangreh
 
PENUTUP
Bila dihitung ada lebih dari 50 perilaku (laku linggih) dan ucapan (solah muna-muni) yang menjadi perhatian Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, karena tidak sesuai dengan “Basa Basuki” atau “Basa Raharja” yang seharusnya menjadi "gondhelan" kita semua dalam hidup bermasyarakat.
Hidup memang repot, budi manusia tidak bisa dikira-kira, jarang yang mantap dalam penerapan “basa raharja”. Demikian disebutkan dalam Serat Wulangreh, pupuh Pocung bait ke 23.
Terkait dengan hidup yang repot (ewuh) ini,  pada pupuh Asmaradana bait ke 5 disebutkan: bahwa hidup itu tidak gampang. Bila tidak mengetahui hidup, sama saja dengan kerbau. Masih lebih baik kerbau karena dagingnya dapat dimakan, sedangkan daging manusia kalau dimakan pasti haram. Jadi bagaimanapun susah manusia harus memahami hakekat hidup, bila tidak ingin dikatakan sama dengan kerbau.
Selanjutnya pada pupuh Sinom bait ke 5, Sri Pakubuwana IV berpesan: Taatilah pitutur ini kalau kalian ingin “raharja” (basuki, selamat). Pakailah pitutur ini yang asalnya dari pitutur para sesepuh. Kiranya semua dapat menerapkan pitutur yang baik, menetapi amanah orang-orang tua.

Sebelum mengakhiri Serat Wulangreh, menjelang bait terakhir pada pupuh terakhir, yaitu Pupuh Girisa bait ke 22, Sri Pakubuwana IV menekankan: Oleh sebab itu saya ajarkan kepada semua anak-anakku, saya tulis dalam tembang, supaya semua senang membaca dan dapat merasakan ceriteranya. Jangan bosan untuk menghapalkan dan ingatlah selalu, baik siang maupun malam
Lengkapnya pupuh Pocung, Asmaradana, Sinom dan Girisa, masing-masing bait ke 23, 5, 5 dan 22 adalah sebagai berikut:
 
LIDING DONGENG

Empat kalimat dari Serat Wulangreh ini kiranya dapat menjadikan perhatian kita semua:

1.    watêking manungsa pan katêmu ing laku lawan linggih solah muna-muninipun
2.    tinitik ing solah muna lawan muni ing laku lawan linggih
3.    ing môngsa mêngko pan arang kang katêmu ing basa kang basuki
4.    arang mantêp wijiling basa raharja

Sifat dan perilaku yang sudah ada pada jaman Sri Pakubuwana IV dan belum hilang pada jaman sekarang (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST