Friday, December 7, 2012

SERAT WULANGREH: NARIMA YANG TIDAK BAIK DAN NARIMA YANG BAIK

Menarik sekali apa yang disampaikan Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh mengenai “sifat nerima” dalam pupuh Mijil bait ke 4 s/d 7. Pendapat bahwa “nrima” itu “pasrah bongkokan” dan tanpa upaya samasekali menjadi buyar. Nerima ada yang baik dan ada pula yang tidak baik. Tentunya jadi orang itu harus “nerima” tetapi “nerima” yang baik.

Pada bait ke 4 disebutkan bahwa ada orang yang nerima justru berakhir tidak baik, sebaliknya ada orang yang tidak nerima, akhirnya malah jadi baik. Tetapi Sri Pakubuwana IV juga mengingatkan supaya jangan “salang-surup” (salah tafsir).
Lengkapnya bait ke 4 sebagai berikut:
4. ana wong narima wus titahing | Hyang pan dadi awon | lan ana wong tan nrima titahe | ing wêkasan iku dadi bêcik | kawruhana ugi | aja salang-surup ||
Supaya tidak salang surup maka dijelaskan pada bait ke 5 s/d 7
 
NARIMA YANG TIDAK BAIK
Bait ke 5 pupuh Mijil memberikan contoh “narima yang tidak baik” yaitu orang bodoh yang menerima begitu saja kondisi kebodohannya, tidak mau tanya atau meniru yang pandai. Oleh sebab itu orang tidak boleh malu bertanya, tidak boleh pula malu mengakui kebodohannya. Dalam bait ke 22 pupuh Mijil disebutkan dèn kêrêp têtakon aja isin ngatokkên bodhone.
Selengkapnya bait ke 5 sebagai berikut:
5. yèn wong bodho kang tan nêdya ugi | têtakon têtiron | anarima ing titah bodhone | iku wong narima nora bêcik | dene ingkang bêcik | wong narima iku ||
Orang yang seperti ini bisa-bisa tujuh turunan tidak akan maju. Mengapa demikian? Sebagai contoh, seorang bapak yang kerjaannya “ngarit” (mencari rumput) dan ia sudah nerima seperti itu maka ia akan “ngarit” sampai mati. Bila ia juga tidak berupaya dan memotivasi supaya anak-anaknya maju. Maka anak-anaknya kelak hanya akan mengikuti jejak bapaknya “ngarit” atau yang sejenis “menggembalakan ternak” milik orang lain. Tidak ada pikiran untuk punya ternak sendiri dan mampu mengupah orang lain untuk menggembalakan.
Itulah contoh “narima nora bêcik”. Selanjutnya “dene ingkang bêcik wong narima ikudijelaskan seperti di bawah
 
NARIMA YANG BAIK
Sifat “narima yang baik” dapat dibaca pada bait ke 6 dan 7. Contoh yang diberikan adalah bagaimana seharusnya kita “ngawula” kepada raja; tentunya harus “narima”.
Ada beberapa tulisan dalam Serat Wulangreh dapat dipakai sebagai rujukan, yang intinya adalah “narima”. Saya kemas dalam untuk ngawula (ada empat): Ngawula itu tidak gampang, ngepluk asungkanan, rumeksa marang gusti dan tidak bolehminggrang-minggring.
Dijelaskan pada bait ke 6 bahwa orang yang mengabdi lama-kelamaan juga akan tercapai harapannya, misalnya dipromosikan jadi mantri atau bupati (tentunya dilandasi empat pesan di atas). Kata kuncinya disini adalah “lawas-lawas katêkan sêdyane”. Perhatikan kata “lawas-lawas” atau “lama-kelamaan”. Selama kita berada dalam masa “lama” tentunya harus “narima”.
Lengkapnya bait ke 6 sebagai berikut:
6. kaya upamane wong angabdi | amagang sang katong | lawas-lawas katêkan sêdyane | dadi mantri utawa bupati | miwah saliyaning |ing tyase panuju
Selanjutnya pada bait ke 7 dijelaskan supaya kita tetap “narima” dan tidak membangkang pada raja (tan mèngèng ing katong) maka kecintaan raja (pimpinan) akan sampai kepada keluarga kita. Itulah yang dikatakan sebagai “wong narima bêcik kang mangkono iku”.
Lengkapnya bait ke 7 sebagai berikut:
7. nuli narima têrus ing batin | tan mèngèng ing katong | tan rumôngsa ing kanikmatane | sihing gusti têkèng anak rabi | wong narima bêcik | kang mangkono iku ||
 
KESIMPULAN
“Narima” yang tidak baik adalah orang yang tidak mau atau tidak berupaya untuk memperbaiki nasib. Kalau orang satu desa semuanya punya sifat seperti ini, maka desanya tidak akan pernah maju, tetap menjadi desa yang tertinggal. Kata kuncinya: tanpa upaya.
“Narima” yang baik adalah orang yang sabar. Ia laksanakan pengabdiannya dengan tulus dan ikhlas. Ia kerjakan semuanya dengan rajin dan profesional tanpa menuntut apapun. Yang “becik” akan “ketitik” maka “lawas-lawas” (lama kelamaan) “katekan sedyane”.   Kata kuncinya: Upaya dan sabar. (IwMM)

Dilanjutkan ke Serat Wulangreh: Tidak narima yang baik dan tidak narima yang tidak baik

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST