Tuesday, October 30, 2012

SERAT WULANGREH, PESAN UNTUK NGAWULA (3): RUMEKSA MARANG GUSTI

Merujuk kembali ke penutup tulisan Serat Wulangreh, Pesan Untuk Ngawula (2): Ngepluk Asungkanan, pada bait ke 29 pupuh Maskumambang Sri Pakubuwana IV mengingatkan bahwa celaka itu karena perbuatan kita sendiri (pan kinarya dhewe bilainirèki). Baris selanjutnya menyatakan semestinya kita bersungguh-sungguh lahir batin tidak menyingkir (tan suminggah) dalam melaksanakan perintah pimpinan atau raja. Lengkapnya sebagai berikut: (29) pan kinarya dhewe bilainirèki | lamun tinêmênan | sabarang karsaning gusti | lair batin tan suminggah ||
 
Mengapa kita harus bersungguh-sungguh lahir batin dalam pengabdian, bukan karena hal lain kecuali bahwa pimpinan kita memang pantas untuk dibela. Hal ini dijelaskan pada bait ke 30-34 pada pembahasan selanjutnya.
 
 
MENGAPA RUMEKSA ING GUSTI
 
Pengertiannya dapat dibaca pada bait ke 30 dan 31 pupuh Maskumambang sebagai berikut:
 
Pada bait ke 30 dijelaskan bahwa raja tidak mempunyai saudara, anak, keluarga bahkan istri (siwi, sanak prasanakan, garwa kekasih).  Dilanjutkan pada bait ke 31 bahwa raja hanya memikirkan hukum, keadilan dan adat istiadat (kukum adil adat waton kang dèn èsthi). Oleh sebab itu marilah (mulane ta padha) menjaga raja (rumeksa marang gusti)
 
Itulah alasan mengapa tidak kita bela mati-matian kalau punya pemimpin seperti itu: Ambeg adil sekaligus paramarta dalam mengendalikan roda pemerintahan serta tidak dibebani urusan keluarga dan teman. Mulane ta padha rumeksa ing gusti. Bait ke 31 ditutup dengan kata: Apakah yang dimaksud rumeksa (endi lire wong rumeksa?)
 
Lengkapnya bait ke 30 dan 31 sebagai berikut:

 

BAGAIMANA RUMEKSA ING GUSTI

Intinya adalah gemi, nastiti, ngati-ati (dipun gemi nastiti angati-ati) dan bisa menjaga rahasia pimpinan (dèn bisa arawat  ing wêwadi sang siniwi). Dijelaskan pada bait ke 32-34 dengan penjelasan sebagai berikut:

(1) GEMI: Dalam hal ini gemi mring kagungan ing gusti (gemi terhadap milik pimpinan kita; bisa disamakan dengan milik negara). Oleh sebab itu kalau dipercaya memegang anggaran ya harus pandai menyimpan dan menghindari penggunaan yang tidak perlu misalnya pemborosan dan pembocoran uang negara.

(2) NASTITI: Terkait dengan “gemi” pada bait ke 32 maka pengertian “nastiti” adalah kecermatan pengelolaan anggaran. Terkait dengan “nastiti” pada bait ke 33 (nastiti barang parentah), berarti kecermatan dalam pengelolaan barang. Jadi supaya bisa “gemi” maka pengelolaan “uang dan barang” harus nastiti. Hebat tidak? Pengelolaan uang dan barang yang sampai sekarang ini tetap menjadi isu utama sudah disinggung dalam Serat Wulangreh. Bahkan masih diingatkan lagi untuk:

(3) ANGATI-ATI: kata “ngati-ati” sering disatukan dalam sebuah kata majemuk “nastiti-ngati-ati”. Ada kesamaan makna, tetapi juga penjenjangan makna. Orang yang “nastiti” pasti tindakannya “ngati-ati”.
 

a)    Laku “hati-hati” amat luas penjabarannya. Check dan recheck adalam sikap hati-hati. Melakukan analisis SWOT dan menyusun rencana kontingensi merupakan sikap hati-hati. Dalam ungkapan Jawa, kita dapat menggunakan rumus manajemen: Tata, Titi, Tatas dan Titis yang pelaksanaannya harus: Tatag, teteg, Tangguh, Tanggon, Tanggap danTutug.

b)    Oleh sebab itu diingatkan pada baris terakhir bait ke 32: Supaya jangan sekali-kali menggampangkan (ywa sira wani anggêgampang). Memang “gemi, nastiti dan ngati-ati adalah tugas berat”.

c)    Masih satu lagi tentang “angati ati ini, seperti pesan pada bait ke 34:Ngati-ati dalam ngawula adalah 24 jam (ngati-ati ing rina lawan ing wengi). Berlaku untuk menjaga dan melaksanakan perintah (ing rumêksanira lan nyadhang karsaning gusti).

 
(4) ARAWAT ING WEWADI: Disebutkan pada dua kata terakhir bait ke 31 dan lanjut ke bait selanjutnya: lawan aja wani-wani nuturkên wadining gusti; dèn bisa arawat  ing wêwadi sang siniwi. Ngawula harus bisa menjaga rahasia. Dalam pertemuan apa yang diucapkan raja atau pimpinan bisa merupakan rahasia negara yang tidak semua orang boleh mengetahui. Oleh sebab itu kita tidak boleh membuka rahasia dan mampu menjaga dengan baik.

 

PENUTUP

Kita bisa gemi, nastiti, angati-ati dan arawat ing wewadi kalau ada rasa  “rumangsa melu handarbeni” atau ikut merasa memiliki. Karena sudah merasa ikut memiliki maka ia pasti merasa “wajib melu hangrungkebi”, ia akan membela habis-habisan, bahkan ditohi pati dengan pecahing dada wutahing ludira. Ngawula itu berat; ngawula tidak gampang. Oleh sebab itu kalau kita memang punya karep kuat untuk ngawula, sekali lagi perlu “mulat sarira”;  bila hati memang “hangrasa wani”, teruskan langkah. (IwMM).

 
Dilanjutkan ke Serat Wulangreh, Pesan Untuk Ngawula (4): Tidak boleh “minggrang-minggring”

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST