Thursday, November 1, 2012

SERAT WULANGREH, PESAN UNTUK NGAWULA (4): TIDAK BOLEH MINGGRANG-MINGGRING

Kalau kita memang sudah punya karep kuat untuk ngawula, sekali lagi perlu “mulat sarira”; bila hati memang “hangrasa wani”, untuk ngawula, teruskan langkah dengan mantap. Demikian kurang-lebihnya penutup tulisan Serat Wulangreh, Pesan Untuk Ngawula (3): Rumeksa marang gusti.
 
Ngawula itu berat dan ngawula tidak gampang. Dibutukkan kemantapan hati disertai keikhlasan lahir dan batin. Bila belum siap lahir dan batin, jangan ngawula dulu. Pikirkan hal yang lain saja.
 
Penjelasannya sebagai berikut:
 
 
TIDAK RAGU, MANTAP, SETIA, MELAKSANAKAN SEMUA PERINTAH
 
Disebutkan oleh Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh, pupuh Megatruh bait pertama pada gambar sebelah kiri, bahwa orang ngawula kepada raja itu lebih berat (luwih pakewuh), tidak boleh ragu-ragu (minggrang-minggring), harus mantap (mantêp), setia (sêtyatuhu) dan melaksanakan semua perintah (miturut sapakon).
 
 
IKHLAS LAHIR BATIN
 
Selanjutnya pada bait ke 2 dan 3 di bawah disebutkan bahwa raja melaksanakan perintah Tuhan melaksanakan hukum yang berkeadilan (ratu kinarya wakil Hyang Agung;  marentahkên kukum adil), oleh sebab itu harus diikuti (pramila wajib dèn ênut). Siapa yang mengabaikan perintah raja sama dengan mengingkari perintah Tuhan (kang sapa tan manut ugi; mring parentahe sang katong; aprasasat badaling karsa Hyang Agung). Oleh sebab itu siapa yang akan ngawula kepada raja harus ikhlas lahir batin supaya tidak menemukan kesusahan (mulane babo wong urip; saparsa ngawulèng ratu;  kudu eklas lair batin;  aja nganti nêmu ewoh). Lengkapnya bait ke 2-3 pupuh Megatruh sebagai berikut:

 

RAJIN SEBA

“Seba” adalah hadir pada pisowanan. Mengenai rajin “seba” ini sudah disebutkan pada tulisan Serat Wulangreh, Pesan Untuk Ngawula (1): Ngawula tidak gampang: “ .....dèn pêthêl aseba ....” (Pupuh Maskumambang bait ke 25). Adapun pada pupuh Megatruh bait ke 11 disebutkan semua berkewajiban “seba” pada hari sang prabu hadir maupun tidak hadir. Lengkapnya bait ke 11 seperti pada gambar sebelah atas kiri
 
Jaman sekarang memang tidak ada yang namanya paseban,  tetapi pertemuan seperti sidang atau rapat kan tetap ada. Sudah biasa kalau pimpinan tidak ada atau mewakilkan maka anak buah pun tidak hadir atau juga mewakilkan kepada pejabat dibawahnya. Disini ditekankan, walau raja tidak ada, jangan kosong.
 
 
BILA BELUM MANTAP JANGAN CEPAT-CEPAT MAU NGAWULA
 
Itulah perlunya “mulat sarira” bertanya pada diri sendiri dengan sungguh-sungguh. Sudah siapkah saya mengabdi? Kalau belum, disebutkan pada bait ke 4 pupuh Megatruh bahwa bila hati belum mantap (yèn ati durung tuwajuh) lebih baik tidak usah mengabdi (angur ta aja angabdi). Lebih pas nembang saja dulu, jangan cepat-cepat mengabdi, kalau batin belum ikhlas (bêcik ngindhunga karuhun; aja age-age ngabdi; yèn durung eklas ing batos). Selanjutnya pada bait ke 5 disebutkan bahwa nembang itu tidak sulit (nora ewuh), tidak ada yang iri (ora nana kang ngiri), tidak banyak biaya (mungkul: tidak royal), tidak ada tugas jaga (tungguk kêmit) dan tidak perlu menghadap raja (seba mapan nora nganggo). Bait 4 dan 5 selengkapnya sebagai berikut:

 
PENUTUP
 
Kalau mau bebas ya tidak usah ngawula, tetapi jangan ngresula juga. Pada bait ke 6 pupuh Megatruh pada gambar sebelah kiri disebutkan bagi orang yang tidak ngawula: Cuma kalau ada keramaian di jalan, jalan mondar-mandir tanpa keris, kedua tangan di belakang, berselimut kain kemudian jongkok di pinggir bango (semacam kios tidak permanen).
 
Manusia memang harus memilih. Dalam hal ini adalah ngawula atau tidak ngawula. Kalau sudah mantap untuk ngawula ya ngawula yang baik, melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan penuh tanggungjawab (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST