Friday, January 31, 2014

ORANG YANG “BEGJA” DAN “TAMBAH KEPENAK” DALAM PARIBASAN JAWA (2)

Melanjutkan tulisan ORANG YANG “BEGJA” DAN “TAMBAH KEPENAK” DALAM PARIBASAN JAWA (1) dimana kita bahas A. KABEGJAN (KEBERUNTUNGAN) YANG LANGKA,
 
maka pada tulisan ini kita lanjutkan ke:
 
 
 
 

 
B. UKURAN KEBERUNTUNGAN
 
Semua tentu ada ukurannya. Dulu kita sering menggambarkan ukuran besar dengan “sak gajah abuh”. Gajah mewakili binatang yang sangat besar, masih ditambah abuh (bengkak). Ada lagi yang mengatakan “Sak hohah”. Seberapa besarkah “sak hohah” itu? Pokoknya gede banget sehingga dalam kamus pun sampai tidak bisa dimuat.
 
Dalam paribasan Jawa ukuran keberuntungan diwakili dengan kata KEJUGRUGAN (keruntuhan), KEBANJIRAN dan NYANDHUNG (tersandung). Kejugrugan, Kebanjiran dan Nyandhung apa, tentunya harus barang yang baik.
 
Kita kenal (1) KEJUGRUGAN GUNUNG MENYAN, (2) KEJUGRUGAN GUNUNG KEMBANG, (3) KEBANJIRAN SEGARA MADU dan (4) NYANDHUNG CEPAKA SAWAKUL.
 
Keterangan
 
Menyan: kemenyan; Segara: Lautan; Wakul: Bakul kecil tempat nasi. Biasanya dibuat dari anyaman bambu.
 
Cepaka ada dua pengertian: Yang pertama adalah “bunga cempaka” sehingga “cepaka sawakul” adalah bunga cempaka sebanyak satu wakul. Sedangkan yang kedua adalah Barang-barang perak seperti mangkuk, bokor dan sejenisnya. Dalam hal ini pengertiannya adalah barang-barang kerajinan (seperti disebutkan di atas) yang ukuran besarnya satu bakul
 
 
C SUDAH ENAK TAMBAH ENAK
 
 
Siapa yang tidak ingin? Sudah hidup enak, masih ditambah enaknya sehingga semakin kepenak saja. Di bawah adalah tiga paribasan terkait yang dapat saya inventarisir
 
 
1. ENDHAS GUNDHUL DIKEPETI
 
Endhas: Kepala (Salah satu pisuhan atau makian Jawa adalah: ENDHASMU); Gundhul mempunyai dua arti: Pertama adalah “kepala” (Salah satu pisuhan atau makian Jawa adalah: GUNDHULMU); Sedangkan yang kedua berarti rambut yang dicukur plonthos. Jadi pengertian “endhas gundhul” adalah kepala yang tidak berambut.
 
Kepala gundul itu enak (Jangan dikaitkan dengan demonstran yang rame-rame menggunduli kepalanya). Setidak-tidaknya dalam bahasa Jawa orang gundul dikatakan “isis”.
 
Endhas Gundhul juga tidak gatal karena tidak ada kutu maupun ketombe. Cuplikan geguritan dalam sesorah Ki Dwijawiyata (Yogyakarta, 1937) ini dapat dijadikan rujukan:
 
Prayoga ambuwang rema; bisa ngilangake tuma; bara-bara arang lara; tur sarigak kaya Lônda
 
Terjemahan: Lebih baik membuang rambut; bisa menghilangkan kutu; juga jarang sakit; dan sarigak (maksudnya: sigrak, serba cekatan) seperti belanda (geguritan ini produk tahun 1937 sehingga belanda dijadikan contoh)
 
Jadi “endhas gundhul” yang sudah enak karena isis dan tidak gatal ini masih ditambah dengan “dikepeti” (kepet: kipas; dikepeti: dikipasi). Bayangkan uuuenaknya. Contohnya silakan dicari sendiri.
 
 
2. TURU KASUR DIKEBUTI
 
Pengertiannya sama dengan “endhas gundhul dikepeti”di atas. Dikebuti sama dengan dikipasi. Alat yang dipakai untuk kebut-kebut tentu ukurannya lebih besar dari kipas. Jadi semakin isis saja. Tidur di kasur pasti enak (jaman dulu belum banyak orang tidur di atas kasur). Jaman sekarang kita hari-hari tidur di kasur yang nyaman. Orang masuk diklat saja bisa mengeluh karena kasurnya tidak nyaman, apalagi masuk penjara.
 
 
 
3. MUBRA-MUBRU BLABUR MADU.

Mubra-mubru: serba kecukupan. Dalam hal ini sudah serba cukup masih “blabur madu” (berlabur madu). Bayangkan enaknya.
 
 
LIDING DONGENG
 
Orang beruntung dan kenikmatannya selau ditambah, semuanya adalah nikmat Allah yang harus disyukuri. Mereka umumnya berkecukupan bahkan kaya. Dan orang seperti itu memang ada. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tahu mensyukuri nikmat Allah dan melaksanakan perintah-perintahNya.
 
Kebalikan dari mereka adalah orang yang selalu sial, dapat dibaca pada tulisan Orang-orang sengsara dan apes dalam paribasan Jawa.
 
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan: BEGJA atau CILAKA.
 
Secara fisik dalam tulisan Urip, Mangan dan Nyambutgawe, Kartawibawa kurang-lebih menyebutkan: Yen pengin URIP kudu MANGAN yen pengin MANGAN kudu NYAMBUTGAWE. Jadi jangan Njagakake endhoge si blorok. Karena si blorok (ayam kampung) belum tentu tiap hari bertelur. Kita harus bekerja. Karena ORA NYAMBUTGAWE bisa diartikan ORA URIP.
 
Secara spiritual, dalam Serat Kalatidha, R.Ngabehi Ranggawarsita menyebutkan: Sakbegja-begjane wong kang lali, isih begja wong kang eling lan waspada. ELING (ingat) kepada siapa? Kepada Allah SWT dengan beribadah dan melaksanakan perintah-perintahNya. WASPADA terhadap siapa? Waspada terhadap manusia dan kehidupan manusia.

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST