Saturday, December 28, 2013

ORANG YANG “BEGJA” DAN “TAMBAH KEPENAK” DALAM PARIBASAN JAWA (1)

Di dunia ini ada saja orang yang hidupnya selalu beruntung dan bertambah enak TANPA korupsi atau something like that.
 
Kepada mereka kita tidak perlu iri; mungkin garis tangannya sudah dipathok demikian. Mudah-mudahan mereka masuk dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
 
Di bawah adalah beberapa contoh paribasan yang terkait dengan orang-orang yang mendapat kabegjan ini.
 
 
 
A. KABEGJAN (KEBERUNTUNGAN) YANG LANGKA
 
 
1. CIKAL APUPUS LIMAR
 
Cikal: Pohon kelapa yang masih muda (tunas kelapa). Pupus: Daun yang masih muda. Limar: Kain halus (sejenis sutera). Arti harfiahnya sudah jelas, sesuatu yang langka: Bagaimana bisa pohon kelapa bahkan masih muda bisa berdaun kain sutera. Pengertiannya adalah: Keberuntungan yang amat langka. Contoh sederhananya: Saya membeli seekor ayam kampung untuk disembelih. Ketika membersihkan ususnya ternyata menemukan berlian sebesar biji jagung. Rupanya waktu masih hidup ayam itu sempat mematuk berlian yang barangkali lepas dari cincin pengikatnya.
 
Varian dari paribasan ini: (a) Cikal atapas limar (Tapas: Bagian pangkal dari daun yang membungkus batang sebenarnya. Silakan melihat pohon jenis palem-paleman). (b) Gedhang apupus cindhe (Cindhe: Kain cindai)
 
 
 
Thenguk-thenguk: Orang yang sedang (duduk) tidak melakukan apa-apa. Mungkin sambil ngantuk-ngantuk, pikiran melayang dan (barangkali) ada sebatang rokok terselip di jari atau bibirnya. Kethuk: Salah satu dari seperangkat gamelan Jawa, seperti kenong kecil.
 
Menggambarkan orang yang tidak bekerja tetapi banyak rejeki. Pertanyaannya adalah: Apa ya ada orang nganggur yang banyak untukngnya. Bukankah supaya bisa URIP dan MANGAN kita harus NYAMBUTGAWE? (Baca: Urip,mangan dan nyambutgawe). Ada pengertian yang lebih moderat untuk paribasan ini: Bekerja tidak ngaya tetapi rejekinya banyak.
 
Yang operasional mungkin seperti ucapan Mas Parmo (yang sedang duduk di teras sambil rokokan dan ngopi) waktu saya datang bawa durian: “Wah-wah paribasan thenguk-thenguk nemu kethuk. Maturnuwun, maturnuwun Dhik”.
 
 
3. TIBA KASUR
 
Tiba: Jatuh. Sudah jelas bahwa jatuh itu pasti tidak enak. Tapi yang satu ini jatuhnya di atas kasur. Paling tidak kasur masih lunak dan jatuh di atas kasur masih jauh lebih enak daripada jatuh di atas tanah apalagi jatuh di atas bebatuan.
 
Seorang yang digeser dari jabatan (yang boleh dikatakan basah) ke jabatan lain (yang dikatakan kering) pasti dalam hati mengeluh (lupa bahwa jabatan itu amanah). Ternyata jabatan yang semula kering justru menjadi basah (tidak harus dikaitkan dengan korupsi). Teman-temannya berkomentar: “Kalau dilihat track record-nya, dia itu selalu TIBA KASUR”.
 
 
4. MENANGI GAJIH
 
Gajih: Lemak; Rasanya gurih. Orang Jawa kalau makan sate atau gule, pasti lebih suka yang ada gajihnya (karena pasti mak nyusss ...) lupa kalau kebanyakan makan gajih bisa menimbulkan kenaikan kadar kholesterol, kegemukan, darah tinggi dan sakit jantung. Manusia yang gemuk lemaknya banyak. Semua yang kita makan kalau berlebih akan ditimbun sebagai lemak. Misalnya kelebihan makan dan kurang aktivitas fisik.
 
Dalam paribasan ini pengertiannya: Orang yang mendapatkan enaknya (saja) tanpa merasakan susah-payahnya. Sebagai catatan: Saat itu orang Jawa belum paham kalau “gajih” atau “lemak” bisa menimbulkan penyakit. Tahunya gajih itu enak. Sampai sekarang pun walau kholesterol tinggi, ketika ketahuan makan lemak banyak komentarnya ringan saja: “Kholesterol hanya di laboratorium”.
 
 
5. LEDHANG NEMU PEDHANG
 
Ledhang, leledhang: Terkait dengan orang yang sedang berjalan ( Santai, tidak sedang dalam kondisi tergesa-gesa). Pedhang: pedang (sejenis senjata tajam). Mengapa dipilih kata “pedhang” tentunya supaya purwakanthi-nya pas: DHANG.
 
Dalam paribasan ini pengertiannya: Orang yang sedang tidak melakukan apa-apa (sedang jalan lontang-lantung) menemukan keberuntungan besar (digambarkan dengan “pedang”).
 
 
6. NGLUNGGUHI KLASA GUMELAR
 
Nglungguhi: Menduduki (lungguh: duduk); Klasa: Tikar; Gumelar: Sudah dihamparkan (gelar: hampar).
 
Pengertiannya: Semua sudah tersedia, tinggal menikmati dengan nyaman. Pertanyaannya adalah: Apakah “nglungguhi klasa gumelar” ini termasuk langka? Saya ketemu seorang teman yang minggu lalu dipromosikan. Dialognya kurang lebih seperti di bawah:
 
“Lancar Dik, tugas barunya?”
 
“Yaaa .... lancar kok Mas”
 
“Kalau gitu paribasan Nglungguhi klasa gumelar ya”
 
“Belum seperti itu Mas”
 
“Lho kok ......?”
 
“Yang saya ganti masih duduk di ruangan yang seharusnya saya pakai dan mobil dinas masih beliau bawa”
 

No comments:


Most Recent Post


POPULAR POST