Saturday, June 8, 2013

MENYESAL DI BELAKANG HARI DALAM PARIBASAN JAWA

Menyesal di belakang hari adalah sesuatu yang amat tidak enak. Orang yang tidak kuat iman bisa melakukan tindak bunuh diri. Suatu hal yang dilarang agama. Getun, cuwa dan sumelang adalah romantika kehidupan yang harus dihadapi dengan tabah.
 
 
Di bawah adalah beberapa paribasan Jawa yang terkait dengan penyesalan, kiranya dapat dijadikan rujukan.
 
 
GAGAL
 
Pada umumnya yang disesali manusia adalah keinginan yang tidak kesampaian. Dalam paribasan Jawa dikatakan UCUL SAKA KUDANGAN. (Ucul: lepas; Kudang: menimang bayi atau anak. Cara menimang bisa macam-macam, mulai sekedar dibuai sampai diangkat-angkat ke atas. Dalam hal ini anak yang kita timang terlepas dari pegangan kita).
 
 
 
TERLAMBAT
 
Sesuatu yang terlambat juga amat disesali manusia. Manusia terlambat umumnya karena perilakunya sendiri yang tidak menghargai waktu. Bayangkan kita pas masuk peron tetapi kereta sudah berangkat beberapa menit yang lalu.
 
Dalam hal ini ada peribahasa Jawa yang menjelaskan sesuatu yang amat terlambat: KASEP-LALU WONG METENG SESUWENGAN. (Kasep: Terlambat; Wong meteng: Orang, dalam hal ini wanita, yang hamil; Sesuwengan: Memakai giwang)
 
Penjelasannya agak panjang. Disini yang diibaratkan adalah wanita. Pada masa gadisnya ia tidak pernah bersolek (ora besus), ia mulai bersolek pada saat hamil (digambarkan dengan kata sesuwengan, atau memakai giwang). Padahal dalam budaya Jawa, orang hamil sebaiknya tidak mengenakan perhiasan: Semua perhiasan emas: Gelang, kalung, giwang, cincin, semua dilepas. Jadi kalau orang mengatakan “bareng wis meteng sesuwengan” artinya “terlambat”.
 
Peribahasa di atas kaitannya bukan kelambatan dari aspek waktu tetapi kelambatan bertindak. Misalnya dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk demam berdarah, kita baru melakukan PSN setelah ada korban. mestinya PSN dilakukan seminggu sekali.
 
 
 
TERLANJUR
 
Sesuatu yang sudah terjadi, tidak bisa kembali seperti semula. Dalam peribahasa Indonesia, menanak nasi dijadikan contoh. Kita kenal: Nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak mungkin lagi mengubah bubur menjadi nasi. Oleh sebab itu kita harus sejak awal berhati-hati. Kalau memang mau bikin bubur, air harus banyak. Tapi kalau mau bikin nasi, jangan kebanyakan air.
 
Dalam paribasan Jawa kita kenal: BERAS WUTAH ARANG BALI MENYANG TAKERE. Arti harfiahnya: Beras yang sudah tumpah, jarang akan kembali (ke tempatnya) seperti kondisi semula. Jelas sekali bahwa beras yang tumpah akan tersebar kemana-mana. Tidak semua akan dapat ditemukan, dan yang ditemukan pasti tercemar dengan debu maupun kotoran lainnya. Pengertian peribahasa ini, sesuatu yang sudah berubah tidak bisa pulih seperti sediakala.
 
Contoh paling mudah adalah untuk menjelaskan penyakit. Seorang penderita tekanan darah tinggi dianjurkan dokter untuk tidak merokok, tidak makan makanan berlemak, tidak minum kopi, istirahat yang cukup dll. Karena nasihat dokter tidak dituruti, terjadilah stroke. Ketika sembuh dari stroke nya, nyaris seperti normal, tetapi tidak senormal dulu lagi.
 
Demikian pula anjuran menggunakan helm bagi pengendara sepeda motor. Anjuran memasang sabuk pengaman bagi pengendara mobil dan masih banyak lagi anjuran-anjuran yang pada hakekatnya mengingatkan kita semua bahwa “beras wutah arang bali menyang takere".
 
 
 
MENYESAL
 
Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Demikian ungkapan bahasa Indonesia mengatakan. Menyesali semua yang sudah terjadi, tidak ada manfaatnya. Menjadi hati-hati setelah merasakan sendiri akibatnya, yang dalam paribasan Jawa dikatakan: PUPUR SAWISE BENJUT seharusnya disikapi lebih awal dengan tindak hati-hati sesuai peribahasa PUPUR SADURUNGE BENJUT.
 
Orang-orang yang menyesali kejadian yang sudah berlalu ini dalam paribasan Jawa dikatakan sebagai KEDUWUNG NGUNTAL WEDHUNG (Keduwung: menyesal; Nguntal: menelan; Wedhung: Sejenis senjata genggam, ujungnya runcing perutnya agak membulat). Mau apa lagi, wedhung sudah terlanjur masuk perut.
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Pada akhirnya orang-orang yang gagal, terlambat, terlanjur dll hanya bisa menyesali nasibnya yang terlanjur nguntal wedhung, sudah terlanjur benjut baru pupur dan ia hanya bisa MILANG TATU: menghitung dan menyesali kemalangannya. (Iwan MM)
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST