Wednesday, August 22, 2012

GETUN, CUWA, DAN SUMELANG


Tiga kata ini, “Getun, Cuwa dan Sumelang” senantiasa setia membayang-bayangi hidup manusia. Saya rangkum tulisan dalam Kalawarti Kejawen, Balai Pustaka, 1932 dan tulisan R Prawira Wiwara, Yogyakarta, 1941 sebagain berikut:


GETUN

Dari aspek waktu “getun” atau “keduwung” adalah menyesali kejadian yang sudah berlalu. Kita sering mendengar: “Seandainya saya dulu ..... tentu sekarang tidak demikian nasib saya”, yang merupakan ungkapan umum perasaan orang “getun”.

Tetapi hal itu sudah terjadi, “nasi sudah menjadi bubur”, mau apa lagi. Orang yang curhat ke”getun”annya kepada kita, mungkin hanya kita beri ucapan simpati, “sing uwis ya uwis, sing durung bae diati-ati”. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, yang belum terjadi marilah kita berhati-hati.


CUWA
“Cuwa” atau “kuciwa”, (kecewa) terjadi karena “karep” kita tidak kesampaian (baca: Karep selalu mulur dan mungkret). Dari aspek waktu “cuwa” berjalan dari “past time” sampai “present time”. Dari “cuwa” bisa menjadi “getun” kalau hasil analisis kita mengatakan bahwa maksud yang tidak sampai itu karena salah langkah pada masa yang telah berlalu. Buah dari “getun” dan “cuwa” adalah kesedihan.
“Cuwa” masih lebih baik daripada “getun”. Karena berlaku dari “past” sampai  “present time” maka kita masih bisa mengalihkan “karep” yang tidak terlaksana ke “karep” lain dengan harapan bisa berhasil. Sedangkan “getun” karena yang disesali adalah kejadian masa lalu maka tak ada pilihan lain kecuali menguburnya dalam-dalam.

SUMELANG
“Sumelang” adalah perasaan was-was. Dari aspek waktu maka perasaan “sumelang” berlaku untuk hal-hal mendatang yang belum terjadi pada saat sekarang. Misalnya sumelang kalau tidak lulus ujian, sumelang kalau sakitnya tidak sembuh, dan masih banyak lagi.
Mengapa orang punya perasaan “was-sumelang” antara lain karena sudah “gawan bayi” dia merupakan orang yang tidak pernah yakin, mungkin juga merasa persiapan kurang matang, bisa jadi ia sudah terlalu sering “kebentus-ketumbuk” sehingga jangan-jangan .... yang ini juga gagal. Lalu besok bagaimana?

JANGAN RAGU MENATAP DAN MENJALANI KEHIDUPAN

Buat apa berkeluh kesah karena keluh kesah tidak menyelesaikan masalah. Mengapa ikut-ikut orang yang kehilangan kekuatan dan harapan karena tidak tahan banting?. Mengapa tidak mengikuti jejak orang-orang yang sentausa jiwanya. Biarpun jatuh bangun tetap kembali bangkit dan pada saatnya ia akan tegak dengan gagah. Bagi orang yang kuat jiwanya maka “getun” justru merupakan “tirta amreta”, air kehidupan yang merupakan tonicum  untuk melangkah maju.
Kalau perasaan “getun, cuwa dan sumelang” bisa diminimalkan sampai mendekati “zero” maka tiga hantu ini tidak akan terlalu menakut-nakuti kehidupan manusia. Buah dari “karep” kan hanya “bungah dan susah” dan bukankah bungah susah gumantung sing nglakoni”. Maka manusia akan menjadi orang yang mampu mengelola “creative tension”nya, mampu menghadapi tantangan kehidupannya.  Dalam bahasa Jawa yang sederhana R Prawira Wiwara (1932) menulis:
  1. Urip kapan? Biyen saiki apa besuk ya wani bae
  2. Urip ing ngendi? Ana ing negara Landa, negara Cina, jeron jagad apa ing jaban jagad, ya wani bae.
  3. Urip kaya apa? Dadi kuli apa dadi ratu, dadi wong sugih apa dadi wong mlarat, ya wani bae.
LIDING DONGENG

Penyesalan dan kekecewaan tanpa upaya memperbaiki ibarat memompa ban bocor tanpa menambal lubangnya. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST