Wednesday, May 22, 2013

ORANG-ORANG MBALELA DALAM PARIBASAN JAWA

MBALELA adalah memberontak atau menentang perintah. Dalam dunia pedhalangan banyak lakon carangan dengan judul “ ........ Mbalela”. Misalnya Brajadentha Mbalela, Anggada Mbalela. 

Ada juga yang tanpa kata mbalela tetapi isinya kisah tentang seorang yang mbalela, misalnya Gareng Dadi Ratu, Petruk Dadi Ratu dan masih banyak lagi.

Motif mbalela juga tidak sama: Bisa baik, bisa tidak baik. Sebagai contoh dapat dibaca di Petruk: Pernah tidak kuat Drajat, Semat dan Kramat dan Gareng: Janma tan kena ingina.
 
gambar Anggada Mbalela dari jogjanews.com
 
Ada pula “Novel Jawa Modern” berjudul “Astirin Mbalela” yang dapat dibaca di internet: Mengisahkan Astirin gadis dusun di sekitar Ngunut, yang ikut MbokDhenya. Ia mbalela melarikan diri karena disuruh menikah sama Buamin pria pilihan keluarga. Hasil mbalelanya ternyata baik. Di bawah adalah kutipan alinea pertama dan terakhir novel tersebut:
 
Alinea pertama: Astirin prawan ndesa biasa, melu mbokdhene sing bakul sega pecel ing desa sisih kidul Kutha Ngunut. Kuwi tata laire. Sandhangane bedinan nggedhobroh diwenehi lungsuran saka mbok¬dhene. Rambute madhul-madhul ora tau kambon shampo lan jungkat
 
Alinea akhir: “Ah, slamet, Ndhuk! Kowe ora dadi bojone Buamin! Ngguhna rak dadi randhane prampok! Astirin mung mesem. 0, yen Astirin ora nuruti musike atine kudu minggat, kudu mbalela, bisa uga ya kaya mengkono kuwi! Astirin rumangsa beja, marga mbalela…! Ora! Astirin dudu prawan ndesa biasa. Dheweke warga negara klas kambing sing duwe kekuawatan urip luar biasa! Sanggup merangi rubeda sing diprangguli ing lelakon uripe. Dheweke yakin yen menang, kagayuh apa sing dadi kekarepane.
 
Beberapa contoh paribasan yang bernuansa “mbalela” dapat diwaos di bawah sebagai berikut:
 
1. MADAL SUMBI
 
Ada beberapa pengertian “Madal”. Yang cocok dengan peribahasa ini adalah: Menolak, tidak mau menurut. Analog dengan ungkapan “larane wis madal tamba”: Artinya penyakit yang sudah tidak bisa diobati: Seolah-olah menolak (madal) tamba (obat).
 
Adapun pengertian “sumbi” (lihat gambar di bawah) adalah bagian dari alat tenun, semacam bilah yang dibalut kapas untuk meregangkan yang ditenun. Arti harfiah “madal sumbi” adalah adanya sesuatu yang tidak halus, sehingga tenunan tidak rata, dengan adanya benjolan-benjolan kecil (Jawa: Njekethut).
 
Pengertian peribahasa “madal sumbi” menggambarkan orang yang menolak perintah, atau tidak segera melaksanakan perintah. Ibarat kain yang ditenun tidak mau diatur oleh sumbi.
 
 
 
2. MADAL WICARA
 
Ini lebih mudah dipahami daripada madal sumbi. Artinya sama: Orang yang menolak perintah. Bila madal sumbi masih ada “gojag-gajeg”nya dalam arti tidak segera melaksanakan perintah, maka dalam madal wicara jelas-jelas menolak dhawuh.
 
 
3. MBONDHAN TANPA RATU
 
Bondhan atau mbondhan adalah menari. Saking asyik dan senangnya menari seolah-olah merasa tidak ada raja (tanpa ratu). Pengertiannya adalah: Orang yang bertindak semaunya sendiri, tidak mempedulikan lagi bahwa hidup ini diatur berbagai norma. Misalnya norma agama, norma kemasyarakatan dan norma hukum.
 
 
4. NGALASAKE NEGARA
 
Negara dianggap hutan (ngalasake). Menggambarkan orang yang tidak mengindahkan norma hukum, bertindak semaunya, tidak mau menuruti peraturan perundang-undangan.
 
 
5. MIRONG AKAMPUH JINGGA
 
“Mirong” menurut Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939 adalah: (1) Menyelimutkan “kampuh” di pundak untuk menutupi badan. (2) Sikap menjauh, tidak mau berkumpul, mempunyai niat untuk memberontak.
 
“Mirong” sama dengan “Wirong” yang artinya (1) Sedih, susah; (2) Meninggalkan kelompok karena malu atau tidak suka.
 
“Kampuh” adalah kain panjang busana pria Jawa jaman dulu. “Kampuh jingga” adalah kampuh yang pinggirnya berwarna merah.
 
Pengertian “Mirong kampuh jingga” adalah memberontak. Bila butir 1 s/d 4 di atas bisa digunakan untuk orang-orang yang tidak mau melaksanakan perintah orang tua, atasan atau melanggar hukum, maka untuk “mirong kampuh jingga” lebih diarahkan kepada memberontak (kraman) kepada negara.
 
 
6. MBEGUGUK NGUTHA WATU
 
Mbeguguk: diam tidak mau bergerak seperti benteng batu (kutha watu). Terlanjur banyak disalah-ucapkan menjadi “MBEGUGUK NGUTHA WATON”.  Kita bisa bayangkan sebagai orang yang diam ditempat tidak mau digerakkan.
 
Pengertian umumnya adalah orang yang membangkang atas perintah.
 
Contoh paling mutakhir adalah almarhum Mbah Marijan yang tidak mau turun gunung saat erupsi Gunung Merapi sudah dalam tahapan paling bahaya. Padalah yang memerintahkan adalah Sri Sultan Hamengkubuwono sendiri.
 
Banyak analisis mengenai hal ini: Mbah Marijan sebenarnya mbalela apa tidak.
 
 
 
Ini juga salah satu jenis mbalela yang masih OK. Ada orang-orang tertentu kalau kita suruh mengerjakan sesuatu banyak komentar (criwis). Baiknya ia “cawis” (siap). Jadi ia tetap mengerjakan dan hasilnya bisa baik bahkan amat baik. Hal ini tidak akan terjadi di kalangan Militer, karena tidak ada jawaban lain kecuali: Siap kerjakan!
 
 
LIDING DONGENG
 
Orang mbalela bagaimanapun harus diberi pengarahan. Apalagi kalau arahnya ke pelanggaran hukum atau makar, sebelum menjadi tindakan hukum. Siapa tahu hanya karena perbedaan sudut pandang atau salah persepsi.
 
Mbalela ringan dalam konotasi bandel, bisa dilakukan anak atau bawahan. Sebagai orang tua kita harus arif. Barangkali hanya cari perhatian, atau karena pendapatnya tidak didengar. Jangan patahkan semangatnya. Barangkali kita yang salah.
 
Yang penting jangan bosan-bosan memberi pengarahan dengan logika yang dapat diterima. Kita juga harus siap kalau yang kita beri pengarahan tetap “mbeguguk ngutha watu”. Walaupun sudah berulang-kali memberi pitutur paribasan “LAMBE SATUMANG KARI SAMERANG”, ibarat bibir kita yang tadinya sebesar tumang (ganjal untuk bibir tungku di dapur jaman masih pakai kayu, biasanya dari pecahan genting) tinggal sebesar merang (batang padi) kita harus tetap sabar. (Iwan M Muljono)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST