Monday, May 20, 2013

YANG MUDAH, YANG SUSAH DAN YANG TIDAK SELESAI DALAM PARIBASAN JAWA

Liburan di Jogja selalu menyenangkan. Tidak hanya kulinernya yang “ngangeni” tetapi juga kita bisa mendengar ungkapan-ungkapan yang lama tidak kita dengar. Bagi saya seperti mendengar lagu oldies yang lama tidak diputar.
 
“Sipil, pakdhe”. Saya menoleh dan senyum sendiri mendengar kata “sipil” yang sudah lama tidak saya dengar, dari Pak tambal ban. “Sipil” adalah “gampang sekali, nggak ada masalah”. Ia katakan demikian setelah seorang laki-laki setengah umur menyodorkan sepeda yang remnya macet.
 
Menyelesaikan sesuatu pekerjaan ada yang gampang, ada yang sulit ada pula yang tidak rampung. Sebenarnya semua bergantung kita sendiri. Mau cepat atau lambat, mau selesai atau tidak selesai.
 
Di bawah adalah beberapa ungkapan Jawa untuk hal-hal yang mudah diselesaikan, yang sulit dan yang berhenti di jalan, kiranta dapat dijadikan rujukan:
 
 
YANG AMAT MUDAH
 
1. SUWE MIJET WOHING RANTI
 
Ranti adalah buah seperti tomat tetapi kecil-kecil, kulit buahnya juga tipis dari tanaman perdu. Menggambarkan pekerjaan yang amat mudah dikerjakan, ibarat memijat buah ranti yang bisa dikerjakan oleh ibu jari dan jari telunjuk tanpa kesulitan.
 
Tukang tambal ban tadi kalau ditanya: “Lama apa tidak?” karena ia sudah berani mengatakan “sipil” maka ia bisa menjawab: “Nggak akan lama, suwe mijet wohing ranti”.
 
2. TIMUN JINARA
 
Kulit buah mentimun juga tipis, demikian pula daging buahnya. “Jara” adalah semacam bor. “Timun jinara artinya mentimun dibor”. Apa susahnya mengebor mentimun? Artinya sama dengan yang di atas: Pekerjaan yang amat mudah dilakukan.
 
3. EMPOL PINECOK
 
Kalau kita membelah kelapa yang sudah tua, maka di bawah lubang tempat ia akan bertunas akan kita temukan (lihat gambar di bawah) semacam benjolan bundar yang halus dan lunak. Kalau dimakan rasanya juga gurih. “Pecok” adalah memotong (dengan parang). Pasti tidak ada susahnya samasekali untuk memotong empol ini. Maksudnya sama dengan yang di atas: Pekerjaan yang amat mudah dilakukan

 
 
YANG AMAT SULIT
 
1. NUTUTI LAYANGAN PEDHOT
 
Barangkali banyak diantara kita yang pada masa kecil dulu suka ikut rame-rame mengejar layang-layang putus. Yang jelas happy-happy saja walau harus lari, kadang-kadang harus berebut, panjat pohon atau naik atap. Ada juga yang berakhir saling baku pukul.
 
Pengertian peribahasa ini adalah mengharap kembalinya barang kecil yang hilang; andaikan bisa didapatkan kembali hasilnya tidaik sepadan dengan jerih payah kita. jadi: Tingkat kesulitan tinggi, hasil tidak memadai
 
2. MECEL MANUK MABUR
 
“Pecel” menurut Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, adalah lauk yang dibuat dari sayur-mayur dan sambal. “Mecel” adalah membuat pecel, bisa kita artikan dengan memasak lauk. “Manuk mabur” adalah burung terbang. Burung yang sedang terbang tentunya harus ditangkap dulu, dan seterusnya sampai bisa dimasak. Dalam hal ini kita berhasil “mecel manuk mabur”. Artinya: Kita sukses melaksanakan pekerjaan yang amat sulit.
 
3. MBURU KIDANG LUMAYU
 
Sering juga dikatakan NUTUTI KIDANG LUMAYU. Mburu dan Nututi artinya sama: mengejar. Lumayu: lari. Kijang terkenal sebagai pelari cepat. Dalam Serat Wulangreh kijang digambarkan sebagai makhluk sombong mewakili sifat Adigang, merasa paling kuat. (Serat Wulangreh: Adigang Adigung Adiguna).
 
Peribahasa “Mburu kidang lumayu” menggambarkan orang yang melakukan sesuatu yang belum jelas berhasil atau tidaknya. Yang jelas: “Success Rate” rendah. Andaikan sukses berarti kita berhasil “Mecel manuk mabur”.
 
4. NGATURAKE KIDANG LUMAYU
 
Serupa tapi tak sama dengan “mburu kidang lumayu”. Bila pada “Mburu kidang lumayu” kita mengejar sesuatu yang sulit untuk diri kita sendiri atau mengomentari kelakuan orang lain yang seperti itu, maka pada “Ngaturake” kidang lumayu kita menyuruh atau membujuk orang lain untuk melakukan sesuatu sulit atau hampir tidak mungkin untuk diperoleh.

 
 
5. KEKREK AREN
 
“Kekrek” artinya menyobek dengan pisau. Kata “kekrek” umumnya digunakan untuk sesuatu yang bisa “dikekrek” misalnya daun, kulit batang pohon, dll. Tapi disini yang “dikekrek” bukan batang atau daun pohon pisang melainkan pohon aren yang keras dan mungkin berduri. Pengertiannya: Seorang yang melakukan pekerjaan susah dengan rasa was-was melakukannya (karena tangan bisa terluka). Jadi: Sukses dengan was-was karena tingkat keamanan yang rendah.
 
6. NYERET PRING SAKA PUCUK
 
Pengertiannya: Pekerjaan mudah jadi susah karena salah cara mengerjakannya. Bila kita menebang bambu kemudian mau menariknya, tentu lebih mudah ditarik dari pangkal batangnya daripada dari pucuknya. Dapat dibaca pada posting Bambu dan ungkapan Jawa (2): Dongeng dan  Paribasan.

 
 
YANG TIDAK DISELESAIKAN
 
1. NGLANGI ING TENGAH MATI ING PINGGIR
 
Nglangi: berenang. Dalam hal ini kita berenang sampai di tengah kemudian berhenti. Tentu akan tenggelam dan terbawa lagi oleh air ke tepian dalam keadaan mati. Proyek yang mangkrak adalah contoh paling gampang untuk paribasan ini. Sudah setengah jadi kemudian berhenti. Pengelolanya bisa diusut. Oleh sebab itu hati-hati bila mengerjakan proyek yang “multiyears”, misalnya 3 tahun. Tahap pertama selesai tanpa masalah kemudian tahap ke dua anggaran tidak disetujui.
 
2. TINGGAL KOKOH
 
Meninggalkan (tinggal) “kokoh”. Pengertian kokoh adalah makan nasi dengan lauknya, sayur-sayuran berkuah. Dalam hal ini “kokoh” ditinggal pergi. Arti harfiahnya: Makan tidak diselesaikan, ditinggal pergi begitu saja. Makna peribahasa ini: meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.
 
Perilaku ini banyak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau yang ditinggalkan pekerjaan untuk urusan pribadi tentunya tidak mengganggu orang lain. Tetapi kalau untuk kepentingan bersama atau kepentingan orang lain, akan amat menghambat.
 
Bayangkan bila dua orang menyelesaikan dekor untuk tujuhbelasan kemudian yang satu “tinggal kokoh”. Maka penyelesaian jadi beban yang ditinggalkan. Tapi jangan berani-berani “tinggal kokoh” untuk proyek resmi yang harus ia selesaikan. Bisa masuk DPO.
 
3. MERANGI TATAL
 
Merangi (dari kata dasar “perang”) artinya “membacok Adapun “tatal  adalah potongan kayu kecil-kecil dari hasil orang membelah kayu.  Dalam hal ini kayunya sudah selesai dibelah atau dikerjakan, tatalnya masih dibacoki. Menggambarkan pekerjaan yang tidak diselesaikan sekali jadi. Dalam bahasa Jawa juga disebut: Mindho-gaweni (kerja dua kali).
 
“Merangi tatal” memang tidak jelek-jelek amat. Masih efektif tetapi tidak efisien. Sebagai contoh ketika pembantu rumah tangga pulang, maka seorang suami yang baik membantu isterinya mengepel lantai, sementara isterinya memasak. Ketika dapur bisa ditinggalkan sang isteri masuk ruang dalam melihat hasil kerja suaminya: “Pak, yang dibawah meja makan masih kotor”. Sang suami dengan bersungut-sungut mengambil kain pel lagi, memberihkan bawah meja makan yang tadi memang sengaja ia lewatkan. Ketahuan, terpaksa “merangi tatal”.

 
 
LIDING DONGENG
 
Pekerjaan bisa mudah bisa sulit. Kalau mudah tidak ada masalah asal kita tidak “nggampangake” (menganggap enteng).
 
Yang sulit bisa karena memang sulit (kekrek aren), bisa karena kita salah tehnik dalam mengerjakannya (nyeret pring saka pucuk), oleh sebab itu SOP (Standard Operating Procedure) perlu kita kuasai. Jangan LUMPAT KIDANG (mengerjakan pekerjaan tidak sesuai urutan yang seharusnya). Jangan mencari-cari pekerjaan yang hanya buang-buang energi (nututi layangan pedhot) atau peluang untuk menyelesaikannya nyaris tidak ada (nututi kidang lumayu).
 
Manajemen waktu perlu diutamakan (dapat dibaca di: Wektu ora bisa bali aja kongsi ana wektu liwat tanpa guna). Kalau hanya “merangi tatal” masih selamat. Tetapi jangan sampai “tinggal kokoh” dengan akibat “nglangi ing tengah mati ing pinggir”.
 
Manusia harus punya komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan didukung kompetensi yang cukup. Jangan mengharapkan ada “Tunjung tuwuh ing sela” (teratai tumbuh di batu) atau “Jamur tuwuh ing waton” (jamur tumbuh di bebatuan). Jangan pula “ NGEMPUKAKE WATU ITEM” (menganggap gampang sesuatu yang sulit). Iwan M Muljono

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST