Saturday, May 18, 2013

MELACAK GOMBAL AMOH DAN GOMBAL MUKIYO

“Gombal” menurut Bausastra Jawa, Poerwadarminta, 1939, adalah pakaian yang sudah lama. Pasti warnanya pudar dan robek-robek karena lapuk.
 
Terkait dengan kata “gombal” dalam pengertian yang hampir sama adalah kata “amoh” yaitu kain yang sudah robek-robek karena tua.
 
“Gombal amoh” adalah kata majemuk menyangatkan. Yang namanya gombal pasti amoh. Pakaian yang sudah gombal jelas tidak layak pakai.
 
Kita sering dengar permintaan sumbangan “pakaian layak pakai” artinya pakaian bekas tetapi masih pantas dipakai.
 
Rupanya banyak orang memanfaatkan peluang permintaan sumbangan untuk butuhe dhewe yaitu “cuci almari”: membuang dengan dalih menyumbangkan gombal-gombal amohnya.
 
 
GOMBAL DAN GOMBAL AMOH
 
Menyumbangkan pakaian yang sudah gombal plus amoh, sama saja dengan tidak menberikan sesuatu. Sama saja dengan bohong. Demikian pula mengucapkan kata-kata yang tidak layak diucapkan, misalnya berbohong, tidak menepati janji, membual, dll adalah kata-kata “gombal” atau kalau mau lebih tegas lagi, kita katakan: “gombal amoh”.
 
“Gombal” dan “gombal amoh” termasuk perbendaharaan kata bahasa Jawa. Sebagai kalimat aktif  merupakan umpatan atau makian. Bukan makian halus, bukan pula makian kasar. Tetapi makian dengan canda diantara orang-orang yang sudah akrab dalam suasana informal.  

Kalau kemudian kita kenal kata “rayuan gombal”, ini sih bahasa Indonesia dan merupakan kata kerja, yang memang nggombal, seperti telah disebutkan di atas. Bapak-bapak termasuk saya pasti dulu pernah melakukannya.
 
Ceritera ini sudah lama berselang kejadiannya: Ketika itu boss saya menagih naskah sambutan yang beliau minta. Saya katakan: “Sudah di meja Bapak dari tadi pagi (saya amat yakin karena sekretaris beliau sudah saya wanti-wanti)”. Beliau melotot ke saya: “Gombal, kamu. Mana?” Sekretaris pun dipanggil. Akhirnya ketemu juga, tertindih berkas-berkas yang beliau bawa dari rumah. Setelah sekretaris keluar, beliau mengatakan: “Kalau begitu yang gombal amoh saya, ya”. Saya iyakan dan beliau tertawa. Dalam hati saya memuji beliau sebagai pimpinan yang sportif.
 
 
GOMBAL MUKIYO
 
Kata-kata ini bersama ora patheken pertama saya dengar ketika pindah tugas ke Jawa Timur. (Keduanya mungkin ungkapan asli Jawa-timuran yang memang lebih lugas). Baru beberapa hari bertugas saya sudah berkali-kali dengar temab berbicara saling menggombal-mukiyokan. Kelihatannya saling memaki tetapi kok sambil ketawa-ketawa.
 
Pada akhirnya saya menyadari bahwa ungkapan Gombal Mukiyo yang dilontarkan seseorang mengandung unsur kesal, unsur menyindir dan pernyataan bahwa “aku tahu itu bohong-bohongan” dilandasi selera humor tinggi.
 
Sebagai contoh Ketika seorang teman mengatakan bahwa ada sumur tiban yang muncul di bawah tempat tidur tetangganya, maka ada yang komentar: “Ah gombale Mukiya maneh”. Teman yang digombalkan juga cuma cengar-cengir tetapi tidak marah. Hanya saja teman yang namanya Muktiyo kalau sudah ada kata “Mukiyo” muncul ia akan raib diam-diam sebelum Mukiyo bergeser menjadi Muktiyo (ini saya tidak nggombal Mukiyo lho).
 
 
MENGAPA HARUS GOMBALNYA MUKIYO?
 
Kata “gombal” dengan atau tanpa pakai “amoh” sudah jelas. Yang masih jadi misteri adalah “Mukiyo” yang pasti nama orang, dan pasti orang Jawa banget. Ada hubungan apa antara Mukiyo dengan Gombal?
 
Kurang lebih setahun lalu, teman dari kelompok Facebook MamaConga (Mantan Mahasiswa Complex Ngasem), Dr. Soemartono Samadikoen, SpM dalam postingnya menulis yang intinya: Tahun 1963-1964 waktu itu beliau sekolah SMP di Nganjuk (Jawa Timur) ada orang gila yang kemana-mana menyeret gombal dan makin lama gombalnya makin banyak. Orang gila ini namanya Mukiyo.
 
Hal ini dikonfirmasi dr. Basuki Sutantoro, SpS yang masa kecilnya (1960an) di Kediri (sekitar 30 Km dari Nganjuk). Beliau juga mendapat ceritera bahwa ada orang gila bernama Mukiyo yang tidak pernah berganti pakaian. Jadi pasti kotor dan baunya juga bukan main-main.
 

 
Mengapa Mukiyo gila, salah satu versinya adalah: Dulu Mukiyo orang kaya di Nganjuk. Demikian ditulis Ruth Wijaya dalam blognya pada tahun 2007. Ia menjadi gila pada jaman uang Rp. 1000 diturunkan nilainya menjadi Rp 1. Kejadian ini kira-kira juga pada tahun 1960an. jadi cocok dengan penjelasan dua dokter spesialis di atas.
 
Dalam kegilaannya semua uang dan pakaian dimasukkan dalam satu wadah dan diseret-seret kemana-mana. Makin lama makin besar buntalannya karena setiap ada gombal ia masukkan. Ada juga yang menambahkan, tidak hanya gombal tetapi daun-daun kering yang dianggapnya uang pun masuk. Kebenarannya Wallahu’alam.
 
Orang gila pasti omongnya ngelantur. Kebetulan orang yang dikatakan suka “nggombal”, kalau tidak ngelantur ya tidak bisa dipegang omongannya. Jadi cocoklah sudah untuk ungkapannya. Semua yang jelek (belum tentu berarti kejahatan) di-mukiyo-kan. Dalam perjalanan waktu, sekarang ini orang-orang yang perilakunya merugikan orang lain juga kena "Mukiyo".
 
 
LAPORAN DARI BOSTON
 
Saya temukan tulisan hampir 4 tahun lalu (27 September 2009) yang ditulis Budiono Darsono di DetikNews, dengan judul SBY: Dalam Bahasa Inggris Itu Namanya Gombal Mukiyo.
 
Kutipannya sebagai berikut:
 
Jargon kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah, harus dibuang. Jargon itu jelas-jelas menghambat majunya Indonesia.
 
"Harusnya urusan selesai sehari, baru seminggu selesai. Dalam bahasa Inggrisnya, itu namanya gombal mukiyo," kata Presiden SBY.
 
Gombal mukiyo yang dilontarkan SBY disambut dengan ger geran dari pelajar dan masyarakat Indonesia yang memenuhi ruangan di lantai 2 Hotel Four Seasons, Boston, Amerika Serikat, Sabtu (26/9/2009) pukul 20.30 waktu setempat atau Minggu (27/9/2009) pukul 07.30 pagi waktu Jakarta.
 
Gombal mukiyo itu adalah ungkapan dalam bahasa Jawa untuk menyebutkan kelakukan yang tidak baik. Nah, budaya gombal mukiyo alias sikap birokrasi yang justru tidak melayani tapi malah menghambat pelayanan, akan dibersihkan.
 
Selengkapnya dapat dibaca pada link di bawah ini:
 
 
CATATAN
 
Disini Budiono Darsono mendefinisikan Gombal Mukiyo sebagai kelakuan yang tidak baik, dengan mengambil contoh teguran Presiden SBY atas sikap birokrasi yang menghambat. Mengapa Gombal Mukiyo bisa bergaung di Boston melalui Bapak Presiden SBY, menurut pendapat saya tahun 1960an bapak Sby yang masih remaja berada di Pacitan, Jawa Timur dan tidak terlalu jauh dari Nganjuk.
 
Gombal Mukiyo bukan ungkapan kasar, walaupun ada nada kesal  tetapi disampaikan dalam guyon. Di atas telah saya tulis bahwa Gombalnya Mukiyo ini disampaikan dalam suasana akrab dilandasi selera humor yang tinggi. Oleh sebab itu Budiono Darsono menulis: “Gombal mukiyo yang dilontarkan SBY disambut dengan ger geran dari pelajar dan masyarakat Indonesia ......”. Dalam hal ini Bapak kita telah menempatkan penyampaian kata Gombal Mukiyo secara pas.
 
 
LIDING DONGENG
 
Gombalnya sudah jelas: Secara harfiah adalah kain atau pakaian tua yang sudah usang dan kotor. Bila mau disangatkan bisa dilengkapi dengan “amoh” menjadi “gombal amoh”.
 
Misterinya ada pada “Mukiyo”. Mengapa harus Mukiyo yang digombalkan? Ada beberapa versi: Asal-usulnya mengarah dari dari Jawa Timur. Dari beberapa informasi, mengerucutnya ke daerah Nganjuk. Barangkali Bapak Ibu yang berasal dari Nganjuk lebih tahu mengenai ini. Kalau dari Jogja rasanya kok tidak. Saya dari lahir sampai selesai pendidikan berada di Jogja sepertinya tidak akrab dengan Mukiyo yang nggombal ini.
 
Pak Mukiyo yang mestinya sudah meninggal dunia bukanlah sosok yang harus disalahkan. Gombalnya lah yang jadi subyek karena kekhasannya: "Tambah banyak dan tambah bau". Beliau hanyalah pelengkap untuk memfokuskan subyek, tetapi terpaksa ikut menderita.
 
Siapapun Mukiyo dan seberapa menyengatkah bau gombalnya, kata-tata Gombal Mukiyo ini sekali lagi konotasinya tidak kasar. Ada unsur candanya. Kalau ada diantara Bapak dan Ibu ketemu saya, lalu saya berceritera habis diajak makan Presiden Obama, kira-kira Bapak atau Ibu akan tertawa sambil mengatakan: “Ah Gombal Mukiyo, kamu”. Maka saya tidak boleh marah. Hanya mohon maaf kata-kata saya belum selesai: “Kaget saya terbangun karena sopir Bis mengerem mendadak”. Mungkin masih ada yang kersa kasih tambahan komentar: “Omongan Bapak ini betul-betul semakin Gombal Mukiyo” (Iwan MM).

2 comments:

Dset said...

Betul bahwa Mukiyo dari kota Nganjuk (Selatan).
Berambut gimbal dgn gombal yg diseret cenderung bertambah banyak.

Bambang H Masrihadi said...

Soal gombale Mukiyo, th 1970-1974 usia saya 11th-13th dan tinggal di kota Tulungagung. Saya masih ingat, suatu ketika ada orang gila lewat sambil nyeret2 kain bekas (gombal), gombalnya direnteng-renteng sampai panjaaang. Kata pak penjaga rumah.. ya itu Mukiyo.
Menurut pak penjaga rumah, pak Mukiyo berasal dari Nganjuk, dia kemana-mana berjalan. Makanya kadang terlihat di Kediri, kapan waktu berada di Tulungagung atau Nganjuk. Selama itu seingatku, melihat Mukiyo dgn gombalnya hanya sekali-kalinya.
Apakah benar itu Mukiyo dimaksud wallahu alam. :-D:-D:-D

Most Recent Post

POPULAR POST