Thursday, May 16, 2013

SEMUA YANG DISEMBUNYIKAN AKAN KETAHUAN DALAM PARIBASAN JAWA

BECIK KETITIK ALA KATARA adalah paribasan Jawa yang sudah banyak diketahui. Kebaikan walaupun tidak dipamer-pamerkan pasti akan diketahui banyak orang.
 
Demikian pula keburukan, walaupun disembunyikan suatu saat akan ketahuan.
 
Jadi buat apa pamer kebaikan, hasilnya menjadi takabur, perilaku yang amat dibenci Allah.
 
Buat apa pula mengingkari perbuatan tidak baik kalau akhirnya ketahuan juga, taubatnya menjadi terlambat.
 
Dibawah adalah beberapa contoh peribahasa Jawa mengenai orang-orang yang suka menyembunyikan atau menutup-nutupi perbuatan baik, tetapi akhirnya ketahuan karena kelengahannya sendiri.
 
 
1. ALING-ALING GODHONG WARINGIN

 Beringin pohonnya besar, tetapi daunnya kecil. Kalau kita menggunakan daun beringin untuk “aling-aling” (berlindung, digunakan sebagai tabir) pasti akan mudah diketahui orang. Maksud peribahasa ini adalah gambaran orang yang menutupi perbuatan jahatnya dengan cara yang mudah diketahui oleh orang lain. Kesimpulannya: Kurang lihay.
 
 2. ALING-ALINGAN KATON
 
Berlindung tetapi ketahuan. Pengertiannya sama dengan butir 1. Mau mungkir tetapi akhirnya ketahuan dari perilaku dan ucapannya. Kesimpulannya: Kurang mahir dan kurang tenang dalam mengkamuflase perbuatan tidak baiknya.
 
3. BEBISIK NGUWUH-UWUH
 
Berbisik-bisik tetapi memanggil-manggil. Mau menyembunyikan rapi hal tidak baik yang dilakukan tetapi ketahuan karena kelakuan dan ucapannya mencurigakan.
 
4. MANDHEG PADHANG ALINGAN SAYA KATON
 
Berhenti (mandheg, dalam pengertian tidak sembunyi, dalam bahasa komputer mungkin bisa dikatakan “default”, seperti kondisi yang ada saat ini alias tidak sembunyi) kelihatan, bersembunyi (alingan) justru semakin kelihatan (saya katon). Pengertiannya: Orang yang mau memungkiri perbuatan tidak baiknya tetapi caranya terlalu jelas sehingga kesalahannya semakin terlihat.
 
5. NGUYUH ALING-ALINGAN SADA
 
Orang kebelet kencing (nguyuh) memang sudah seharusnya cari tempat yang tidak terlihat orang banyak. Misalnya dalam perjalanan panjang naik mobil kemudian tidak bisa menahan hajat kecil ini, ya berhentikan mobil, cari semak-semak untuk berlindung (aling-aling). Tetapi dalam kasus ini yang dijadikan aling-aling adalah lidi (sada), tentu mudah kelihatan. Dalam hal ini apabila “kencing” diartikan sebagai perbuatan tidak baik yang ingin disembunyikan, maka sarananya tidak memadai sehingga mudah diketahui.
 
6. MENDHAK ALINGAN WEKASAN KATON
 
Mendhak (merendahkan badan, misalnya berjongkok) sekaligus alingan (berlindung di balik sesuatu, misalnya semak-semak) mestinya aman. Tetapi dalam kasus ini dikatakan akhirnya ketahuan (wekasan katon). Pengertiannya sama dengan “ala katara” sepandai-pandainya kita menyembunyikan kejahatan akhirnya ketahuan.
 
 
LIDING DONGENG
 
Enam paribasan di atas memperkuat pitutur luhur bahwa semua perbuatan tidak baik pada akhirnya akan ketahuan: ALA KETARA. Jadi: Dalam hidup ini janganlah melakukan perbuatan yang tidak baik. Tugas kita dalam bebrayan agung (hidup bermasyarakat) ini adalah amemangun karyenak tyasing sesama, sesuai teladan yang diberikan oleh Panembahan Senapati.
 
Bila kita tergoda untuk melakukan ANGIN SILEM ING WARIH yang arti harfiahnya adalah Udara bersembunyi di air (warih), dengan makna: Melakukan perbuatan tidak baik secara sembunyi-sembunyi (mana ada perbuatan tidak baik yang tidak sembunyi-sembunyi), hendaknya merujuk lebih dahulu peribahasa-peribahasa di atas. Walaupun kita sudah mendhak dan aling-alingan pada akhirnya akan ketahuan. Yang ALA akan KATARA (Iwan MM).
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST