Tuesday, May 14, 2013

SINISME A LA JAWA

Mempunyai kelompok FB yang umurnya rata-rata pertengahan sampai tua dan kuliahnya sama-sama di Yogyakarta, banyak untungnya untuk saya, khususnya dalam pengayaan blog Pitutur dan Perilaku a la Jawa ini.
 
Di bawah adalah tulisan rekan saya dr. Ambarwati Soemono tentang kenaikan harga bawang akhir-akhir ini dikaitkan dengan kenangan masa kecilnya di Salatiga. Judul aslinya Sinisme gaya Jawa. Apa yang beliau tulis tidak saya ubah, dapat dipirsani di bawah ini:
 
 
SINISME GAYA JAWA
 
Dengan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih bulan-bulan terakhir ini, saya jadi ingat jaman kecil (saya sdh kelas 3 atau 4 SD) ketika diajak mbah Sukinem, yang momong saya, ke Pasar Jetis (Salatiga, bukan Yogya).
 
Ketika itu dia mengekspresikan betapa mahalnya (menurut ukurannya waktu itu) harga cabe merah dengan mengatakan (setengah nggrundel): “Lombok kok larange kaya emas….”
 
Kontan dijawab oleh si penjual : “mBaaah, mbah, yen emas regane kaya lombok, lha rak muriiih, teneh aku tuku sekilo…”
 
Lain hari saya ikut mbah Nem ke pasar lagi, kali ini beda ungkapannya ketika dia membeli brambang (bawang merah) : “ Walaaah, tuku brambang selawe rupiah kok kaya njaluk…” sebagai ekspresi begitu mahalnya bawang merah sehingga untuk harga duapuluhlima rupiah (waktu itu) hanya dapat beberapa butir, sangat jauh lebih sedikit dari perkiraannya.
 
Kali ini si penjual menjawab: “ mBaaah, mbah, yen sampeyan mau nembung njaluk, ora bakal tak wenehi…teneh tuna (rugi) aku, mbaaah…”
 
 
 
CATATAN 

Untuk membantu Bapak Ibu yang tidak begitu paham kalimat Jawa yang panjang-panjang dengan ekspresi dialek Jawa, di bawah adalah terjemahannya:


Gambar dari www.ventanasvoyage.com
Lombok kok larange kaya emas: Lombok kok mahalnya seperti emas

Yen emas regane kaya lombok, lha rak muriiih, teneh aku tuku sekilo: Kalau emas harganya seperti lombok, kan murah sekali, aku beli sekilo

“Walaaah, tuku brambang selawe rupiah kok kaya njaluk…” : Walaaah, beli brambang duapuluhlima rupiah kok seperti minta saja. (Karena pasti hanya dapat beberapa butir, maka seolah-olah seperti minta saja)

“mBaaah, mbah, yen sampeyan mau nembung njaluk, ora bakal tak wenehi…teneh tuna (rugi) aku, mbaaah…” : Mbaaah, mbah. Kalau tadi bilangnya minta, pasti tidak saya kasih. Kan saya rugi, mbah"


LIDING DONGENG

Dialog di atas kira-kira masih bisa kita temui di pasar-pasar tradisional di Jawa khususnya di desa. Terjadi pada transaksi “tawar-menawar” yang dalam bahasa Jawa disebut “anyang-anyangan” atau “nyang-nyangan”

Sama-sama sinis sebenarnya, tetapi tidak menjadikan trigger untuk adu mulut. Yang mendengar pada ketawa, yang dialog akhirnya ikut ketawa. Apalagi yang menawar seorang simbah (nenek, atau orang yang sudah tua).

Sekarang ini kita berada dalam era serba cepat. Pasar sudah mulai sunyi dengan orang-orang yang menikmati seni tawar-menawar, dengan ungkapan sesuai mental model masing-masing. Apakah kondisi ini menggambarkan ungkapan: “Pasar ilang kumandange?” Demikian Pak Dhe Masyhudi yang rumahnya di belakang Sriwedari, Solo, bertanya.

Pasar ilang kumandhange (pasar kehilangan gemanya, dalam pengertian “gema” dari orang-orang yang asyik bertransaksi) mengandung arti kemakmuran yang hilang, sehingga pasar pun sepi. Pada abad 21 ini kata pasar ilang kumandhange boleh diartikan secara harfiah: Tidak ada lagi suara-suara orang bertransaksi semua sudah ditelan labelisasi. Kalau harga dalam label tidak cocok, silakan pergi; inilah globalisasi. (Iwan MM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST