Sunday, May 12, 2013

CATUR WEDHA: WEJANGAN CALON BAPAK MERTUA KEPADA CALON MENANTU LAKI-LAKI

Ada teman dari kelompok FB orang-orang setengah umur sampai tua dari FKUGM yang doeloe kuliahnya di Dalem Mangkubumen mengirim message: “Catur Wedha itu bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan referensinya?”
 
Pertanyaannya tidak segera saya jawab. Teman saya ini orang yang mengerti adat Jawa dan ia pasti sudah browsing di Internet. Banyak contoh yang bagus di internet. Tinggal tulis “Catur Wedha” dan kirim ke Google, Yahoo atau yang lain. Mungkin yang ia butuhkan adalah “maknanya” atau barangkali ia mau mengarang sendiri kata-katanya, atau minta semacam second opinion dari teman. Akhirnya saya jawab: “Nanti saya email saja, mudah-mudahan cocok”.
 
Mungkin juga diantara Bapak-bapak pembaca blog saya ada yang punya pertanyaan seperti teman saya ini, maka di bawah adalah ulasan dan contoh yang saya kirimkan ke teman saya tadi. Siapa tahu cocok juga.
 
 
SEKILAS TENTANG CATUR WEDHA
 
Catur (empat) dan Wedha (ilmu) bisa diterjemahkan dengan empat ilmu atau empat pitutur. Secara khusus “Catur Wedha” adalah empat nasihat utama dari calon bapak mertua kepada calon menantu laki-lakinya pada malam midadareni (nyantrik/nyantri), disaksikan tamu yang hadir pada malam itu.  Catur Wedha dibacakan menjelang sang calon mantu kembali ke tempat podokannya, sebelum acara penyerahan kancing gelung (pakaian yang akan dikenakan waktu ijab kabul esok harinya).
 
Ada banyak versi Catur Wedha, tetapi muatannya tetap sama. Yang beda hanya penggunaan bahasa Jawanya. Ada yang simple ada yang agak complicated karena disisipi kalimat-kalimat semacam “basa rinengga” (bahasa berbusana). Memang menjadi lebih indah, tetapi lebih panjang. Secara pribadi saya lebih memilih yang sederhana saja. Jaman sudah berubah, calon mantu kita walaupun Jawa belum tentu paham.
 
Intisari empat pitutur utama dalam Catur Wedha tersebut adalah:
 
1.    Laki-laki yang sudah berkeluarga (demikian pula wanita), sikap dan perilakunya harus berubah. Tidak sama lagi dengan polah-tingkah waktu masih belum berkeluarga.
 
2.    Bakti kepada mertua harus sama dengan bakti kepada orang tua sendiri.
 
3.    Hidup di masyarakat tidak boleh melanggar peraturan negara. Hasilnya adalah: Disayangi pimpinan dan masyarakat.
 
4.    Menjalankan perintah dan tidak melanggar larangan Allah SWT. Kewajiban sehari-hari dalam kehidupan beragama harus dijalankan.
 
 
BOLEHKAH  DISAMPAIKAN DALAM BAHASA INDONESIA? MENGAPA BAHASANYA NGOKO?
 
Kebetulan ada teman lain pernah menanyakan hal ini. Saya jawab dengan agak berdiplomasi. Indonesia ini dari Sabang sampai Merauke. Kalau calon menantu kita kebetulan bukan Jawa? Kecuali ia sekolahnya di Yogyakarta atau Surakarta akan banyak tidak pahamnya.
 
Demikian pula dunia sudah mengglobal, banyak diantara bangsa kita punya menantu Bule. Tidak ada salahnya kalau kita bacakan dalam bahasa Indonesia bahkan bahasa Inggris atau yang lain.
 
Hanya satu yang hilang: Raos Jawinipun. Rasa Jawanya menjadi berkurang. Mengapa tidak kita bacakan dalam bahasa Jawa saja, dengan melampirkan terjemahannya. Bisa juga Pranata Adicara (MC) menyesuaikan dengan situasi, beliau bisa menyampaikan terjemahan bahasa Indonesianya, untuk sang calon mantu dan para rawuh yang hadir malam itu. 
 
Ada juga yang tanya. “Kok penyampaiannya tidak menggunakan bahasa Jawa Krama (bahasa halus)?” Kalau yang satu ini memang ngoko saja. Lebih tepatnya “ngoko halus”. Sederhana reasoningnya: Yang ngomong kan calon mertua kepada calon mantu. Ngoko, tetapi ngoko yang pantes.
 
 
DIMANA MEMPEROLEH REFERENSI CATUR WEDHA YANG BAGUS?
 
Pertanyaan ini yang sulit dijawab. Yang diposting para blogger umumnya bagus. Catur Wedha juga bisa kita temukan di buku-buku tentang tatacara pernikahan adat Jawa. Saya pernah melihat di Yogya. Ibu perias juga pasti punya naskah Catur Wedha. Demikian pula Pak MC kita (Pranata Adicara) pasti punya. Saya sendiri waktu mantu, menggunakan punya Pak MC. Beliau punya beberapa contoh, tinggal pilih yang paling pas dengan selera dan kemampuan bahasa kita. Malah sudah dicetak dalam kertas bagus, tinggal tandatangan dan masukkan pigura atau map sesuai keinginan kita.
 
Oh ya, ada satu lagi: Jangan lupa latihan membaca, jangan sampai kagok pada saat kita menjadi pemeran utama pada malam itu. 
 
Di bawah adalah contoh Catur Wedha sebagai referensi awal, kiranya bermanfaat.
 
 
CONTOH CATUR WEDHA SEDERHANA
 
Dalam hal ini “Catur Wedha” dapat dibagi menjadi tiga bab, yaitu: (1) Pembukaan, (2) Isi atau Batang Tubuh dan (3) Penutup, sebagai berikut:
 
 
1. PENDAHULUAN CATUR WEDHA
 
Pada umumnya diawali dengan ucapan Basmalah dan Salam (sesuai dengan agama yang kita anut) dan dilanjutkan dengan kata-kata pendahuluan sebagai berikut:
 
Bismillahirohmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh
 
Catur Wedha tumuju marang angger .............. (Nama Calon Pengantin Pria)
 
Angger anakmas ........... (nama Calon Pengantin Pria)
 
Insya Allah sira bakal dadi anak mantuku. Mula ing wanci malem midadareni iki aku sumedya paring pitutur patang prakara kang wus lumrah kasebut “Catur Wedha” kanggo sangu urip ing tengahing bebrayan agung. Pidhangetna kanthi premati ya ngger, putraku.
 
Catatan: Sira: kamu; Wanci: waktu; Sumedya: berniat; Bebrayan Agung: Hidup bermasyarakat; Pidhangetna: Dengarkanlah; Premati: Saksama; Ngger: Angger, Sebutan kepada anak.
 
 
2. ISI CATUR WEDHA
 
Kaping pisan
 
Priya kang wus hangemong wanodya, tandang tanduke kudu wus beneh lawan nalikane isih jejaka. Mangkono uga wanodya kang wus kahemong guru laki, ing tandang lan pakartine, netepana wanodya kang wus ora lamban.
 
Catatan: Beneh: berbeda; Guru Laki: Suami; Lamban: Belum berkeluarga
 
Kaping pindho:
 
Jroning batin sungkema marang maratuwa, kadidene marang wong tuwane dhewe. Awit kang padha hamangun bebesanan, pangrengkuhe marang mantu, uga kaya marang anake dhewe.
 
Catatan: Jroning: sajeroning, didalam; Kadidene: seperti; Hamangun: membangun; Pangrengkuhe: sikapnya.
 
Kaping telu:
 
Urip ing bebrayan agung, wajibe netepi hangger-hanggering praja. Pikolehe: Pinutra ing nata, miwah kinasih ing sesama. Dimen sinuyudan, satemah hanjalari gancar salwiring pambudidaya
 
Catatan: Bebrayan agung: Kehidupan bermasyarakat; Hangger-hanggering praja: Undang-undang Negara; Pinutra: diangggap anak; Nata: raja/pimpinan; Kinasih: disayangi; Sinuyudan: Disenangi banyak orang; Gancar: lancar; Salwiring: segala, semua
 
Kaping papat:
 
Ngestokna dedhawuhane Pangeran lan singkirana wewalere Ingkang Maha Kuwasa. Wewarahing piyandel, utawa agama kang den anut, tindakna ing sadina-dina, dimen ayem, tentrem, miwah rahayu kang pinanggih.
 
Catatan: Ngestokna: patuhilah; Dhawuh: perintah; Pangeran: salah satu cara dalam bahasa Jawa untuk menyebut Allah SWT; Wewaler: larangan; Wewarahing: pelajaran dari; piyandel: kepercayaan; Ayem: tenang; Tentrem: Tenteram; Miwah: dan; rahayu: selamat; pinanggih: diperoleh.
 
 
3. PENUTUP CATUR WEDHA
 
Estokna ya angger, anakmas .......... (nama Calon Pengantin Pria). Muga-muga Gusti Kang Maha Kuwasa, tansah paring berkah, rahmat, taufik lah hidayah marang sliramu.
 
Amin, ya Rabbil allamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullani wabarokatuh
 
................, ............. (diisi kota atau alamat dan tanggal tempat Catur Wedha dibacakan)
 
............................... (diisi tandatangan calon bapak mertua yang membaca catur Wedha)
 
............................... (Diisi nama calon Bapak Mertua yang membacakan Catur Wedha)
 
Catatan: Sudah jelas
 
 
 
LIDING DONGENG
 
Catur Wedha jaman sekarang biasanya sudah diketik dan diberi pigura bagus. Selesai dibacakan kemudian langsung diserahkan kepada calon menantu (Seperti kalau menyerahkan ijazah kelulusan atau sertifikat selesai mengikuti pelatihan). Bersalaman, selesailah pembacaan Catur Wedha. Pranata Adicara (MC) selanjutnya akan mengumumkan acara berikutnya yaitu penyerahan Kancing Gelung (Pakaian yang akan dikenakan Calon pengantin Pria) pada saat Ijab Kabul esok harinya.
 
Kata kunci dalam Catur Wedha adalah: (1) Perubahan perilaku; (2) Berbakti kepada orang tua dan mertua; (3) Tidak melanggar Undang-Undang Negara; (4) Menjalankan perintah Allah SWT. Tujuannya adalah: Selamat dunia akhirat dalam kehidupan keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warohmah. (Iwan MM)

1 comment:

Poetrafoto Wedding Photographer Indonesia said...

terimakasih atas sharing artikelnya tentang Catur Wedha ini Pak Iwan Muljono. sangat bermanfaat buat kami.

untuk kelengkapan foto wedding adat Jawa, sangat dipersilahkan untuk melihat atau download di web kami: Poetrafoto Photography

Most Recent Post

POPULAR POST