Tuesday, May 28, 2013

ANTARA KEHENDAK DAN TINDAKAN DALAM PARIBASAN JAWA (1): KEHENDAK YANG TIDAK BISA DICEGAH

Merujuk ke tulisan Jangka dan jangkah: Visi dan Misi a la Jawa, dapat dianalogikan bahwa Jangka adalah kehendak dan Jangkah adalah tindakan. Panjangka bukan sekedar mimpi indah yang hilang begitu kita terbangun.
 
Panjangka adalah cita-cita yang hendak diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Oleh sebab itu  “jangka” itu harus diikuti dengan “jangkah” atau langkah-langkah yang terencana: Setiap jangka harus ditindaklanjuti dengan jangkah, dan setiap jangkah harus dilandasi jangka yang sudah mantap.
 
Banyak hal bisa terjadi diantara kehendak (jangka) dan tindakan (jangkah). Di bawah adalah beberapa peribahasa Jawa yang terkait dengan hal tersebut, kiranya ada manfaatnya.
 
 
KEHENDAK YANG TIDAK BISA DICEGAH
 
Seharusnya sebelum melangkah, baik bagi yang semula sudah direncanakan maupun yang “krenteg” (dorongan hati) baru muncul beberapa menit yang lalu, kita tetap hati-hati dan sekali lagi mereview situasi dan kondisi seperti telah ditulis dalam Serat Wulangreh: Deduga, Prayoga, Watara dan Reringa. Tetapi ada diantara kita yang “karep” nya sudah tidak bisa ditahan lagi. Gambarannya dapat dipirsani pada ungkapan-ungkapan di bawah ini:
 
 
1. DIPALANGANA MLUMPAT, DITALENANA MEDHOT
 
Dipasangi palang (barikade) akan melompat dan diikat dengan tali (ditalenana) akan diputus (pedhot: putus). Ungkapan serupa adalah DIPALANGANA MLUMPAT, DIDHADHUNGANA MEDHOT. Disini tali diganti dengan “dhadhung” (tali yang lebih tebal dan kuat). Menggambarkan orang yang kalau sudah punya kehendak tidak ada lagi yang bisa mencegahnya.
 
Kehendak bisa baik bisa pula buruk. Mencegah kehendak buruk, sudah jelas tujuannya baik. Mencegah kehendak baik, tentunya juga punya maksud baik: Misalnya jangan grusa-grusu. Sayang kalau niatnya baik tetapi mencelakakan diri sendiri.
 
Contohnya, ada orang berkelahi. Yang berkelahi demikian seru dan menggunakan senjata tajam. Ada yang maju mau melerai, dicegah teman-teman yang lain, tetapi nekad. Akibatnya yang melerai malah terluka. Paribasannya adalah GORA GETIH NEMU RIRIS (Gora: mengerikan; Getih: darah; Riris: Grimis).
 
Demikian pula ada orang nekad sendirian mengejar penjahat yang menyatroni desanya. Ia tetap berkeras untuk NYENGKA TANDHING (melawan musuh yang lebih kuat). Ia juga tidak memikirkan kalau penjahat yang kepepet menjadi berani mati, seperti dikatakan dalam peribahasa DURJANA MATI RAGA. Akhirnya teman yang nekad ini menjadi NGGAYUH ING TAWANG PEJAH TAN WIKARA: Niatnya mulia untuk menangkap penjahat tetapi tewas di tangan penjahat.
 
 
2. LUPUT PECING
 
Pecing adalah kain usang (gombal) yang dicelup air kencing, konon dulu amat manjur untuk mengusir hama babi hutan. Si babi hutan pun menyingkir. Arti harfiah “luput pecing” adalah tidak mempan diusir. Pengertiannya adalah orang punya niat buruk yang tidak bisa dicegah lagi kehendaknya (seperti babi hutan yang tidak mempan diusir dengan pecing)
 
 
3. LUPUT SEMBUR
 
Dalam bahasa Jawa kita kenal kata suwuk dan sembur yang bermakna “doa”. Umumnya untuk mengusir sesuatu yang jahat. Paribasan ini menggambarkan orang sudah tidak mempan dengan nasihat.
 
 
4. MUNDUR UNCEG (UNCEK)
 
Unceg (Uncek) adalah besi bulat panjang kecil yang ujungnya tajam. Berfungsi sebagai ‘bor” kecil, manual, primitif, untuk membuat lobang.
 
Cara membuat lobang dengan unceg: Unceg dipegang dengan tangan, diputar-putar kekiri dan kekanan di atas benda yang akan dilobangi. Biasanya kayu. Saat unceg bergerak ke kiri, seolah-olah mundur. Tapi ia segera berbalik ke kanan dan kembali ke kiri lagi sampai terjadi lobang seperti yang kita inginkan.
 
Orang dikatakan “mundur unceg” kalau kehendaknya tidak bisa dicegah. Ia akan terus mendesak, sampai apa yang diinginkan tercapai: Laksana unceg, walau gerakannya kembali ke kiri, (melawan arah jarum jam), dalam waktu satu detik ia sudah kembali ke kanan (searah jarum jam).
 
 
LIDING DONGENG
 
Perilaku “Tidak bisa dicegah kalau sudah punya kehendak (baik atau buruk, membahayakan diri atau aman)” seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, laki-laki atau perempuan, bawahan atau atasan.
 
Berupaya mencegah orang-orang yang tidak bisa dicegah ini banyak tidak berhasilnya. Di bawah adalah beberapa contoh dari dunia pedhalangan:
 
 
1. RAMAYANA
 
Kumbakarna, (dapat dibaca di Serat Tripama) berupaya keras mencegah perang besar akibat ulah kakaknya (Rahwana), yang menculik Dewi Shinta.
 
Tetapi Rahwana tidak bergeming. Malah Kumbakarna dianggap mau mbalela (mengenai “mbalela” dapat dibaca di Orang-orang Mbalela Dalam Paribasan Jawa). Kumbakarna pun mengalah, ia pilih menyingkir dan tidur panjang.
 
Adik Rahwana lainnya, Gunawan Wibisana, juga memberi nasihat supaya Rahwana mengembalikan Dewi Shinta kepada Prabu Rama. Malah diusir dari kerajaan dan membelot ke Sri Rama.
 
Dua contoh di atas, adalah urusan negara. Yang berupaya mencegah (walaupun saudara kandung) malah kalah.
 
 
2. MAHABHARATA
 
Dalam awal kisah Mahabharata, Dewi Amba berkeras untuk mengikuti Dewabrata yang sukses memenangkan sayembara memperebutkan puteri.
 
Tetapi Dewabrata menolak karena ia sudah bersumpah untuk tidak menikah (adapun puteri-puteri yang diperebutkan   adalah  untuk adik-adik Dewabrata yang masih lajang).
 
Ditakut-takuti dengan panah pun Dewi Amba tidak gentar.
 
Tragedi terjadi ketika panah Dewabrata terlepas tanpa disengaja, dan Dewi Amba terbunuh. Mengenai hal ini dapat dibaca di Sabda Pandhita Ratu (2): Kisah Wisrawa dan Dewabrata.
 
Kisah ini adalah urusan cinta. Yang dicegah mati, yang berupaya mencegah (kebetulan sebagai pelaku) menderita batin.
 
Dilanjutkan ke ANTARA KEHENDAK DAN TINDAKAN DALAM PARIBASAN JAWA (2): YANG GRUSA-GRUSU DAN YANG ANGIN-ANGINAN

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST