Wednesday, February 20, 2013

SANEPA: MEMBANDINGKAN SECARA TERBALIK (1)

“Sanepa” adalah tetandhingan, bisa juga dikatakan sebagai pepindhan. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Tapi awas, kalimat: “Alise nanggal sepisan” (alisnya seperti bulan tanggal satu), bukanlah “sanepa” walaupun sama-sama membandingkan. Dalam bahasa Jawa ini disebut “panyandra” yang pada umumnya digunakan untuk membandingkan bagian tubuh manusia dengan sesuatu yang ada di alam. Lebih khusus lagi banyak digunakan untuk memuji kecantikan seorang wanita.
 
Sanepa barangkali khas Jawa. Membandingkan sesuatu yang menyangatkan secara terbalik. Semakin kayalah khasanah “semu” orang Jawa. “Terbalik bagaimana?” Demikianlah Darman bertanya, karena dianggapnya saya terlalu berputar-putar dalam memberikan penjelasan. Memang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi sekali diberi contoh, biasanya orang langsung “dhong”.

Saya pernah menulis berjudul Rindhik kirik (asu) digitik. Inilah contoh “sanepa”: membandingkan secaca terbalik. Kalau orang mengatakan playune (larinya) rindhik asu digitik, berarti orang yang dimaksud larinya kencang sekali. Anjing yang dipukul pun (pasti lari terbirit-birit) masih kalah cepat. Bapak Ibu kalau ada waktu untuk klik Serat Wedhatama: Aji godhong jati aking, kata-kata ini juga “sanepa” gambaran manusia hina dina. Daun jati kering saja masih lebih aji (lebih bermanfaat).
 
Demikian pula yang ditanyakan Darman kemarin: Arum jamban. Menjelaskan tentang bau yang amat tidak sedap. Jamban saja (tentunya jamban yang tidak dijaga kebersihannya) masih lebih harum. Bayangkan seperti apa.
 
Dibawah adalah daftar beberapa “sanepa” dalam bahasa Jawa, berikut penjelasan singkat mengapa demikian. Kiranya bermanfaat.
 
ABANG DLUWANG: Dluwang (kertas) yang umumnya berwarna putih atau terang masih lebih merah (abang). Gambaran wajah yang pucat pasi. Misalnya seorang ketahuan menipu, kemudian wajahnya pucat pasi, dikatakan “raine abang dluwang”. Mengapa tidak langsung dikatakan “raine pucet” ya itulah orang Jawa. Suka menyampaikan secara tidak langsung.
 
ABOT KAPUK: Kapuk masih lebih berat. Gambaran sesuatu yang amat ringan. Orang membawa barang kemudian kita tanya apakah tidak berat? Ia bisa menjawab “abot kapuk” alih-alih menjawab “entheng”.
 
AGAL GLEPUNG: (Agal: kasar; glepung: tepung). Sesuatu yang amat lembut atau halus, sehingga tepung yang sudah begitu halus masih dikatakan lebih kasar.
 
AJI GODHONG GARING (Sama dengan aji godhong jati aking di atas)
 
AMBA GODHONG KELOR: Masih lebih lebar daun kelor yang kecil. Berarti kecil/sempit sekali. Dalam bahasa Indonesia kita kenal ungkapan yang kita pakai untuk menasihati orang yang patah semangat atau patah hati: “Dunia tidak selebar daun kelor”. Dalam bahasa Jawa bagaimana? Kalau kita terjemahkan: “Donya ora mung sak godhong kelor” maka maknanya sama. Tetapi kalau kita katakan: “Kamare ciyut (sempit), isih amba godhong kelor”, maka Bapak Ibu sudah tahu maksudnya.
 
ANTENG KITIRAN: “Kitiran” adalah baling-baling. Baling-baling kalau kena angin akan berputar-cepat. Kalau dikatakan: “Bocah kok polahe anteng kitiran”, berarti anak tersebut tidak pernah berhenti bergerak. Kitiran (baling-baling) masih lebih anteng (tenang).
 
ARANG KRANJANG: Kranjang (untuk menaruh sayur, buah yang dijual di pasar, atau untuk menyabit rumput) anyamannya jarang-jarang (arang-arang), berarti banyak lobangnya. Kranjang saja, masih lebih jarang (sedikit) lobangnya. Lalu apa yang kita sanepa-kan dengan arang kranjang? Umumnya adalah “luka”. Saya ingat waktu coschap dulu, ada pasien yang sekujur kakinya penuh “gudhig” (koreng). Seorang teman yang masih “Jawa banget” mengatakan: “Nggilani, gudhige arang kranjang”. Bagi Bapak Ibu penggemar wayang, dalam lakon “Abimanyu Gugur” dikatakan “tatune arang kranjang”. Abimanyu dikeroyok Korawa, tubuhnya penuh luka yang “arang kranjang”.
 
ARANG WULU KUCING: Kucing (kecuali kucing kudisan) pada umumnya berbulu tebal. Kalau bulu kucing saja masih dianggap jarang (arang) tentunya yang kita sanepa-kan adalah sesuatu yang lebat. Bisa rambut, pepohonan, bahkan hujan yang tetes airnya rapat dikatakan “udane arang wulu kucing”. Boleh jadi ritual minta hujan dengan memandikan kucing mengandung harapan supaya segera hujan yang lebih rata daripada bulu kucing.
 
ARUM JAMBAN: Telah dijelaskan pada pendahuluan, yaitu bau yang lebih tidak enak daripada bau kakus (kakus kotor). Dipakai juga sebagai kiasan untuk menyebut orang yang punya nama buruk (reputasinya tidak baik).
 
ATOS DEBOG: “Debog” (batang pisang) sudah pasti amat lunak. Sesuatu yang “atos debog” adalah sesuatu yang amat lunak.
 
BANTER KEYONG: Keyong jalannya mrambat, pelan sekali. Perkataan “banter keyong” menunjukkan seseorang yang jalannya amat pelan, atau dalam melakukan pekerjaan amat lamban.
 
BENING LERI: Leri adalah air cucian beras. Tentu keruh. Kalau ada orang mengatakan: “Banyu bening leri ngono kok diombe”, maksudnya “air keruh kok diminum?”. Bahasa Jawanya “keruh” adalah “buthek”. Mengapa tidak langsung saja mengatakan: “Banyu buthek kok diombe”. Demikian ditanyakan Darman barusan. “Kan lebih lugas, Mas”. Itu juga baik-baik saja, dan Darman saya suruh baca tulisan saya Bima: Cekak aos blaka suta.
 
BENJO TAMPAH: Kita biasa menggunakan “tampah” untuk menampi beras, bisa juga untuk menjemur makanan yang perlu dikeringkan. Bentuk tampah selalu bulat. “Benjo” adalah sesuatu yang tidak bulat. Oval juga tidak, karena dalam bahasa Jawa oval adalah lonjong. Jadi kalau tampah yang sudah “bunder ser” begitu masih dikatakan “benjo”, berarti betul-betul sesuatu yang tidak bulat tidak oval. Saya sendiri tidak begitu jelas penggunaannya. Kemungkinan untuk alat-alat yang terbuat dari gerabah seperti cobek, gentong, kendi, kuali dan sebagainya. Dilihat tidak nyaman.
 
BRINTIK LINGGIS: Linggis jelas keras dan lurus masih dikatakan brintik (keriting). Berarti kita berhadapan dengan sesuatu yang amat lurus, keras dan kaku. Orang yang rambutnya njegrag dan kaku bisa dikatakan: Rambute brintik linggis. “Kalau dikatakan kaku sapu duk (sapu ijuk) atau kaku sada (lidi) bagaimana?” Lagi-lagi ini pertanyaan Darman. Ya boleh-boleh saja, saya pikir malah lebih wajar membandingkan rambut dengan sapu daripada dengan linggis.
 
Sampai disini kelihatannya tulisan sudah agak panjang. Kalau diteruskan menjadi terlalu panjang. Mohon ijin untuk meneruskan pada kali berikutnya, SANEPA, MEMBANDINGKAN SECARA TERBALIK (2). (IwanMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST