Friday, February 22, 2013

SANEPA: MEMBANDINGKAN SECARA TERBALIK (2)

Melanjutkan tulisan Sanepa: membandingkan secara terbalik (1), sebaiknya saya ulang lagi khususnya bagi Bapak Ibu yang belum membaca tulisan pertama, bahwa “sanepa” adalah perbandingan, boleh kita katakan sebagai pengibaratan yang menyangatkan tetapi penyampaiannya dibalik. Sebagai contoh kalau kita katakan “ambune arum jamban” berarti jamban masih lebih harum. Dengan demikian yang kita hadapi adalah bau yang amat tidak sedap.
 
Hal ini memperkuat rasa “semu” orang Jawa,  ada berbagai cara untuk mengatakan sesuatu secara tidak langsung. Menjadi Jawa ada dua pilihan ucapan. Mau mengatakan “ambune arum jamban” yang berarti tidak langsung, atau mau lugas dengan mengatakan “ambune bacin” dan sebagainya.
 
Di bawah adalah lanjutan beberapa “sanepa” yang telah saya tulis pada tulisan yang lalu:
 
DHUWUR KENCUR: Pohon kencur tidak bisa tinggi. Bandingkan dengan tanaman empon-empon yang lain. Kencur adalah yang paling pendek. Jadi kalau dikatakan “dhuwur kencur” berarti gambaran dari sesuatu yang pendek. Biasanya ya manusia Sebagai tambahan ada gugon tuhon Jawa, seorang yang bekerja dengan peluang karier (misalnya pegawai negeri), tidak disarankan menanam kencur di halaman rumahnya. Nanti pangkatnya tidak naik-naik. Nanti pangkatnya “dhuwur kencur”.
 
GEDHE GUREM: Gurem adalah kutu ayam yang amat kecil. Sesuatu yang dikatakan gedhe gurem, mengibaratkan sesuatu yang amat kecil. Gurem saja masih lebih gedhe. 
 
JERO TAPAK MERI: Meri adalah anak bebek yang masih kecil. Pasti ringan sekali dan kalau menapak di tanah maka tak akan kelihatan bekas-bekas telapak kakinya. Disini dikatakan bahwa tapak (jejak kaki) meri (anak bebek) saja masih lebih dalam. Berarti sesuatu yang amat dangkal
 
KANDEL KULIT BAWANG: Menggambarkan sesuatu yang amat tipis. Kita tahu kulit bawang amat tipis. Yang satu ini dianggap lebih tipis daripada kulit bawang.
 
KEDHEP TESMAK: Tesmak adalah kacamata. Mana ada kacamata bisa berkedip. Dalam sanepa ini dikatakan bahwa kacamata masih kedhep (berkedip). Berarti gambaran dari orang yang melihat dengan melotot (mentheleng) seolah tidak kedip seperti kacamata. Pernahkah Bapak Ibu mendengar ucapan “Tesmak bathok mata mlorok ora ndhedelok?” Ini bukan sanepa tetapi dapat menjelaskan “kedhep tesmak” sekaligus menyindir. Penjelasannya sebagai berikut: Kacamata yang dipakai sebesar tempurung kelapa (bathok) tapi aya ya bisa melihat? Padahal matanya mlorok (melotot, kedhep tesmak). Kurang apa lagi? Tapi ..... ora ndhedelok (tidak melihat). Jadi apa yang dilihat? Jaman sekarang mungkin banyak orang yang seperti ini.
 
KUNING SILIT KUALI: Pantat kuali pasti hitam, apalagi kalau dipakai memasak di tungku kayu. Itupun masih lebih kuning. Orang yang hitam sering dikatakan demikian.
 
KURU SEMANGKA: Sudah jelas bahwa semangka yang bundar gemuk dikatakan masih lebih kurus. Gambaran untuk orang yang amat tambun
 
LANDHEP DHENGKUL: Pernah saya tulis dalam Ungkapan bahasa Jawa dengan dhengkul. Adalah gambaran orang yang amat bodoh. Dengkul kalau kita raba, permukaannya tidak tajam. Kalau otak kita dikatakan “landhep dhengkul” berarti kita dianggap bodoh.
 
LEGI BRATAWALI: Sebagai jamu, bratawali dikenal amat pahit. Jadi kalau dikatakan bratawali masih manis berarti barang itu amat pahit. Ucapan yang menyakitkan sering dikatakan “legi bratawali”
 
PAIT MADU: Madu dikatakan masih lebih pahit. Apa yang lebih manis dari madu? Sebuah senyuman, khususnya untuk perempuan: Eseme pahit madu.
 
PERET BETON: Beton adalah biji nangka. Dikatakan disini biji nangka yang licin itu masih kalah  licin. Berarti sesuatu yang amat licin. Apa yang licin? Konon yang paling licin adalah manusia, misalnya orang yang omongannya tidak bisa dipegang. Setidaknya ada tiga cara orang Jawa menyebut orang-orang licin seperti Patih Sangkuni ini: Pertama kalau mau langsung kita katakan saja “Ngati-ati wong iku akale akeh, aja nganti kapusan”. Kalau mau agak langsung kita katakan: “Ngati-ati wong iku lunyu kaya welut”. Jadi kita katakan licin dengan mengambil perumpamaan seperti belut yang memang amat licin. Adapun yang ke tiga kalau kita mau tidak langsung, maka kata-kata: “Ngati-ati wong iku gunemane peret beton” adalah yang paling pas.
 
RESIK PECEREN: Got (peceren) biasanya kotor. Jadi kalau got masih dikatakan bersih lalu betapa kotor barang yang dimaksud. Tetapi karena tidak mau langsung maka kita katakan “resik peceren”. Ditambah dengan kata-kata “arum jamban” akan merupakan kombinasi dari kotor dan bau yang cukup mengerikan untuk dibayangkan.
 
RINDHIK KIRIK (ASU) DIGITIK: Telah dijelaskan pada pendahuluan tulisan sebelum ini
 
SUWE BANYU SINARING: Menyaring air (banyu) tentu amat mudah dan cepat. Ungkapan ini menggambarkan suatu proses yang amat cepat. Misalnya ada yang tanya: “Nunggunya lama, Mas?” Kemudian jawabannya: “O cepet Dhik, paribasan suwe banyu sinaring”. Berarti prosesnya cepat.
 
SUWE MIJET WOHING RANTI: Ranti adalah buah sejenis tomat, bentuknya bulat dan kecil-kecil Bisa dpegang denganibu jari dan jari telunjuk. Kalau mau memijat sampai “mecothot” nyaris tanpa energi dan dalam sekejap si kecil “ranti” sudah penyet. Artinya sama dengan “suwe banyu sinaring”. Sesuatu yang cepat.
 
 
PENUTUP:
 
Demikianlah contoh-contoh “sanepa” yang dapat saya tulis. Apakah ini merupakan “basa pinathok?” Bahasa yang sudah dipathok? Ya memang sudah demikian adanya, kalau bisa jangan diubah-ubah kata-katanya. Kalau sudah pinathok berarti termasuk “paribasan?” Betul. Semua bahasa yang sudah tetap pemakaiannya adalah paribasan. Tinggal nanti masuk yang mana: bebasan, saloka atau sanepa.
 
Bolehkah kita mengembangkan kata-kata baru?  Siapa yang tidak membolehkan? Siapa tahu akan dipakai banyak orang dan menjadi “basa pinathok?” Jangan malah hilang satu-persatu karena ditelan jaman. Yang penting tahu kaidah “sanepa”: Membandingkan secara terbalik. Aspek logika jangan ditinggalkan. Gunakan “rasa”. Misalnya: “Lemu sada” (lidi) berarti sudah pasti menggambarkan orang yang kurus. Tetapi jangan mengatakan “lemu pring’ (bambu). Ada banyak jenis bambu. Yang namanya “pring petung” justru bambu yang amat besar. Sehingga anak yang dikatakan sebagai “bung (rebung) pring petung” adalah anak yang longgor (cepat besar dibandingkan teman-teman sebayanya). IwanMM

Most Recent Post

POPULAR POST