Sunday, February 24, 2013

PEPINDHAN: MEMBANDINGKAN SECARA PARALEL (1)

Bila “sanepa” bersifat menyangatkan tetapi menggunakan “pepindhan” secara terbalik, maka pepindhan bersifat tidak menyangatkan, hanya menyamakan dengan menggunakan pembanding. Bisa binatang, tumbuh-tumbuhan, keadaan alam, tokoh wayang dan lain-lain. Ciri khasnya adalah ada kata “kaya, kadya, pindha atau lir” yang ketiganya berarti “seperti”. Mengenai “lir” dapat dibaca pada tulisan Sering ditanyakan: Lir atau Nir
 
Kita ambil contoh sederhana yang sudah ditulis pada pembahasan “sanepa” yaitu kata “banyu sinaring”.
 
Bila kita katakan “suwe banyu sinaring” maka ini adalah “sanepa” yang menggambarkan sesuatu yang menyangatkan (dalam hal ini sangat cepat) sampai-sampai menyaring air (yang pasti amat cepat karena air adalah sesuatu yang amat encer) masih kalah cepat. Sebaliknya kalau kita katakan “gelise kaya banyu sinaring” maka hal ini menggambarkan sesuatu yang cepat, seperti proses menyaring air yang memang cepat.
 
Mengenai ‘sanepa” dapat dirujuk kembali ke dua tulisan: Sanepa: Membandingkan secara terbalik (1) dan Sanepa: Membandingkan secara terbalik (2)
 
Di bawah adalah beberapa contoh “pepindhan”. Laku linggih dan solah muna-muni manusia (baik maupun buruk) selalu menarik dan paling banyak dijadikan obyek pepindhan.
 
 
1. GERAKAN, KECEPATAN MANUSIA
 
ANTENGE KAYA PENGANTEN DITEMOKAKE: Orang yang diam dan tidak bergerak disebut anteng. Pepindhannya adalah seperti pengantin yang sedang duduk di pelaminan. Mana ada pengantin yang tidak anteng.
 
BANTERE (RIKATE) KAYA ANGIN: Bila kita menonton balapan misalnya lari, sepeda, motor, dan kuda, maka kecepatan si pembalap bisa dikatakan cepat seperti angin. Kalimat “pepindhan” ini tidak hanya berlaku untuk manusia. Apa saja yang GERAKANNYA cepat, seperti kereta api, boleh kita sebut dengan “bantere kaya angin”, karena saking cepatnya. Plass ... hilang. Tentusaja bukan angin sepoi-sepoi.
 
GELISE KAYA BANYU SINARING: Lihat pendahuluan tulisan ini, dengan tambahan: Kata “gelis” lebih mengarah ke suatu “proses”. Mohon diperhatikan bahwa angin melambangkan gerak dan menyaring air adalah proses.
 
JOGEDE MUCANG KANGINAN: Dalam gerak tari (joged) yang lemah gemulai, maka “pepindhan” yang dipakai adalah gerak pohon pucang (pohon Jambe) yang kena angin.
 
KEKEJERE KAYA MANUK BRANJANGAN: (Kekejer: gerakan yang bergetar). Disamakan dengan gerak burung branjangan. Bayi nangis yang sampai kejang-kejang bisa dikatakan “nangis kekejer”, tetapi jangan ditamabahi “kaya manuk branjangan”. Penggunaan “kekejer” disini adalah untuk gambaran kelincahan.
 
KESITE KAYA KADHAL: Kadal itu binatang yang amat gesit (kesit). Bisa dicoba kalau mau: Menangkap kadal
 
KLELAR-KLELER KAYA TUMA KATHOK: Klelar-kleler adalah gerakan yang lamban. Tuma kathok (kutu celana) rasanya sekarang sudah amat jarang dijumpai, sehingga sulit dibayangkan. “Tuma kathok” kesohor pada jaman penjajahan Jepang dulu. Mungkin pepindhan ini sudah tidak pas dipakai di Indonesia abad ke 21 ini.
 
KOPAT KAPIT KAYA ULA TAPAK ANGIN: Kopat-kapit adalah gerakan ekor. Bagian ekor (ular tapak angin suka bergerak-gerak lincah. Menggambarkan kelincahan yang disamakan dengan ekor ular tapak angin. Kalimat “kekejera kaya manuk branjangan, kopat-kapita kaya ula tapak angin” sering diucapkan ki Dhalang secara berturutan pada adegan raksasa menantang ksatria.
 
LAKUNE NUSUP-NUSUP PINDHA AYAM ALAS: Ayam alas pandai sekali menyusup di semak belukar. Orang yang menempuh perjalanan dengan menyusup-nyusup dikatakan “pindha ayam alas”.
 
POLAHE KAYA GABAH DIINTERI: Bila kita menampi gabah di atas tampah maka butir-butir gabah akan lari kesana kemari. Gerakan (polah) yang digambarkan seperti “gabah diinteri” adalah gerakan orang dalam situasi kacau. Contoh paling mudah adalah saat acara pentas artist di lapangan terbuka kemudian terjadi kekacauan. Orang akan semburat lari kesana kemari seperti “gabah diinteri”.
 
POLAHE KAYA KUTHUK KELANGAN BABON: Dalam bahasa Indonesia dikatakan seperti anak ayam kehilangan induk. Gambaran seseorang yang bingung kesana-kemari mencari sesuatu. pada "gabah diinteri" yang bingung adalah "massa", pada "kuthuk" adalah perorangan.
 
TANDANGE CUKAT KADYA KILAT, KESIT KADYA THATHIT: Gerakan yang gesit (kesit) sekali, ibaratnya kilat (kilat = thathit). Kita lihat disini pepindhan dengan purwakanthi yang bagus: cukAT, kilAT, kesIT, thathIT. Kata-kata bagus seperti ini juga sering dipakai oleh ki Dhalang untuk menggambarkan kelincahan gerak seorang hero.
 
TANDANGE KADYA BANTHENG KETATON: gambaran banteng terluka (ketaton) dapat kita lihat dalam adu banteng di Spanyol, antara banteng melawan matador.
 
TANDANGE KAYA JANGKRIK MAMBU KILI: Kalau yang ini tidak usah jauh-jauh ke Spanyol. Kita kembali ke masa kecil, jaman masih suka adu jangkrik dulu. Bagaimana gerakan seekor jangkrik kalau kita kili-kili hidungnya. Pasti langsung menerjang.
 
TANDANGE KAYA SIKATAN NYAMBER WALANG: Bila kita jalan-jalan di pesawahan atau padang rumput sering bisa kita lihat bagaimana lincahnya burung sikatan menyambar belalang. Gambaran orang yang lincah. Nila "banteng" dan "jangkrik" lebih mengarah ke "membabi buta", maka "sikatan" tidak membabi buta.
 

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST