Monday, February 18, 2013

BRAMBANG BAWANG: TIDAK SEMUA KATA MAJEMUK JAWA PUNYA MAKNA FILOSOFIS

Perilaku berbahasa Jawa (solah muna-muni) bagi orang Jawa dalam pergaulan Jawa yang masih kental jawanya, memang seharusnya menggunakan “basa basuki”. Pengertian lebih mendalam dari “basa basuki” adalah penguasaan bahasa yang baik dan benar. Tidak semua kata yang bergandengan seperti dalam tulisan Kata majemuk (1): Banyak yang punya mana filosofi, jangan dibolak-balik penggunaannya (dan dua tulisan berikutnya) punya makna filosofis. Banyak juga yang memang sudah begitu gandengannya.
 
Sebagai contoh kata “Lanang wedok” (laki-laki perempuan) seyogyanya jangan dibalik menjadi “wedok lanang”. Yang tahu menjadi tidak sreg karena ada makna dibalik kata, yaitu laki-laki lebih kuasa daripada perempuan. Sampai menjadi “kaki-kaki dan nini-nini” pun jangan dibalik menjadi “nini-nini dan kaki-kaki” karena biar sudah menjadi “kaki-kaki” (laki-laki tua renta) konon masih lebih heboh daripada “nini-nini” (perempuan tua renta). Tetapi kalau kita mengatakan “jaka prawan” (jejaka dan gadis) maka gandengannya memang demikian adanya dan tidak perlu dicari-cari maknanya karena memang tidak ada. Bolehlah kalau ada yang “ngeyel” bahwa jejaka kan laki-laki sehingga disebut duluan, karena bakalan lebih kuasa. Tetapi mohon maaf, kita tidak bicara “kelak bagaimana”, kita bicara saat ini kondisinya adalah “jaka” dan “prawan” yang dalam pergaulan muda-mudi tidak kelihatan siapa yang lebih kuasa.
 
Contoh “gandhenging basa” yang tidak menyimpan makna filosofis banyak pada bumbu dapur, misalnya pete jengkol, pete rese, dll
 
 
BAGAIMANA RUMUSNYA?
 
Sampai disini Darman menginterupsi: “Rumusnya gimana, Mas. Bahwa sebuah kata bergandengan tidak menyembunyikan makna?”. Darman memang selalu eksak dalam berpikir. “Bahasa kok mau dimatematiskan, apalagi bahasa Jawa”, pikir saya dalam hati.
 
“Ya nggak ada Man, rumusnya. Tapi saya punya patokan sederhana. Ada dua langkah. Pertama, kalau diothak-athik tidak gathuk, berarti memang sekedar bergandengan saja. Kedua, kalau sudah tidak gathuk, jangan terlalu digathuk-gathukkan. Semua akhirnya akan gathuk kalau terlalu digathuk-gathukkan” (othak athik gathuk: dikutak-katik terkait)
 
 
DAFTAR KATA MAJEMUK YANG MEMANG “GANDHENGING TEMBUNG”
 
Adalah kelebihan Darman, ia selalu ingin menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ia minta daftar kata bergandengan yang memang bergandengan tetapi tidak menyimpan makna filosofis. Untuk yang ini kebetulan “vocabulary” saya tidak terlalu banyak. Pernah saya baca di Serat Warnasari, disitu Ki Padmasusastra juga menyebut “sawetara” (beberapa) itupun banyak yang sudah tidak saya kenal.
 
Daftar di bawah adalah contoh kata majemuk yang memang sudah merupakan gandengannya. Tidak perlu dicari apakah apa makna yang tersirat dibalik kata yang terucap.
 
BUMBU DAPUR DAN JAMU
 
Bila kita pergi ke pasar tradisional (yang asli tradisional), atau ke dapur (yang asli dapur Jawa, bukan restoran dapur Jawa di metropolis) kata-kata ini sering kita dengar:
 
Bendha laos; botor kêdhawung; brambang lempuyang; brambang bawang; dringo bêngle; gula asêm; jae sunthi; kêmbang borèh; kluwak kêmiri; kunir asêm; kunir ênjêt; salam laos; slèdri kapri; slèdri prèi; sunthi kêncur; tumbar jintên;tumbar trawas; cabe cêngkèh; cabe lêmpuyang
 
MAKANAN MINUMAN TERMASUK KINANG DAN ROKOK
 
Bongko pelas; gula bubuk; Gambir bako; gambir jambe; gula tèh; jadah jênang; jambe suruh; jambu jêruk; kinang rokok; kobis boncis; kupat gudhêg; ladha pindhang; lêgi gurih; tape êmpog; Uwi gêmbili kimpul
 
LAIN-LAIN
 
Dom bolah; godhong kayu; jaka prawan; lor kidul; padhas pèrèng; purwa duksina (utara selatan); wetan kulon; padhang hawa; pèn mangsèn; pinggir têngah; rajabrana; sabuk klambi; wiwitan lan wêkasan; tai uyuh; tapih kêmbên; tukar padu
 
 
PENUTUP
 
Bicara menggunakan bahasa Jawa sebenarnya gampang. Tetapi pemahaman bahasa Jawa memang tidak segampang itu. Sebagai contoh kita mengatakan “Uwi gembili” memang padanannya begitu dan tidak menyimpan makna apa-apa selain eksistensi dari uwi dan gembili.
 
Di tempat lain, sama-sama pala kependhem, kata kentang dan kimpul mempunyai makna lain di luar makna filosofis. Mohon dibandingkan dua kalimat dibawah:

1.    Suguhan pala kependhem-nya (umbi-umbian) komplit, Mas. Uwi, gembili, kimpul ada semua

2.    Wong ora ngerti kenthang kimpule sing dibahas kok interupsi.

 “Kimpul” pada kalimat pertama tidak menyimpan arti lain, selain keberadaan hidangan umbi-umbian yang lengkap. Mulai uwi, gembili sampai kimpul ada semua. Sedangkan kata “kimpul” pada kalimat kedua menngandung kiasan dan sindiran bahwa orang kalau tidak tahu ujung pangkal pembicaraan, tidak usah nrombol ikut bicara.
 
Mengapa kentang disebut dahulu sebelum kimpul tidak ada analisisnya. Keduanya sama-sama pala kependhem. Sesuai patokan kedua yang telah disebutkan di atas: Kalau sudah tidak gathuk jangan terlalu digathuk-gathukkan. Sebaiknya kita berhenti sampai di titik ini. Salah-salah nanti keluar jawaban bahwa kentang didahulukan karena kentang adalah tanaman yang berasal dari luar negeri.
 
“Kalau ARUM JAMBAN masuk yang mana, Mas?” Darman melanjutkan pertanyaannya.
 
“Wah kalau yang itu, ibarat sebuah tulisan, bukan ganti alinea tetapi ganti bab baru. Masuk di SANEPA. Kita bahas lain kali saja.
 

1 comment:

rhazanahassy said...

permisi, maaf sebelumnya pak,
bapak punya buku tentang kata majemuk bahasa jawa tidak?
biasanya buku kata majemuk bahasa jawa itu atas karangan siapa?
terima kasih

Most Recent Post

POPULAR POST