Saturday, February 16, 2013

KATA MAJEMUK (3): “GANDHENGING BASA” DAN MAKNA FILOSOFINYA (B)

Menyambung tulisan Kata Majemuk (2): “Gandhenging basa” dan makna filosofinya (A) saya ulangi lagi rumusan sederhana untuk menentukan kata mana yang seharusnya diletakkan di depan:
 
Bagaimana menata urutan kata majemuk ini, mana yang diletakkan di depan dan mana yang di belakang, bisa kita gunakan tiga kata kunci sebagai berikut:
 
Pertama: Pesan utama diletakkan di depan. Diutamakan dalam hal apa? Ini yang harus pakai “rasa” karena ada peringatan atau pesan yang tersembunyi di dalamnya. Mari kita lihat bersama-sama.
 
Kedua:  Yang “lebih” (dalam hal apa saja, berkonotasi positif maupun negatif) terkait dengan pesan utama kita letakkan di depan
 
Ketiga: Yang “ada” lebih awal mendahului yang “ada” belakangan.

K

KAKANG ADHI: Kakak (kakang) lahir lebih dahulu dari adik (adhi)
 
KAKI NINI: sampai sama-sama tua renta, laki-laki (kaki-kaki) masih lebih kuasa daripada perempuan (nini-nini).
 
KALAH MENANG: Lebih mudah kalah daripada menang. Penjelasannya sama dengan “ala-becik”
 
KASAR ALUS: Sama dengan “agal alus”, lebih mudah kasar daripada halus
 
KATIGA RENDHENG: Bila musim tidaik berkepanjangan, maka musim kemarau (katiga) lebih enak daripada musinm penghujan (rendheng). Tetapi bila “ekstrim” maka dua-duanya sama-sama tidak enak.
 
KAWULA GUSTI: Tanpa kawula (rakyat) tidak ada gusti (dalam pengertian gusti: raja). Baca juga: “Gedhe cilik” pada tulisan sebelum ini. Mengapa arti harfiah sama (besar dan kecil) tetapi urutannya terbalik?
 
KASUR GULING: Tidur dengan kasur tanpa guling masih lebih nyaman daripada dengan guling tanpa kasur. Jadi kasur didahulukan
 
KASUR BANTAL: Penjelasan sama dengan “kasur guling”, dengan tambahan dari aspek kesehatan: Tidur dengan kasur tanpa bantal lebih bermanfaat karena membuat peredaran darah lebih merata (kecuali untuk kondisi sakit tertentu yang justru harus menggunakan bantal tinggi: tidur setengah duduk)
 
KEBO SAPI: Lebih manfaat kerbau (kebo) dalam urusan bertani
 
KENDHO KENCENG: (sering disingkat dhoceng): Lebih mudah kendor (kendho) daripada kencang (kenceng)
 
KESED SREGEP, KESED PETHEL: Lebih banyak orang pemalas (kesed) daripada yang sregep atau pethel (rajin)
 
KETAN KOLAK, KETAN SRIKAYA: lebih mengenyangkan ketan daripada kolak atau srikaya
 
KIWA TENGEN: Laku ngiwa (perbuatan tidak baik) lebih mudah daripada perbuatan baik (nengen). Catatan: Dalam hal ini kiwa (kiri) punya makna tidak baik dibandingkan tengen (kanan).
 
KLASA BANTAL: Masih lebih nyaman tidur dengan tikar (klasa) saja daripada dengan bantal saja (lihat juga “kasur guling” dan “kasur bantal”)
 
KRAMA NGOKO: Lebih baik yang halus (krama) daripada yang kasar (ngoko)
 
KURANG LUWIH: Kebanyakan manusia selalu merasa kekurangan daripada merasa kelebihan (luwih)

L

LAKI RABI, LANANG WADON, laki-laki (laki, lanang) lebih kuasa daripada wanita (rabi, wadon)
 
LARA PATI: Lebih dahulu sakit (lara) daripada mati (pati)
 
LUMAH KUREP: Lebih mudah telentang (lumah) daripada telungkup (kurep)

M

MALANG MUJUR: Melintang (malang) lebih membuat repot orang lain daripada paralel (mujur). Contoh: Kayu melintang di jalan, orang tidur melintang di dipan.
 
MANDHEG TUMOLEH: Berhenti (mandheg) lebih dahulu baru menoleh (tumoleh)
 
MANGAN NGINUM: Setelah selesai makan (mangan) baru minum
 
MANGAN TURU, MANGAN NENDRA: Setelah selesai makan (mangan) baru tidur (turu, nendra)
 
MAS INTEN, MAS PICIS RAJABRANA: Secara umum emas (mas) lebih berharga daripada intan (intan) maupun harta benda yang lain (picis rajabrana).
 
MENANG KALAH: Manusia maunya selalu menang, hasilnya banyak yang kalah. Kenapa tidak dibalik? Manusia banyak yang kalah daripada menang? Disini yang dikedepankan adalah nafsu angkara, dan peringatan: Aja mburu menange dhewe. Jadi “menang” ditaruh di depan.

N

NABI WALI: Lebih tinggi Nabi daripada Wali
 
NGISOR NDHUWUR: Lebih mudah menyalahkan yang di bawah (ngisor) daripada yang di atas (ndhuwur).

P
 
PADHANG PETENG: Lebih dahulu terang (padhang) daripada gelap (peteng). Lihat “esuk sore, rina wengi”
 
PELEM KUWENI: Lebih mahal pelem (mangga) daripada kuweni
 
PUTRA WAYAH: lebih dahulu anak (putra) daripada wayah (cucu).
 
PETE JENGKOL: Petai (pete)m lebih banyak dimakan daripada jengkol
 
PISAH KUMPUL: Lebih mudah pisah daripada kumpul

R

RAMA IBU: Lebih berkuasa bapak (rama) daripada ibu. Lihat: Bapa biyung
 
RATU PATIH: Raja lebih tinggi kedudukannya dan lebih berkuasa daripada patih
 
ROWA RINGKES: Lebih baik luas (rowa) daripada sempit (ringkes). Lihat: “amba ciyut
 
RUPAK LONGGAR: Lebih mudah rupak (kekurangan dalam mencukupi kebutuhan) daripada longgar (tercukupi kebutuhannya)

S

SANDHANG PANGAN: Lebih tua pakaian (sandhang) daripada pangan. Dalam hal ini diambil contoh: Bayi diberi popok terlebih dahulu baru diberi minum.

SEGA IWAK, SEGA JANGAN, SEGA SAMBEL: Semuanya perlu dan suka, tetapi kalau harus memilih salah satu, pasti nasi (sega) didahulukan.
 
SENDHANG PANCURAN: Lebih banyak bermanfaat telaga (sendhang) daripada air terjun (pancuran)
 
SENDHOK POROK: Lebih diperlukan sendok daripada garpu (porok).
 
SUGIH MISKIN: Semua orang maunya kaya, tidak ada yang mau miskin

T

TUWA ANOM: Penjelasan sama dengan “gedhe cilik” pada tulisan sebelum ini
 
CANGGAH WARENG: Llebih dahulu canggah (anaknya buyut) daripada wareng (cucunya buyut)
 
CETHEK JERO: Lebih mudah menyeberangi yang dangkal (cethek) daripada yang dalam (jero)
 
CETHIL BLABA: Lebih mudah menjadi pelit (cethil) daripada suka memberi (blaba)
 
CILIK GANDHIK – GEDHE GOMBONG: Lebih berharga yang kecil ketapi kencang ototnya (cilik gandhik) daripada yang besar tetapi kendor (gedhe gombong)
 
U

UDAN ANGIN: Lebih bermanfaat hujan daripada angin

UYAH ASEM, UYAH TRASI: Lebih bermanfaat garam (uyah) daripada asam dan trasi
 

W

WEDANG PANGANAN: Dalam menjamu tamu, maka wedang (minuman) lebih perlu daripada makanan kecil (panganan)
 
WEDI WANI: Lebih banyak orang penakut (wedi) daripada pemberani (wani)
 
 
PENUTUP
 
Demikianlah daftar “tembung” (kata) dengan gandengannya yang sudah “pinathok” (dipatok) memang seperti itu dengan makna filosofisnya. Selengkapnya dan aslinya dapat Bapak Ibu baca pada Serat Warnasari, Tulisan Ki Padmasusastra, Ngabehi Wirapustaka di Surakarta, 1925 di Web Yayasan Karya Lestari, Surakarta. (IwanMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST