Thursday, February 14, 2013

KATA MAJEMUK (2): “GANDHENGING BASA” DAN MAKNA FILOSOFINYA (A)

Melanjutkan tulisan Kata majemuk (1): Banyak yang punya makna filosofi, jangan dibolak-balik penggunaannya, betul prediksi saya bahwa Darman menanyakan tentang kata-kata lain yang senada dengan “kurang luwih” tidak sampai seminggu setelah menghadiri acara khitanan yang saya ceriterakan kemarin dulu. Dia awali dengan: “Kita katakan Esuk sore, rina wengi karena pagi datang lebih awal daripada sore, dan siang muncul lebih awal daripada malam. Lainnya apa lagi, Mas?”
 
 
DAFTAR KATA YANG SUDAH JADI GANDENGANNYA DAN MAKNA FILOSOFISNYA
 
Bagaimana menata urutan kata majemuk ini, mana yang diletakkan di depan dan mana yang di belakang, bisa kita gunakan tiga kata kunci sebagai berikut:
 
Pertama: Pesan utama diletakkan di depan. Diutamakan dalam hal apa? Ini yang harus pakai “rasa” karena ada peringatan atau pesan yang tersembunyi di dalamnya. Mari kita lihat bersama-sama.
 
Kedua:  Yang “lebih” (dalam hal apa saja, berkonotasi positif maupun negatif) terkait dengan pesan utama kita letakkan di depan
 
Ketiga: Yang “ada” lebih awal mendahului yang “ada” belakangan.
 
Di bawah adalah daftar (bersumber dari Serat Warnasari, Ki Padmasusastra, 1925) yang kemudian saya email ke Darman. Sebagian yang ingat, saya sampaikan langsung, karena Darman “ngeyel” bahwa ia lebih suka mendengan “sesorah” dari manusia hidup daripada mencermati benda mati (maksudnya laptop).
 
A
 
ABANG IRENG, ABANG PUTIH, ABANG BIRU dll: Secara umum warna merah (abang) lebih disukai daripada warna yang lain. Anak kecil bila diberi mainan berbagai warna akan mengambil yang merah lebih dahulu.
 
ADHEM PANAS: Dingin lebih disukai daripada panas
 
AGAL ALUS: Lebih mudah agal (kasar) daripada halus. Bukankah kita lebih senang halus? Dalam hal ini kesenangan kalah dengan kemudahan, dan kelazimannya memang kita mengatakan “agal alus”
 
AKEH SATHITHIK: Orang lebih menginginkan banyak (akeh) daripada sedikit (sathithik)
 
ALA BECIK: lebih mudah melakukan panggawe ala (perbuatan tidak baik) daripada perbuatan baik (becik)
 
ANAK BOJO: Kita harus hati-hati menafsirkannya supaya tidak salah terima. Secara umum makhluk hidup punya instink mengembangkan keturunan. Sehingga anak akan lebih penting daripada bojo. Korbankan semua untuk anak, Anak harus dididik dengan baik, sekolahkan setinggi mungkin sehingga harkat dan martabat keluarga akan meningkat. (Lihat juga “garwa putra” di bawah).
 
ANAK PUTU: Anak lebih dahulu ada daripada putu (cucu)
 
B
 
BAPA BIYUNG: Lebih berkuasa bapa (bapak) daripada biyung (ibu)
 
BATHIIK LURIK: Kain batik lebih banyak dipakai dalam acara resmi daripada kain lurik
 
BEBED IKET: Orang bisa pergi keluar rumah hanya pakai bebed (kain panjang untuk laki-laki), tetapi tidak mungkin keluar rumah pakai iket (ikat kepala, blangkon) saja.
 
BEBEK PITIK: mengapa bebek didahulukan karena keperkasaannya. Bila kita melihat bebek yang digembalakan, maka proporsi bebek jantan terhadap bebek betina amat kecil. Katakan 1 banding 25. Ayam (pitik) jantan tidak akan mampu menandingi keperkasaan bebek. Kalau ada satu jago untuk sepuluh ayam betina sudah terlalu banyak.
 
BEGJA CILAKA: Harapan manusia hanyalah begja (keberuntungan) bukan cilaka (sial). Orang yang sedang sial (cilaka) pun akan mengharapkan suatu saat bisa begja (beruntung)
 
BENER LUPUT: Yang dicari manusia adalah bener (benar) kalau meleset jadi luput (salah). Contoh sederhana adalah mengerjakan soal ujian
 
BERAS PARI: Pari (padi) memang ada lebih dahulu daripada beras, tetapi Beras sudah menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk manusia, sedangkan pari dikatakan belum. Harus diolah lebih dahulu, bahkan sebagian kembali ke sawah menjadi benih
 
BREH GEMI: lebih mudah breh (boros) daripada gemi (hemat)
 
BUMI LANGIT: Yang kita injak adalah bumi, yang kita pandang adalah langit. Bumi lebih dekat dan nyata daripada langit.
 
BUNGAH SUSAH: Orang mengejar bungah (senang) bukan susah. Lihat “begja cilaka”
 
D
 
DHARAT LAUT: Karena manusia (utamanya Jawa) kebanyakan hidup di daratan maka akan lebih mudah berurusan dengan darat daripada di laut
 
DHEDHAK MERANG: Lebih berharga dedak daripada merang
 
DINA PASARAN: Dina (hari: Senin, Selasa, dst) adalah untuk kehidupan di kota, sedangkan pasaran (Pon, wage, dst) untuk kehidupan orang di desa. Dalam hal ini kota didahulukan. Adanya pasaran karena ada dina. Dina bisa berdiri sendiri tanpa pasaran.
 
E
 
EMPUK ATOS: Lebih enak empuk (lunak) daripada atos (keras)
 
ENDHEK DHUWUR: (sering disingkat: dhekwur): lebih kuat yang pendek (endhek) daripada yang tinggi (dhuwur). Bayangkan sebatang pohon tinggi dan pendek bila diterjang badai.
 
ENTHONG IRUS: Enthong (untuk mengambil nasi) lebih diperlukan daripada irus (untuk mengaduk sayuran waktu memasak).
 
ESUK SORE: pagi (esuk) datang lebih awal daripada sore
 
G
 
GAMPANG ANGEL: Sudah jelas, lebih mudah gampang daripada sulit (angel)
 
GARWA PUTRA: Sama dengan “anak bojo” di atas, bedanya yang ini dalam bahasa Jawa krama inggil. “Anak bojo” yang basa Jawa ngoko digunakan untuk orang kebanyakan sedangkan “Garwa putra” yang krama inggil untuk kalangan atas. Yang menarik adalah posisi katanya yang terbalik. Maknanya cukup mendalam, pituturnya pun tersembunyi dalam semu. Untuk kalangan atas (katakan pejabat) maka garwa (isteri) lebih penting daripada anak. Pejabat menjadi sorotan. Kalau berganti-ganti isteri namanya “cacat” dan menjadi sorotan publik termasuk media.  Untuk orang kebanyakan biasanya tidak berperilaku macam-macam dalam hubungan suami isteri,  maka pesannya adalah untuk lebih mengutamakan anak. Jangan sampai kurang gizi, beri pendidikan moral yang baik, sekolahkan setinggi-tingginya sehingga  kelak berguna bagi keluarga, bangsa dan negara.
 
GEDHE CILIK: Normatifnya ya sama penting. Disini penjelasannya lebih diperlukan orang besar (gedhe) daripada orang cilik (kecil) dengan mengambil contoh kalau senapati (panglima perang) gugur maka anak buah bisa tercerai berai. (Baca “kawula gusti” pada posting berikut)
 
GENDHONG PIKUL: Kalau kita melihat penjual di pasar tradisionil utamanya di desa, maka wanita membawa barangnya dengan digendong dan laki-laki dengan dipikul. Dalam hal ini wanita didahulukan daripada laki-laki. Disamping itu tingkat kesulitan menggendong lebih susah karena melekat di punggung, sehingga didahulukan daripada pikul. Berbicara dengan menggunakan kata “gendhong pikul” berarti berurusan dengan gender laki-laki dan perempuan. Bedakan dengan “nggendhong ngindhit”. Nggendhong (dibawa di belakang punggung) dan ngindhit (dibawa dengan posisi barang di pinggang) adalah cara yang umumnya dilakukan perempuan dalam membawa barang. Nilainya sama, dengan kelaziman nggendhong diletakkan di depan; adapun maknanya adalah bebasan yang menggambarkan beban manusia. Sudah nggendhong masih ngindhit.
 
J
 
JALER ESTRI: Laki-laki lebih kuasa daripada perempuan
 
JEMBAR CIYUT: Lebih berharga yang jembar (luas) daripada yang ciyut (sempit)
 
JUNGKAT SURI: Lebih awal jungkatan (bersisir) daripada suren (menggunakan serit). Catatan: Serit untuk cari kutu kepala)
 
Dilanjutkan ke KATA MAJEMUK (3): “GANDHENGING BASA” DAN MAKNA FILOSOFINYA (B)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST