Tuesday, September 4, 2012

SERAT WEDHATAMA: ORANG-ORANG YANG TIDAK MENJAGA “ILAT, ULAT DAN ULAH”

Semua orang tentunya ingin disenangi dalam pergaulan. Masalahnya yang menentukan kita disenangi atau tidak adalah orang lain. Beranikah kita mengatakan bahwa “Saya orang menyenangkan” padahal orang lain di tempat lain mengatakan bahwa kita termasuk golongan orang-orang “menyebalkan”.
 
Apakah orang “ramah” itu menyenangkan? Jawabnya ternyata “Tidak selalu harus demikian”. Ramah bisa saja menyebalkan. Apakah orang yang “blak-blakan” seperti Bima: "Cekak aos blaka suta" tidak menyenangkan? Jawabnya juga sama: “Tidak selalu harus demikian”. Blak-blakan tidak selalu menyakitkan.
 
 

ILAT, ULAT DAN ULAH: BISA MENJADI “SAMBEKALA” HIDUP
 
Ada teman yang iseng membuat “list” kriteria “menyenangkan dan menyebalkan” ternyata ia memperoleh daftar panjang yang menyebalkan. Lalu ia mencoba dengan cara lain. Dibuatnya daftar “mengapa orang tidak disenangi”. Daftarnya menjadi lebih pendek, antara lain orang yang tidak punya tepa selira, tidak empan papan, meremehkan orang lain, mendominasi, gampang tersinggung dan masih banyak juga lainnya. Tetapi dapat diringkas sesuai tips dari Sri Mangkunegara III bahwa dalam hidupnya manusia harus mampu mengendalikan “ILAT” (lidah), “ULAT” (ekspresi wajah) dan “ULAH” (perilaku). Ketiga hal tersebut bila tidak dikendalikan bisa menjadi SAMBEKALA (halangan) bagi manusia dalam hidupnya sebagai anggota masyarakat yang harus bermasyarakat.
 
Dalam bergaul maupun melaksanakan pekerjaan, kita harus menggunakan ketiga hal tersebut: Ilat, ulat dan ulah secara sinkron. Meminjam istilah lama dulu: Selaras, serasi dan seimbang. Ilat, ulat dan ulah seharusnya menjadi cerminan dari kepribadian kita. Bukan sesuatu yang dibuat-buat. Bukan sesuatu yang tempelan seperti bedak. Karena kalau terlalu tebal, akan seperti topeng. Kalau topeng lepas, menjadi kembali seperti aslinya.
 
 
CONTOH DARI SERAT WEDHATAMA:

Serat Wedhatama yang tujuannya mendidik putra-putri (Pupuh pangkur bait 1: akarana karenan mardi siwi) banyak memberikan contoh tentang hal ini, antara lain sebagai berikut:

1.    Pupuh Pangkur bait 4: si pêngung nora nglêgewa;  sangsayarda dènira cêcariwis; ngandhar-andhar angandhukur; kandhane nora kaprah;  saya elok alôngka-longkanganipun; si wasis waskitha ngalah | ngalingi marang si pingging

2.    Pupuh Pangkur bait 5: mangkono ngèlmu kang nyata; sanyatane mung wèh rêsêping ati; bungah ingaranan cubluk; sukèng tyas yèn dèn ina;  nora kaya si punggung anggung gumunggung;  ugungan sadina-dina;  aja mangkono wong urip

3.    Pupuh Pangkur bait 6: uripe sapisan rusak; nora mulur nalare ting saluwir; kadi ta guwa kang sirung; sinêrang ing maruta; gumarênggêng anggêrêng anggung gumrunggung; pindha padhane si mudha; prandene paksa kumaki

4.    Pupuh Pangkur bait 8: socaning jiwangganira; jêr katara lamun pocapan pasthi; lumuh asor kudu unggul; sumungah sêsongaran; yèn mangkana kêna ingaran katungkul; karêm ing rèh kaprawiran; nora enak iku kaki

5.    Pupuh Pucung bait 6: durung pêcus kasusu kasêlak bêsus; amaknani rapal; kaya sayid wêton Mêsir; pêndhak-pêndhak angêndhak gunaning janma

6.    Pupuh Pucung bait 13: nora uwus karême anguwus-uwus; uwose tan ana; mung jangjine muring-muring; kaya buta butêng bêtah nganiaya

7.    Pupuh Pucung bait 15: durung punjul ing kawruh kasêlak jujul; kasêsêlan hawa; cupêt kapêpêtan pamrih; tangèh nêdya anggambuh mring Hyang Wisesa

 
Dari pupuh Pangkur dan Pucung di atas dapat dilihat contoh-contoh orang yang tidak bisa menjaga “ilat, ulat dan ulah” seperti:

- banyak ngomong besar yang tidak masuk akal (butir 1),
- omong besar dan ingin dipuji-puji (butir 2),
- omong besar dan “kemaki” (butir 3),
- omong besar, sombong dan tidak mau kalah (butir 4),
- Belum punya kemampuan tetapi merasa sudah hebat dan meremehkan kemampuan 
  orang lain (butir 5),
- suka bicara yang tidak ada isinya, marah-marah dan melukai hati orang (butir 6).
- Adapun butir 7 sama maknanya dengan butir 5: belum mampu sudah menunjukkan  
  bahwa ia mampu.
 
 
KESIMPULAN
 
Dari tujuh bait tembang Pangkur dan Pucung di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.    Hidup janganlah seperti itu (aja mangkono wong urip). Ingat bahwa hidup kita adalah untuk menyenangkan hati sesama (sanyatane mung wèh rêsêping ati). Jangan terlena (yèn mangkana kêna ingaran katungkul). Hal itu tidak baik (nora enak iku kaki)

2.    Kasihanlah orang yang demikian. Hidup satu kali saja rusak, tidak berkembang dan akal sehatnya tercerai-berai (uripe sapisan rusak; nora mulur nalare ting saluwir)

3.    Mereka adalah orang yang dipengaruhi hawa napsu dan jiwanya sempit tertutup pamrih (kasêsêlan hawa; cupêt kapêpêtan pamrih). Tidak mungkin menjadi orang yang dekat kepada Tuhan (tangèh nêdya anggambuh mring Hyang Wisesa)

 Bila dalam pergaulan hidup sehari-hari kita ketemu orang yang tidak mampu menata “ilat, ulat dan ulah”nya apa yang kita lakukan? Cukup ngalah atau ngalingi supaya yang bersangkutan tidak kehilangan muka, seperti pesan Sri Mangkunegara IV dalam dua baris terakhir pupuh Pangkur bait ke empat: ; si wasis waskitha ngalah | ngalingi marang si pinggingDapat dibaca di  Serat Wedhatama: Walau hati tidak senang tetaplah “sinamun ing samudana sesadon ingadu manis
(IwMM).

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST