Monday, January 16, 2012

SERAT WEDHATAMA: SINAMUN ING SAMUDANA, SESADON INGADU MANIS



Pengertian "samudana" adalah wajah yang "sumeh" atau ramah walaupun mungkin perasaan hatinya tidak senang. "Samun" artinya adalah "tidak kentara". "Disamun" atau "sinamun" berarti disamarkan. Dengan demikian pengertian "sinamun ing samudana" adalah menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dengan tetap menunjukkan ekspresi wajah "ramah" atau bersahabat.

"Sadu" adalah bicara dengan manis. "Adu" artinya berhadapan. Jadi kalau Samudana adalah sikap tubuh atau bahasa tubuh kita, kita maka dalam hal ini melalui "sesadon ingadu manis" tidak hanya dituntut sikap saja yang "sumeh" tetapi juga bicara kita harus paralel dengan kesumehan tersebut. Tetap lembut, tetap manis, tetap bersahabat


RESEP MENGHADAPI ORANG YANG "GUGU KAREPE PRIYANGGA"


Seperti apa orang yang nggugu karepe dhewe (gugu karepe priyangga) dapat dipirsani  pada bait ke 3 pupuh Pangkur, Serat Wedhatama di atas: Ngomong (angling) tanpa pertimbangan (nora nganggo peparah). Tapi tidak mau dikatakan bodoh (lumuh ingaran balilu). Maunya dipuji-puji (guru aleman). 

Karena tidak ada yang memperingatkan, atau mungkin juga ia tidak mau mendengar nasihat orang lain maka semakin kacau-balaulah dia. Dalam hal ini Sri Mangkunegara mengingatkan kepada "janma ingkang wus waspadeng semu" (manusia yang mengerti gelagat) supaya berperilaku "sinamun ing samudana, sesadon ingadu manis"

Hanya orang yang sudah mengendap saja lah kira-kira yang mampu melakukan "sinamun ing samudana" sekaligus "sesadon ingadu manis". Pertanyaannya adalah: Mengapa mesti samudana, kok  tidak kita labrak saja orang seperti ini. Jawabnya ada pada bait ke empat di bawah:


Si dungu (pengung) tidak menyadari (nora nglegewa); Omongannya semakin banyak (sangsayadra denira cecariwis) dan semakin tinggi (ngandhar-andhar angandhukur), tidak masuk akal (nora kaprah saya elok alongka-longkanganipun). Pokoknya  Bicara makin ngelantur, makin aneh, makin tidak masuk akal dan tidak ada putusnya.

Itulah celakanya orang yang suka menuruti maunya sendiri. “Saya suwe saya ndadi”, makin lama bukannya menjadi ngati-ati malah makin "ndadi". Yang mendengar sebenarnya amat sebal, tetapi bagaimanapun ingat pesan Sri Mangkunegara IV: Bersikaplah “sinamun ing samudana” plus  "sesadon ingadu manis".

Perlu dicatat bahwa "samudana BUKAN LAMIS. Lamis adalah "manis di mulut buruk di hati" sedangkan "samudana" adalah "manis di mulut manis di hati" bukan mengandung maksud terselubung termasuk mengambil hati. Tujuan kita bersamudana hanyalah untuk menjaga situasi dan yang terpenting adalah menutupi aib orang (ngalingi marang si pingging).


SI WASIS WASKITHA NGALAH

Masih satu lagi pesan Sri Mangkunegara IV: "Si wasis waskitha ngalah". Yang memang berilmu (wasis) ya yang "waskitha", yang mengerti situasi, maka: ngalah saja lah. Tidak sampai di situ saja, kita tidak perlu mempermalukan orang tolol itu, justru kita alingi supaya tidak mendapat aib dimuka umum (ngalingi marang si pingging). Yang merasa pandai dan betul-betul pandai, lebih baik mengalah. Kenyataannya  memang hanya buang-buang energi. Menang debat pun tidak ada hasilnya.


PENUTUP

Dalam bahasa yang lebih sederhana: Buat apa meladeni orang tolol seperti itu. “Kalah wirang. Menang ora kondang”, kita menang pun tidak akan tenar, sebaliknya kalau kalah malu-maluin.  Dalam bahasa yang lebih populer: “Yang waras, ngalah”. Kata kunci disini: Sinamun ing samudana; Sesadon ingadu manis; Si wasis waskitha ngalah. (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST