Sunday, September 2, 2012

SERAT WEDHATAMA: ORANG-ORANG YANG “LUMUHAN”


Pengertian LUMUH secara umum adalah tidak mau melakukan sesuatu pekerjaan atau hal tertentu. Bisa bermakna baik apabila yang kita “lumuhi” adalah hal-hal buruk, misalnya "lumuh Ma Lima". Sebaliknya bisa bermakna buruk apabila yang kita “lumuhi" hal-hal baik,misalnya "lumuh shodaqoh".

Tetapi apakah pengertiannya begitu exact seperti rumus matematika? Bahwa kalau kita “lumuh” melakukan yang tidak baik, berarti kita baik, dan kalau lumuh melakukan  yang baik berarti tidak baik? Ternyata tidak harus demikian.


LUMUH DIKATAKAN BODOH

Orang yang tidak mau dikatakan bodoh sebenarnya orang pandai atau orang yang ingin dikatakan pandai? Kalau dia termasuk orang yang ingin dikatakan pandai padahal tidak pandai, berarti ia rugi. Pengetahuannya tidak akan bertambah karena ia menjadi enggan (lumuh) bertanya. Padahal tidak ada orang yang “mumpuni” 100 persen. Pasti ada kekurangannya. Mengapa orang ogah tanya bisa macam-macam sebabnya. Bisa karena usia yang lebih tua, bisa juga karena ia pimpinan, sehingga “lumuh” tanya kepada yang lebih muda atau yang lebih rendah pangkatnya. Dapat dibaca di Kebo (2): Kebo Nyusu (Nusu) Gudel.


Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama, pupuh Pangkur bait ke 3 menyebutkan bahwa orang yang menuruti kemauan sendiri, akan ngomong tanpa dipikir panjang (gugu karepe priyangga; nora nganggo peparah lamun angling)  tapi tidak mau dikatakan bodoh (lumuh ingaran balilu). Lengkapnya sebagai berikut:

Kalau ada orang mengatakan kita bodoh, jangan cepat marah. Sebaiknya kita “mulat sarira” dulu. Kalau memang ada kekurangan, ya kita perbaiki. Perlu diingat bahwa orang yang benar-benar pandai, dia tidak akan  “lumuh ingaran balilu”. Oleh sebab itu ilmunya semakin meningkat.


LUMUH KALAH

Orang yang tidak mau “kalah” berarti ia harus selalu “menang”. Hal ini membuat hidup orang menjadi tidak bahagia, dapat dibaca pada tulisan Bungah lan Susah (5): Dirusak oleh“meri” dan “pambegan” Beberapa contoh “lumuh kalah” antara lain:

  1. Kalah bicara: kalau lawan bicaranya punya sifat yang sama, bisa berlanjut adu tinju. Bagi orang yang mendengar dan kebetulan punya sifat provokator dan hobi mendengar orang yang “waton sulaya”  ia akan memanas-manasi biar semakin rame. Sebaliknya bila lawan bicaranya sudah mengendap, terhadap orang yang seperti ini ia akan memilih ngalah atau ngalih (baca: Serat Wedhatama: “Yang waras ngalah”) 
  2. Kalah drajat dan kalah kaya: Ini lebih celaka lagi karena ia akan berupaya keras untuk tampil sebagai orang yang berderajat tinggi dan kaya. Padahal modalnya cupet. Hidupnya senantiasa dihantui rasa “meri” dan “pambegan” [baca: Bungah lan susah (5) dirusak oleh “meri” dan “pambegan”]. Hutangnya mungkin menjadi banyak, stressnya bertambah berat dengan berbagai akibatnya.
 

Sri Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama pupuh Pangkur bait ke 8 seperti pada gambar di samping, menyebutkan bahwa cerminan jiwa kita (socaning jiwangganira) dapat dilihat dalam ucapan kita (jer katara lamun pocapan pasthi), yang tidak mau kalah dan  harus menang (lumuh asor kudu unggul), bicaranya sombong, mentang-mentang (sumungah sesongaran). Orang seperti itu dapat dikatakan terlena (katungkul) dengan keberaniannya (reh kaprawiran). Tidak enak hal seperti itu, anakku.


LUMUH DIKATAKAN JELEK

Tidak mau dikatakan jelek, harus selalu baik. Berarti harus dibuat supaya "baiknya" selalu  kelihatan. Padahal orang yang baik betul tidak pernah mau mengungkap-ungkap kebaikannya. Karena ia tidak mau menjadi “riya”, suatu perbuatan yang dibenci Allah.

Orang yang baik karena “lumuh” dikatakan jelek justru ia mengarah ke jelek, karena perbuatan baiknya kemungkinan mengandung maksud tertentu (baca: Rame ing gawe dan sepi ing pamrih). Di sisi lain, kalau kemudian ada yang mengingatkan atau memberi teguran bahwa ia “jelek” maka ia akan marah-marah, karena selama ini yang ia tahu, hanya “baik” saja yang ada pada dirinya. Orang seperti ini patut dikasihani.



Orang yang tidak mau dikatakan jelek alias “lumuh ala” ini juga disebut dalam Serat Wedhatama, pupuh Pucung bait ke 14 seperti pada gambar sebelah.

Pengertiannya kurang lebih: Semua yang tidak baik dalam dirinya (sakeh luput ing angga) senantiasa ditutup (tansah linimput), ditutupi  dengan kata-kata (linimput ing sabda); merasa tidak ada yang mengetahui (narka tan ana udani); orang yang lumuh dikatakan jelek ini (lumuh ala); nafsunya (arda) adalah senjatanya (gada: alat pemukul).


PENUTUP

Watak “lumuh ingaran balilu, lumuh asor dan lumuh ala” ibaratnya orang yang berambisi memperoleh “Piala Citra” tetapi yang didapat sebenarnya “Piala Cedera”. Oh ya, “lumuh makarya” (enggan bekerja) tidak disebut dalam Serat Wedhatama. Barangkali pada era Sri Mangkunegara IV tidak ada orang pemalas, mungkin juga beliau berpendapat terlalu simple penyelesaiannya. Orang kalau “diarani lumuh makarya” maka ia akan berupaya menujukkan kalau dia kerja. Kan malah bagus jadinya (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST