Wednesday, June 20, 2012

MANUNGSA DHEMEN ENAK LAN KAPENAK, NANGING KUDU NUKONI KANGELAN


Judul di atas adalah tulisan R Kartawibawa, Tulungagung dalam buku Gagasan Prakara Tindaking Ngaoerip, cetakan Balai Pustaka, 1921 kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih menjadi “Manusia suka hidup enak tetapi harus dibeli dengan kesulitan”, merupakan ungkapan sederhana yang maknanya sama dengan “Jer Basuki Mawa Beya

Apa yang disampaikan R Kartawibawa tidak muluk-muluk, saya terjemahkan bebas sebagai berikut.

Hidup manusia tentunya ingin serba enak. Enak yang dimakan, enak yang didengar, enak yang dirasakan. Imbangan dari enak itu kesulitan (Kepenak iku timbangane kangelan). Sebenarnya antara enak dan tidak enak itu sama saja. Hanya beda dari apa yang kita rasakan saja, batasnya tidak ada. Kalau tidur itu enak, cobalah tidur selama tiga hari tanpa terbangun. Kalau orang tidak pernah tahu apa yang dimaksud tidak enak, darimana dia bisa tahu rasanya enak? Oleh sebab itu siapa saja yang ingin merasakan enak, harus pernah merasakan tidak enak terlebih dahulu. Merasakan beratnya orang mengalami kesulitan.

Enak menurut pendapat saya (R Kartawibawa) adalah: Utuhnya tubuh dari makan cukup dan pakaian utuh; Badan sehat, mampu menggerakkan tubuh secara maksimal; Mendengar ucapan-ucapan yang cocok dengan hatinya (pujian). Enak dan pujian sering menimbulkan pamrih yang merugikan orang lain tetapi manfaatnya besar. Perlu jadi pegangan karena manusia kalau tidak memiliki keinginan ini bisa mengacaukan negara, tidak ada peraturan, tidak ada orang nekad, tidak ada orang mau belajar dan tidak ada kemajuan.

Catatan saya: Orang suka dipuji ini tidak baik. Dalam hal ini R Kartawibawa memandang dari sudut lain. Adanya orang yang ingin enak dan ingin dipuji ini (bukankah kita semua demikian?) merupakan "motivator" untuk meningkatkan daya saing, orang akan berlomba belajar dan berkarya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya, sekaligus mendapat penghargaan atas prestasinya. Negara harus mengelola hal ini dengan baik, tentunya dengan aturan-aturan sehingga yang diperoleh adalah kemajuan bukan pertikaian. Pengertian pangalembana disini lebih tepat diterjemahkan sebagai pengakuan daripada pujian. Kita lanjutkan lagi dengan tulisan R Kartawibawa yang menjelaskan lebih lanjut:

Mengingat sekarang ini jaman kemajuan, kejarlah hal-hal tersebut: “Enak, kepenak dan pangalembana (pujian)” dengan catatan: “Tidak menyakiti orang lain (jadi sifat tenggang rasa tetap dipegang. Baca juga Tepa selira dan Ngono ya ngono ning aja ngono).

Orang yang suka mendapat apresiasi bagaimanapun akan tumbuh keberaniannya dan membulatkan tekad. Gunung tinggi yang belum pernah dirambah manusia akan dia daki. Berani bertanding dengan lawan yang sudah terkenal tanpa tanding. Belajar ilmu yang sulit-sulit. Mengambil risiko yang menantang bahaya. Tujuannya ingin diakui prestasinya

Orang ingin punya anak pandai, maka ia tidak segan-segan untuk menyekolahkan anaknya (untuk ukuran sekarang barangkali menyekolahkan anak ke luar negeri, ke sekolah favorit, mengikutkan anak ke pendidikan tambahan di luar sekolah yang sekarang bertebaran dimana-mana). Orang ingin dihormati lalu mencari sarana supaya menjadi “priyayi”. Orang ingin punya uang banyak, makan kenyang dan berpakaian baik lalu berdagang, mendirikan pabrik, supaya mendapat keuntungan banyak. Ingin anak cucunya berbahagia lalu bekerja keras siang malam supaya memperoleh keuntungan banyak, sebagian uangnya ditabung untuk keperluan keturunannya. Orang ingin santai di rumah dengan nyaman lalu banting tulang supaya bisa membangun rumah bagus lengkap dengan perabotnya. Orang yang ingin kelihatan lebih tampan atau lebih cantik lalu berhias. Demikian pula orang yang ingin setelah mati masuk sorga akan meningkatkan amal dan ibadahnya.

Demikianlah apa yang disampaikan R Kartawibawa. Berangkatnya memang dari motivasi manusia yang ingin enak dan diakui. Tetapi semuanya harus diperoleh melalui tidak enak atau kesulitan lebih dahulu. Manungsa dhemen enak lan kapenak, nanging kudu nukoni kangelan. Tidak ada dalam kamus kalimat “Thenguk-thenguk nemu kethuk”. Penjelasan sederhana dari “Jer Basuki Mawa Beya” (IwMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST