Sunday, March 10, 2013

PANYANDRA: PEPINDHAN UNTUK SESUATU YANG KHUSUS (4): MINUM


Orang Jawa dulu mungkin banyak yang suka minum bahkan sampai mabok. Orang pesta dengan “tayuban” juga bisa plus “miras”. Tanpa “miras” mungkin menarinya tidak seru. Serunya menari sebenarnya karena orang sudah “wuru” atau mabuk.
 
Banyak tulisan dalam buku-buku lama berbahasa Jawa yang membahas kejahatan minuman keras. Bahkan perilaku orang yang minum mulai dari satu “dhasar” (satu bumbung kecil atau satu sloki) sampai sepuluh dhasar ada panyandranya.
 
Tulisan ini adalah lanjutan Panyandra: Pepindhan untuk sesuatu yang khusus (3): Musim. Telah dijelaskan: Secara umum “panyandra” adalah “pepindhan” khusus. Misalnya bagian tubuh manusia (khususnya wanita, dan lebih khusus lagi yang dinilai “indah). “Panyandra” juga diberikan untuk menggambarkan suatu keadaan. Misalnya “panyandra untuk musim” dalam “pranatamangsa” Jawa, demikian pula panyandra gambaran orang minum (minuman keras) mulai satu sloki sampai sepuluh sloki.
 
Panyandra orang minum, dijelaskan secara runtut (Merujuk “Serat Bauwarna”, Ki Padmasusastra, 1898 dan “Majalah Kejawen”, Balai Pustaka, 14 januari 1928),  dalam 10 tahapan sebagai berikut:
 
 
SEPULUH TAHAPAN MABOK
 
 
MINUM “SADHASAR”: EKA PADMASARI
 
Eka: Satu; Padma: Bunga teratai; Sari: Bisa berarti bunga atau indah. Orang yang minum satu sloki (sadhasar) ibaratnya bunga teratai yang indah. Alkohol masih dalam pengaruh yang baik. Orang yang minum menyenangkan dalam pergaulan, ibarat bunga yang indah
 
MINUM “RONG DHASAR”: DWI AMARTANI
 
Dwi: Dua; Martani: Memberi kabar, menghibur. Orang yang minum habis dua sloki (rong dhasar) bicaranya masih baik dan menyenangkan.
 
MINUM “TELUNG DHASAR”: TRI KAWULA BUSANA
 
Tri: Tiga; Kawula: Abdi; Busana: Pakaian. Orang yang minum tiga sloki (telung dhasar) ibaratnya pembantu yang hari-hari berpakaian sederhana, kini berbusana (indah). Mulai kehilangan rasa minder, dan berani berdekatan dengan tuannya. Pada “sloki ke tiga” ini pengaruh buruk alkohol mulai tampak. Mestinya ia menghentikan pada sloki ke dua, pada tahap “Dwi amartani”. Tetapi siapa yang mampu mengendalikan diri kalau teman minumnya banyak? Maka masuklah kita pada tahap ke empat
 
MINUM “PATANG DHASAR”: CATUR WANARA RUKEM
 
Catur: Empat; Wanara: Kera; Rukem: Tanaman yang buahnya enak. Orang yang minum habis empat sloki (patang dhasar) ibaratnya kera rame-rame makan buah-buahan. Betapa kacaunya. Pasti berebut dan suaranya riuh rendah.
 
MINUM “LIMANG DHASAR”: PANCA SURA PANGGAH
 
Panca: Lima; Sura: Berani; Panggah: Kokoh, tidak bergeming. Orang yang minum habis lima sloki (limang dhasar) pasti menjadi amat berani dan tidak pakai perhitungan lagi. Walaupun badannya kurus kering ia akan berani menantang orang yang tinggi besar. Disini keberanian timbul karena akal sehat sudah tergusur dari otaknya.
 
MINUM “NEM DHASAR”: SAD GUNA WEWEKA
 
Sad: Enam; Guna: Kemampuan, kelebihan; Weweka: Kewaspadaan. Orang yang minum habis enam sloki (nem dhasar) kewaspadaan meningkat dengan manifestasi gampang curiga. Gerak-gerik orang lain bisa dianggap ancaman, pembicaraan orang lain bisa dikira “ngrasani buruk” tentang dia. Karena pada sloki ke lima keberaniannya meningkat, dapat dibayangkan apa yang terjadi kalau ia curiga pada orang lain
 
MINUM “PITUNG DHASAR”: SAPTA KUKILA WARSA
 
Sapta: Tujuh; Kukila; Burung; Warsa: Salah satu arti “warsa” adalah “hujan”. Orang yang minum habis tujuh sloki (pitung dhasar) ibaratnya seperti burung kehujanan. Badan gemetar, mengeluarkan suara-suara tidak jelas.
 
MINUM “WOLUNG DHASAR”: ASTA SACARA-CARA
 
Asta: Delapan; Cara: Perilaku. Orang tang minum habis delapan sloki (wolung dhasar) perilakunya sudah rusak samasekali. Ia akan bicara sembarangan, hilang rasa malunya. Kalau ada yang memancing, semua rahasia bisa keluar tanpa disadarinya. Kalau sudah sampai disini barangkali diteruskan saja sampai tahap berikutnya
 
MINUM “SANGANG DHASAR” NAWA WAGRA LAPA
 
Nawa: Sembilan; Wagra: Macan; Lapa: kelaparan. Orang yang minum habis sembilan sloki (sangang dhasar) ibaratnya harimau yang kelaparan, dalam pengertian sudah lemah karena lama tidak makan. Orang sudah menjadi lesu, lemah, tanpa daya. Keberingasan sudah hilang samasekali.
 
MINUM “SAPULUH DHASAR” DASA BUTA MATI
 
Dasa: Sepuluh; Buta: Raksasa; Mati: Mati. Orang yang minum habis sepuluh sloki (sapuluh dhasar) ibaratnya raksasa yang sudah mati. Ibarat bangkai raksasa. Biar besar dan semula galak, tidak ada yang takut lagi.
 
 
LIDING DONGENG
 
Yang disebut “wuru dawa” adalah orang mabok yang ngelantur. Ini bisa bicara macam-macam, mulai omong yang biasa-biasa, yang lucu, yang saru,  sampai yang rahasia).
 
Tanda-tanda mabok muncul pada sloki ke tiga. Jadi kalau mau minum alkohol harus pakai deduga dan prayoga. Pertimbangannya (deduga) bagaimana dan sebaiknya (prayoga) bagaimana. Hasilnya pasti “Prayogane aja nginum” (sebaiknya tak usah minum), daripada mabok dan kecanduan
 
Kalau tidak mampu mengendalikan diri (dan umumnya manusia demikian) tidak usahlah minum, karena di pesta seperti itu pasti kita akan ditantang, dan menjadi panas. Lama-kelamaan syaraf dan organ tubuh pun rusak, khususnya hati (liver) dan ginjal. Ingat bagian terakhir adalah DASA BUTA MATI. Awalnya memang “seperti” raksasa mati, lama-lama mati betulan.
 
Kita sudah diingatkan melalui “panyandra” orang yang minum. Mulanya seindah “PADMASARI” sehingga lupa pada akhir yang amat tidak menyenangkan, yaitu “BUTA MATI”. Ingat wewaler Sri Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh: Jangan mabok-mabokan .... lawan ana waler malih, aja sok anggung kawuron ...” (IwanMM)

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST