Saturday, February 2, 2013

PITUTUR DALAM SERAT WEDHATAMA DAN SERAT WULANGREH (1): PITUTUR SEORANG BAPAK ATAU YANG DITUAKAN

Beberapa hari yang lalu saya ketemu teman lama yang hampir 30 tahun tidak jumpa, di ruang tunggu Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Waktunya cukup lama karena kita datang agak awal dan pesawat delay. Bicara ngalor-ngidul lama-lama sampai ke Serat Wedhatama dan Wulangreh. Ada pertanyaan dari teman saya yang intinya adalah: “Dalam Serat Wedhatama dan Serat Wulangreh, Sunan Pakubuwana IV dan KGPAA Mangkunegara IV berbicara sebagai siapa? Seorang Bapak atau seorang Raja?

Saya agak ragu menjawabnya. Teman yang satu ini dulu terkenal suka eyel-eyelan dan eyelannya selalu “evidence base”, berbasis bukti. Kalau disini penyakit lamanya kambuh, bisa-bisa tidak dengar panggilan naik ke pesawat. Ia melanjutkan kata-katanya: “Gini, Wan. Kalau beliau bicara sebagai Raja, apa ya diikuti sama rakyatnya. Jaman dulu dan jaman sekarang rasanya nggak beda. Kalau sekarang Presiden bicara tidak didengarkan, mestinya dulu raja bicara juga gak direken”.

“Ah, kamu pasti sudah baca kedua Serat itu, from A to Z. Kan bisa baca bahwa beliau bicara sebagai seorang bapak sekaligus sebagai orang dituakan yang kebetulan seorang Raja. Tak ada kalimat perintah disitu. Yang ada hanya teguran dan himbauan.”

Betul dugaan saya bahwa ia butuh bukti. Dia keluarkan iPad dari tasnya dan membuka file. “Ini, wan. Tembang yang mana yang bicara itu. Boarding masih setengah jam dan aku tidak akan ngeyel kali ini”.
 

SERAT WEDHATAMA

Jelas sekali bahwa kedua Serat ini adalah pitutur seorang Bapak kepada anaknya. Serat Wedhatama diawali dengan pupuh Pangkur, yang pada bait pertama baris pertama dan kedua menyebutkan: “Guna menghindari (mingkar-mingkur) sifat angkara, karena keinginan untuk mendidik anak (mardi siwi)”. Maka jelas bahwa tujuan Serat Wedhatama adalah untuk memberikan pendidikan kepada anak, dan Sri Mangkunegara IV memang senang (karenan) mendidik.

Bila kita lanjutkan ke baris ke 3 dan seterusnya, disebutkan bahwa pitutur yang diberikan ditata dalam keindahan sebuah tembang (sinawung rêsmining kidung) yang amat dihormati (sinuba sinukarta), dalam upaya memperoleh ilmu yang luhur. Yang di tanah Jawa, agama merupakan agêming aji(pegangan tertinggi).

Intinya, pitutur yang merupakan ilmu luhur tersebut ditata  dalam sebuah tembang indah sehingga yang mempelajari akan senang dan merasa mudah. Dasar dari ilmu tersebut adalah agama, karena di tanah Jawa, agama adalah yang paling tinggi dan paling dihormati. Semua karena keinginan dan kesenangan mendidik anak, supaya terhindar dari sifat angkara.

Lengkapnya pupuh Pangkur bait pertama tersebut sebagai berikut:

mingkar-mingkuring angkara | akarana karênan mardi siwi | sinawung rêsmining kidung | sinuba sinukarta | mrih krêtarta pakartining ngèlmu luhung | kang tumrap nèng tanah Jawa | agama agêming aji || (Serat Wedhatama, Pangkur: 1)

 

SERAT WULANGREH

Berbeda dengan Serat Wedhatama, bahwa pitutur tersebut berasal dari seorang Bapak kepada anak-anaknya pada Serat Wulangreh kita dapatkan pada pupuh terakhir, yaitu pupuh Girisa, bait ke 1, 21 dan 22.

Pada bait pertama disebutkan: Anak cucu supaya memperhatikan pitutur si Bapak, jangan ada yang sembrono dengan piwulang orang tua, pakailah secara lahir dan batin, supaya sentausa dan teguh di hati (tyas, nala).

Intinya: kepada anak cucu supaya memperhatikan, jangan sembrono, pakailah dan terapkan lahir batin supaya jiwa sentausa.

Lengkapnya bait pertama pupuh Girisa sebagai berikut:

anak putu dèn èstokna | warah wuruke si bapa | aja na ingkang sêmbrana | marang wuruke wong tuwa | ing lair batin dèn bisa | anganggo wuruking bapa | ing tyas dèn padha santosa | têguhêna jroning nala || Serat Wulangreh, Girisa: 1

Pada bait ke 21 dijelaskan mengapa Sri Pakubuwana IV memberikan pitutur: Saya ini semisal matahari, sudah hampir tenggelam di sebelah barat. Sudah jauh dari tempat terbitnya. Berapa lama orang hidup di dunia, umur manusia tidak sampai seratus tahun.

Dapat kita lihat bahwa dalam hal ini Sri Pakubuwana IV merasa sudah tua. Pitutur harus tinular. Oleh sebab itu Sri Pakubuwana IV memberikan pitutur. Kita baca bait ke 22 pupuh Girisa: Oleh sebab itu saya ajarkan kepada semua anak-anakku. Saya tulis dalam sebuah tembang, supaya semua senang membacanya, serta dapat merasakan ceriteranya. Hapalkan, jangan bosan, ingatlah baik siang maupun malam.

Lengkapnya bait ke 21 dan 22 pupuh Girisa adalah sebagai berikut:

 
21. wak ingsun upama surya | lingsir kulon wayahira | pêdhak mring surupe uga | atêbih maring timbulnya | pira lawase nèng dunya | ing kauripaning janma | môngsa nganti satus warsa | iya umuring manungsa ||
 
22. mulane sun muruk marang | kabèhe atmajaningwang | sun tulis sun wèhi têmbang | darapon padha rahaba | ênggone padha amaca | sarta ngrasakkên carita | aja bosên dèn apalna | ing rina wêngi elinga ||

Wulangreh, Girisa: 21-22
 


KESIMPULAN

Jelas sekali bahwa Serat Wedhatama dan Serat Wulangreh keduanya diarahkan untuk mendidik anak. Sebagai Bapak, kita tidak perlu ragu-ragu untuk menerapkannya. Pertama, secara umum memang pituturnya amat baik, dan kedua supaya anak-anak kita tidak kehilangan “raos Jawi”nya.

“Kalau sebagai pimpinan kepada bawahan bagaimana, Wan?” Dia bertanya bersamaan dengan panggilan kepada penumpang GA 217 tujuan Jakarta untuk naik pesawat.

Saya jawab sambil mengemasi bawaan: “Sepanjang anak buah masih panggil Bapak kepadamu, do it!”

“Memangnya panggil Oom?”. Dia berikan kartu nama yang ada alamat emailnya: “Kalau masih belum selesai, kamu email saja, Wan”. Memang masih ada yang kurang, kami duduk tidak bersebelahan. Disamping waktu check in tidak bareng, dia duduk di kelas Bisnis sementara saya duduk di kelas Ekonomi. Di udara saya tulis apa yang masih harus saya sampaikan kepadanya: PITUTUR DALAM SERAT WEDHATAMA DAN SERAT WULANGREH (2): NYREMPET ORANG TUA (IwanMM)

Catatan: Pitutur-pitutur kepada orang muda dapat dibaca pada link Kawula Muda

No comments:

Most Recent Post

POPULAR POST